Di sini Ceritanya Wongsello


Rabu, 03 Januari 2018

Sajak Tanya


        WWW. "What We Want?" : Seni Abstrak



Berapa dunia telah kau tempati

Berapa alam telah kau  singgahi

Berapa langit telah kau lewati

Berapa lautan telah kau seberangi

Berapa gunung telah kau daki

Berapa jurang telah kau terjuni

Berapa belantara telah kau jelajahi

Berapa malam telah kau lalui

Berapa buku telah kau habiskan

Berapa cangkir kopi telah kau seduhi

Lalu aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu

Setelah menempuh semua itu

Kebijaksanaan seperti apa yang sudah kau dapati? 
Share:

Senin, 01 Januari 2018

Musim Kok Disalahkan


                              Republika Online 

Dingin ya.. 
Iya, kenapa ya sekarang banyak orang yang flu dan meriang? 
Emang musimnya kok, ya wajar. 
Em gitu ya..


Pernah mendengar percakapan seperti itu?

Saya yakin banyak yang pernah mengalami dan bahkan mungkin kita sendiri yang mengatakannya. Akan tetapi, jika dikejar lagi apakah kalimatnya berhenti disitu? Kalau hanya melihat sebatas dan sesederhana itu mana mungkin dapat kesimpulan padat yang positif. Alih-alih untuk menganalisa  dan menyimpulkan keadaan malah memberi pengawuran dalam meregulasi kahanan.
Satu yang pasti, musim itu buatan Tuhan. Karena manusia tidak mungkin bisa melakukan hal yang sebesar itu, maka itu bagian peranan Tuhan dalam menyeimbangkan semesta raya ini. Baik, mengenai persoalan musim yang di kambing hitamkan jadi penyebab sakit atau musibah seseorang menurut saya seperti ini.

Ada rumus yang mengatakan "Robbana ma kholaqta hadza bathila" Sungguh tiada yang sia-sia dalam penciptaan ini. Berangkat dari sudut pandang itu saya mencoba mengelaborasi dan mengamati apa yang Tuhan katakan. Jelas, bahwa semua yang ada di dunia semua ini tak ada yang sia-sia, jadi jika ditarik kesimpulan singkat padat musim itu dari Tuhan yang disampaikan melalui gejala alam yang telah membaca formula-Nya.
Kalau tiba-tiba saja kita menuduh musim karena menyebabkan penyakit dan lain-lain apa itu tidak kelewat berani untuk mengatakan jika Tuhan menyebabkan sakit dan musibah. Dalam artian kita menyalahkan Tuhan dengan segala kepastian-Nya. Okelah memang semua dari Tuhan, sehat maupun sakit, tapi bukan berarti kita menyalahkan setiap keadaan. Kita coba cek dulu sudah bekerja all out apa belum, potensi kita sudah Mentok apa belum?!.

Menurut saya, bergantung bagaimana kita menyikapi dan menjaga diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Lha wong kita yang lemah dan bodoh kok menyalahkan musim terkait penyebab terjadinya penyakit. Kalau kita bisa antisipasi dengan segala probabilitas, maka yakinlah insya alloh dapat aman aman saja, lagi pula bukankah dalam raga setiap makhluk mempunyai kekuatan yang besar. Pertanyaannya itu kemampuan, kekuatan kita gunakan dengan maksimal atau tak!. Itu sederhana saja. Sementara ini begini.

                                      Yogyakarta 
                                      Ahad, 31 Desember 2017
Share:

Jumat, 29 Desember 2017

Fajar Senja Yang Tak Kunjung Selesai


                           R. Amin Sikak.com

Layaknya Snow ball yang terus menggelinding tanpa ujung. Senja, Fajar dan apapun itulah yang sekiranya menawan pemandangan dan menarik kamera untuk men-shoot tiap angel yang di tawarkan acapkali telah membuat manusia keseringan membahasnya, atau dengan sederhana dielu-elukan dan ada sebagian yang membandingkan antara keduanya itu, Fajar dan Senja lebih Indah mana?.

Ini sebenarnya pertanyaan default yang umum, tapi mungkin jarang di lontarkan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang cukup selo untuk mencari-carinya. Ada yang berpendapat kalau Senja itu lebih indah dengan segala kilau semburat warna kuning merah nyala dapat menembus gumpalan awan sore. Yang lain berargumen bahwa Fajar lebih menawan karena untuk menemuinya saja harus berpayah-payah bangun pagi, dengan tangisan, dan lainnya. Apalagi jika dilihat dari cahaya yang mencuat keluar dari ufuknya ini menjadikan Pagi/fajar seperti menemui kelahirannya kembali atau kelahiran baru bagi kosmos semesta raya ini. Pun dapat dianalogikan dengan kelahiran jiwa baru atau manusia baru bagi mereka yang menterjemahkan.

Saya gak akan condong di salah satu pihak. Namun, akan memberikan opsi lagi terkait Fajar dan Senja yang tiap hari kita jumpai agar hidup ini lebih banyak variasi dalam pemandangan.

Kalau menurut saya, kita ini hanya fokus di titik awal dan akhir, ah atau begini saja kebanyakan manusia lebih suka kesimpulan ketimbang memulai dan mengawali suatu hal. Jelas kan, kita sering bangun siang dan menyia-nyiakan pagi hari dan untuk mencari gantinya manusia menunggu waktu sore hari untuk melihat senja dan diabadikan, kita biasa menumpuk tugas dan belajar ketika ujian kebanyakan hanya di akhir menjelang deadline, iya kan!. Itu adalah momen yang siapa saja bisa larut dalam ke-senja-an nya. Jadi jika dilihat dari perspektif ini pihak senja terasa terdiskreditkan karena mereka hanya mencoba mencari kesimpulan di akhir waktu. Sedangkan yang pro Fajar melihat dari sudut pandang reinkarnasi atau kelahiran baru bagi mereka yang menghendaki. Artinya orang menanti Fajar bukan karena untuk mencari kesimpulan waktu atau momen, tapi mencari jiwa baru yang mungkin dalam tanda kutip "Tuhan berikan bagi yang siap jiwanya dilahirkan kembali". Entahlah, ini hanya asumsi. Kalian boleh menolak, tapi jangan langsung diterima, sebab elaborasi di setiap hal dan keadaan itu perlu. Jadi di titik ini Fajar lebih well. 

Sementara, kalau saya sendiri melihat kedua soal itu tidak sebagai suatu hal atau blok yang berbeda dan terbagi dua, tetapi itu satu. Maksud saya, Fajar dan Senja itu satu, bukan dua hal yang crash. Jika dikatakan layaknya dua sisi mata uang mungkin boleh lah, tapi kalau dianggap dua yang beda itu saya tidak setuju. Lihat, cahaya Fajar dan Senja itu satu kesatuan yang mungkin terlihat memisah namun, sebetulnya tidak. Dilihat dari sini cahaya Fajar, kalau dari sana terlihat senja atau sore, padahal itu sumbernya sama yaitu matahari. Jadi gak mungkin kalau dua momen itu beda, itu sama!. Hanya saja hal tersebut terjadi memang akibat dari rotasi revolusi bumi yang mengelilingi matahari, apalagi kedua benda itu bulat.

Bagi saya, Fajar dan Senja merupakan lukisan Tuhan yang Indah. Jadi, dalam 24 jam sehari Tuhan membikim lukisan sedikitnya dua kali atau dua momen itu. Nanti ada banyak lagi lukisan lainnya, hanya saja kita belum mengetahui secara jelas. Kalau sering membahas Fajar dan Senja tok, nanti bakal ada yang ter-dholimi. Bukankah masih ada ruang, space, volume yang masih eksis diantara dua momen itu. Memangnya siang bukan momen? Apakah yang menjelang menjelang itu tidak momen?. Itu semua ada ukurannya sehingga titik kulminasi berada di puncak hari (siang). Karena sebagai stabilisator atau penyeimbang waktu harian. Jelas ya, Tuhan pun melukis. Ini hanya cara pandang. Jangan di paksakan kalau ta setuju. Semua ada koneksitasnya, tinggal merangkai-rangkai saja.

Ada yang mengatakan Fajar itu selamat datang dan sore/senja selamat tinggal. Ya terserah lah, tapi juga bukan berarti begitu juga. Karena masih ada siang, masih ada malam yang mungkin terjadi. Masih banyak probabilitas, jadi santai saja. Dan kalau matahari sudah terbit dari barat ya sudah semuanya, wassalam.
Share:

Selasa, 24 Oktober 2017

Hari Santri, Aksi apa (cuma) Refleksi?!


                                   tabayuna.com


             


Baru beberapa tahun saja sejak dicantumkannya hari santri berskala nasional telah begitu banyak sambutan dan apresiasi, khususnya santri. Tepatnya pada tanggal 15 Oktober tahun 2015, Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Mengapa sampai pada santri? Maka yang dapat menjawab adalah mereka yang membaca sejarah. Tentu saja!. Tiada alasan ngawur jika tiba-tiba santri dijadikan salah satu dari hari-hari besar yang tertera di tanggalan. 


Jika dilihat dari sejarahnya, kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dikaitkan dengan kaum santri. Mereka turut aktif berpartisipasi dalam pembelaan menyongsong hari lahirnya bangsa Indonesia. Mengorbankan jiwa dan raganya untuk suatu perubahan besar yaitu berarti melepaskan diri dari penjajahan atau kolonialisme bagi masyarakat Indonesia sendiri. Dan kini, mereka yang telah berjuang demi membebaskan dalam arti kemerdekaan dulu dikenang dengan diberi satu kuota hari untuk mengenang perjuangan mereka [santri] yakni "Hari Santri Nasional". 


Diketahui bahwa kehidupan santri dahulu dikenal sangat dekat dengan kiai dan alamnya, jadi kekerabatan sosial mereka tinggi jika dilihat cara mereka berinteraksi satu sama lain. Dan yang membuat mereka santri ini memiliki sifat Sam'an wa Tho'atan kepada kiainya juga termasuk dalam pelajaran berikut pendidikan yang diberikan gurunya sendiri yang tak lain adalah seorang kiai. Kalau santri sekarang sedikit-sedikit pulang kampung, susah sedikit sambat, dan lain-lain, tetapi santri jaman dulu tidak pulang jika ngangsu ilmunya belum cukup untuk mengurangi dahaga keilmuan bagi masyarakat desanya. Jika, dulu mereka bandel atau tidak memperhatikan ketika mengaji, kiainya tidak segan untuk menegurnya bahkan melakukan kontak fisik secara langsung. Dan jangan artikan kontak fisik itu cuma di jewer atau apa, lebih dari itu!.  Ada yang dilempari penghapus dengan keras, dipukul dan banyak lagi yang lain, mungkin dipukul atau cara-cara hukuman yang tidak selayaknya diterapkan seperti dewasa ini yang sedikit-sedikit dibawa ke ranah hukum!. Akan tetapi, hasil sejati memang selalu di belakang. Lihatlah, bibit-bibit yang ditanam kiai jaman perjuangan itu!. Mereka telah menyumbangkan kontribusi besar bagi Indonesia Raya ini meliputi beragam hal, apalagi soal keilmuan. Jelas dan terang dalam mewarnai pengetahuan masyarakat Indonesia sebagai sebuah desa dengan skala yang besar. 
Keikhlasan kiainya telah membikin para santri itu menjadi manusia yang paripurna. Santri rajin kiai mendoakan. Dan masing-masing saling mendoakan dengan diam-diam melalui tahajud maupun selainnya. Santrinya mempuasai kiyainya begitu pula sebaliknya kiai mempuasai santrinya. Tiap malam didoakan dalam sujud dan saling mesra dalam bebarengan telah menjadikan santri pada jamannya manusia yang seutuhnya dan barokah ilmunya. Mengerti akan artinya kehidupan sebagai pelayan dan abdi bagi Yang Maha Kuasa. Salah satunya dengan melayani kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang keilmuan, agama apalagi. 



Apabila santri dahulu diajari berkebun di ladang atau pun di sawah, itu juga termasuk bagian dari cara sang kiai mengajari mengaji, karena ngaji itu bukan melulu soal kitab dan buku. Adakalanya harus belajar di dan dari alam. Dan bukankah manusia juga bagian dari alam. Nah, itulah mengapa santri-santri jaman kemarin itu sungguh kompleks dan komplit dalam keilmuan. Tidak heran jika mereka siap meneruskan perjuangan gurunya dengan menjadi kiai atau ustadz juga di masyarakatnya setelah lulus atau boyong dari pondoknya. 


Baiklah, itu sekilas pandangan potret santri jaman dulu. 


Lalu bagaimana konstelasi santri jaman sekarang atau jaman _now_ yang lagi ngetrend istilahnya. Jadi, sebelumnya saya telah sedikit menyinggung tentang hal itu. Jika dilihat dari prakteknya, sepertinya santri sekarang telah mengalami dekadensi atau malah degradasi baik dalam praktek sosialisasinya maupun pribadinya yang biasa disebut seorang santri?. 


Penglihatan ini didapat karena mengamati tingkah laku santri sekarang dan _flashback_ ke masa lalu terkait bagaimana hubungan santri dengan kiai berikut beserta keterkaitannya dengan alam. Jadi, konklusi ini di dapat sebab melihat sejarah dan mengamati keadaan terkini hingga nantinya bisa menyimpulkan konstelasi soal santri. 
Kalau santri jaman dulu ulet, tekun, rajin, dan memiliki daya semangat yang besar dan kepatuhan sama kiainya begitu tinggi. Sekarang, sifat itu jarang dimiliki santri jaman sekarang. Mengapa? Satu alasan yang dapat saya berikan yakni karena kurangnya kesadaran bagi masing-masing komponen. Yang kiainya ada yang sibuk dengan urusannya, mungkin memenuhi undangan atau sebagainya, santrinya apalagi jelas kurang didikan dari kiai itu sendiri. Asupan rohani akan sangat berharga jika dilakukan dengan tepat dan terarah. Lha kalau kiainya saja sering mondar-mandir ke sana-ke mari, ya apa kabar santrinya apalagi. 


Setiap tahun kita akan terus seperti ini, yakni memperingati dan mengenang hari santri, layaknya berulang tahun, terus. Pertanyaannya, adakah kita hanya stagnan pada refleksi dan kontemplasi begini, selalu?!. Atau kita akan melakukan aksi untuk dapat menghidupkan budaya yang telah luntur itu? Sebagai generasi muda apa yang dapat di maknai serta di ambil dari peristiwa "Hari Santri" ini? Jawabannya ada di kita masing-masing.


Terus, kalau sudah begini bagaimana?. Saya memberikan ruang bagi kita semua untuk menjawab itu, saya tak mau menjawab soal itu!. 


                                      Yogyakarta, 22 Oktober  2017
Share:

Kamis, 21 September 2017

Sunset Asluhu Lungset

DataMP3

        Saya curiga kalau-kalau bahasa inggris itu banyak yang menyerap dari bahasa Jawa. Baiklah saya katakan saja mungkin sebagiannya saja. Jadi begini.. 

Sabar kak dalam proses analisa berpikir iki kwkakakkk 
Share:

Minggu, 17 September 2017

Tentang Jogja

                                ngapakers.com

"Semua Tentang Jogja" kota kecil dengan daya magnet luar biasa. Yang datang tak mau pergi, yang pergi akan datang kembali. Dari semula mencari ilmu di sini akan berakhir domisili di sini.

"Semua Tentang Jogja" yang tiap malam takkan pernah absen dalam acara dan ragam wacana. Tugu menyapamu, Malioboro mengundangmu, Pantai memanggilmu, dan semua menyalami lagi mengapresiasimu. Ketika malam yang mesra itu menjelang, semua akan keluar menyambut lalu menikmatinya. Hanya karena satu dudukan semalam saja kita akan dapat banyak pr dan pengalaman sekaligus menambah kuota berpikir [ngopi].

"Semua Tentang Jogja" ada yang bilang Jogja miniatur Indonesia. Ragam orang Nusantara saling tumpah ruah di sana dari Sabang sampai Merauke katakanlah. Ketika dingin yang sepi itu menepi, maka sudah tiba saatnya lah untuk menyepi. Seperti kata Soe Hok Gie "Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta". 
#Jogja Angkringan dan Kenangan 
#Salam aspal paping Tugu 
#Selamat menjalani aktivitas kembali lur 😊😊
Share:

Minggu, 06 Agustus 2017

Mesranya suara Kaki-kaki Mahasiswa KKN yang jamaah subuh

Ku dengar alaram itu menyanyi di atas hamparan selimut kasur
Mata-mata yang sudah lelap sedikit demi sedikit terbuka
Detik jam masih terdengar jelas di membran telinga
Tubuh pun mulai bangkit menuju kamar mandi
Guna membasuh segala yang perlu di basuh
Saat ku buka pintu fajar menuju rumah Tuhan
Setelah azan berkumandang memisah batas malam dan Fajar
Kulihat samar-samar para mahasiswa kkn yang sedang berjalan lirih ke masjid
Suara kaki-kaki mereka yang bersentuhan dengan tanah menimbulkan bunyi ritmis yang mesra
Begitu indah untuk dilihat
Begitu manis untuk dirasa
Begitu haru untuk disentuh
Begitu menggembirakan untuk diceritakan
Inilah suara mahasiswa yang tengah kkn dikala fajar menjelang
Share:

Rabu, 05 Juli 2017

One Piece Chapter 847

*_Review_* One Piece
Analisis *WS* *Sambat* *Tan*
*iki* *penting* , *dibaca*- *dibaca* 珞

Lagi-lagi Eichiro Oda (pengarang komik/anime one piece) berhasil mematahkan bahkan mengubah teori, analisis, hingga ekspektasi para *_otaku_* (penggemar), nampaknya dia memang suka bahkan ahli dalam mengaduk-aduk perasaan _fans_. Dia telah mematahkan satu analisis yang mana dengan itu menjadi atau mungkin dijadikan pengetahuan umum bagi orang-orang. Yang sebelumnya ada suatu analisis yang beredar bahwa 'Big Mom' sang yonkou (kaisar bajak laut) tidak terobsesi menjadi Raja bajak laut karena lebih memprioritaskan dan mempreferensikan ke semua ras, kini teori itu telah batal dan rusak. Terbukti dengan _lounching_-nya _manga_ (komik) 'One Piece' chapter 847 yang menunjukkan bahwa 'Big Mom' dari semula juga mengincar gelar Raja bajak laut yang ditanggalkan 'Gold D Roger' itu. Bahkan secara terbuka 'Big Mom' mengklaim sekaligus mendeklarasikan bahwa dia bisa mengalahkan sesama yonkou lainnya :Kaido, Akagami (shanks: rambut merah) hingga Shirohige. Namun, karena putrinya (Lola), tapi bukan *Lola* *Zieta* menolak untuk dinikahkan dan kabur yang notabene juga pernikahan politik terbesar-peny, sang yonkou 'Big Mom' gagal dan tidak bisa mendekati tujuan/gelar besar itu. Inilah kelebihan serta kapabilitas dari 'One Piece' sendiri dan itu merupakan suatu kualitas yang sangat bagus dari seorang 'Eichiro Oda' sekaligus yang saya sukai darinya. Satu potensi yang harus dimiliki seorang pengarang memang dapat mempermainkan perasaan pembaca, mengaduk-aduknya sehingga petutur serasa dimabuk dengan cerita-ceritanya.
Okay sampai di sini dulu latihan analisisnya.
Kwkwkwkwkkkkk,,
#Opoo_ikii 
#Jangan_Lupa_Semangat_Jalani_Hari-harimu_kak
#hehe,,

Share:

Sabtu, 01 Juli 2017

One Piece Chapter 870

One Piece Chapter 870
#Catatan wak sambat

Sambatnews.com
Sabtu, 1 Juli 2017

Pasca-flashback masa lalu Big Mom yang mengerikan sekaligus mengejutkan, kini akan kami fokuskan pada konflik antara Charlotte Big Mom vs aliansi Gang Bege, Kelompok Topi Jerami, Jinbe, dan Vinsmoke Family yang tengah bersitegang konfrontasi.

Big Father yang menjadi pertahanan andalan Geng Bege terhadap Big Mom sama sekali tidak ada artinya. Terbukti dengan kalibernya sebagai seorang Yonkou, dia menerima semua serangan, meriam lalu ke semua serangan itu ia mentahkan dengan remeh. Suatu yang di luar perhitungan Bege. Bege mengatakan "Dia (Big Mom) bahkan tidak bergeming ditembak meriam". Namun, Menurut analisis kami, seharusnya bukan begitu nadanya jika memang iya. Kami yakin Eichiro Oda ingin mengatakan kalau "Big Mom tetap diam atau tidak berefek sama sekali (bergeming) walaupun ditembaki". Tetapi, ketika ditransliterasi ke bahasa Indonesia jadinya malah "Tidak bergeming" padahal makna "Bergeming" itu (diam). Lalu, jadinya (Tidak bergeming = tidak diam). Lihat, jadi rusak kan maknanya. Persoalan sepele jika tidak segera diatasi ini akan bahaya.

Kemampuan Bege dalam mode Big Father tidak akan berlangsung lama, ia menerima segala serangan persis seperti apa yang dilakukan Big Mom, tapi kekuatan satu generasi terburuk janganlah disamakan dengan salah seorang Penguasa New World. Otomatis jika Bege roboh, maka dampaknya pun akan mengenai sekutu di dalamnya. Dalam keadaan demikian, mereka segera membuat taktik yang kata Caesar kemungkinannya nol persen, tapi tetap dilakukan. Yakni dengan Bege kembali ke bentuk manusia dan meminta Caesar menerbangkannya lewat udara dengan pasukan aliansi tetap di dalam tubuh Bege, tapi benar seperti yang dikatakan Caesar kalau di luar ada banyak pengguna haki Armament yang memungkinkan untuk menjatuhkannya. Jadi, kekuatan gas yang dimiliki Caesar menjadi tidak berlaku. Barangkali pasukan aliansi cukup tangguh untuk diandalkan, tapi kita sedang bicara soal Kaisar Bajak Laut yang tengah ngamuk membabi buta ditambah seluruh anak buah siap membidik lawan. Jika diukur secara kuantitas, aliansi Bege jelas akan kalah dengan Charlotte. Tapi lihat dulu!.

Seperti biasa, Luffy yang tidak sabaran mau ikut serta bertarung itupun dihentikan oleh Nami dengan berusaha menjelaskan keadaan saat itu.

Satu alasan kenapa Bege membiarkan kelompok Mugiwara dan Germa berikut Jinbe untuk selamat karena di dalam tubuhnya ada istri, anak, dan anak buahnya. Sehingga keselamatan adalah preferensi utama bagi mereka. Jika ada satu yang tertinggal, pastilah akan dijemput kembali. Biarpun Bege akan lari, tapi tidak untuk Luffy!. Sebab, bagi Luffy teman adalah segalanya.

Sebelum Germa mengambil tugas untuk mengawal seluruh pasukan aliansi, terjadi percakapan serius antara Vinsmoke Judge dan Vinsmoke Sanji. Dan bagian panel/momen inilah terjadi ungkapan verbal interval yang memancing feeling pembaca dan lagi-lagi harus mengakui kehebatan Eichiro Oda dalam menyampaikan pesannya. Intinya, alasan Sanji menyelamatkan Vinsmoke Family yang bahkan memang keluarga asalnya dan Ayah aslinya adalah karena Zeff si kaki merah pemilik restoran Baratie (bukan ayah sebenarnya) tidak mengajarkan untuk mendendam dan menjadi laki-laki yang menyedihkan.

Satu ungkapan Sanji terhadap Judge yang kami suka berikut ini: "Aku menolak untuk menjalani hidup di mana aku TIDAK BISA MEMANDANG WAJAHNYA". Kami berusaha menganalisa dan mengelaborasi dari kalimat itu. Jadi, intinya Sanji sangat menyayangi Zeff yang dianggap sebagai ayahnya. Terlihat dari caranya mengaplikasikan visinya dengan keras dihadapan si kejam Vinsmoke Judge yang bahkan ayah kandungnya sendiri. Betapa ironis perasaan seorang ayah yang mendengar anaknya berkata seperti itu, tapi bukan untuknya melainkan untuk orang lain. Dengan kata lain, alasan kenapa Sanji menuruti semua cara Big Mom maupun Vinsmoke Judge dengan berat hati karena ia tidak ingin laki-laki yang sangat disayanginya itu (Zeff) mati oleh Big Mom!. Di sinilah Sanji menggunakan nuraninya yang dalam. Ia menghubungkan masa lalu yang kejam terhadap keadaan sekitar sekarang hingga menelurkan kesimpulan bahwa walaupun masa kecilnya tak dianggap anak oleh sang ayah kandungnya sendiri dan hidup dalam penderitaan, tetapi ia tetap menyelamatkan keluarga aslinya dan terus melindungi Zeff selaku ayah angkat dan selalu menjadi panutan bagi Sanji. Ia merasa berutang dengan semua ini, dan ia akan melakukan apa pun yang perlu untuk melindungi mereka semua.

Lalu dilanjutkan dengan kalimat "JADI TERIMA SAJA KALAU KAU BUKANLAH AYAHKU!". Perkataan menyakitkan ini Sanji luapkan kepada Judge sang ayah. Karena memang dia memperlakukan Sanji dulu seperti seorang tawanan, orang yang gagal dan sampah. Menurut kami, Judge pantas mendapatkan itu. Secara garis pertalian darah, Sanji adalah anak kandung Judge, tapi dia mengatakan bahwa Judge bukanlah ayahnya!. Inilah yang tadi kami sebut "Interval". Mungkin ada statement lanjutan, tapi belum bisa mengeksplorasi. Kenyataannya, Judge tetap sombong seperti biasa. Dengan menjawab pernyataan Sanji kalau mereka menolak untuk berutang kepada ORANG GAGAL!.

Akhirnya Bege kembali ke bentuk semula dan Akan kabur dengan dikawal Germa 66. Namun, pasukan Big Mom sudah membidik dan siap menshoot mereka kapan saja. Beruntung, karena teknologi Germa yang mumpuni mereka aman dari tembakan yang notabene dilindungi jubah tahan panas dan serangan. Namun, shooting yang begitu banyak belum lagi kualitas senjata yang dimiliki Charlotte telah menorehkan bekas tembakan di jubah Vinsmoke Family. Selamat dari berondong tembakan, belum cukup aman lalu dilanjutkan serangan Fire oleh Big Mom itu pun digagalkan Reiju yang tengah melebarkan sayap dan mengehentikan serangan Big Mom dengan kesakitan. Ichiji mengabaikan Reiju yang tengah tertinggal. Menurutnya misi harus diselesaikan dan orang lemah adalah suatu kesalahan, dia mengatakan itu kepada Niji.

Menyadari bahwa Reiju akan diserang lagi oleh Big Mom, Luffy berikut Sanji keluar dari tubuh Bege dan melancarkan Gun Elephant dan Diable Jump Crosse Strike untuk menahan serangan Fire Thunderbolt nya Big Mom.

Sanji tidak mungkin membiarkan Reiju sang kakak yang masih punya nurani itu mati, ditambah Luffy adalah orang yang pernah diselamatkan oleh Reiju. Mereka bukanlah orang-orang yang akan tetap tinggal dan diam dengan keadaan demikian itu. Apalagi temannya dalam bahaya, jelas mereka tidak akan membiarkan musuh membabi-buta. Mereka pasti memberontak dan melawan.

Inilah kisah petualangan di lautan One Piece.

Next up to chapter 871,
Oke, See you tomorrow gais,,

#Hanya orang selo yang mau nulis kayak gini.

Share: