Di sini Ceritanya Wongsello


Rabu, 02 Januari 2019

Sang Penyair

Okezone Celebrity



Sang Penyair

Penyair bukanlah nabi kata-kata 
Aslinya
Ia tidak bisa menyampaikan sedikit rasa selain dengannya 
Penyair adalah aura yang lenyap ditelan malam, 
Ia menggelora dalam rasa dan menguap waktu subuh
Penyair tidak seharusnya berkata-kata 
Ia hanya hinggap dan mengingatkan
atau azan sewaktu waktu.
Share:

Minggu, 16 Desember 2018

Tembang Lala Sepasang Jiwa

Adit Photos 


#Puisi Cinta 
#Puisi Perkawinan
-Ahad, waktu Bantul, Sorowajan Baru, Burjo Mimin Depan Masjid Baitul Arqom

#For Sam Ahmad Sholeh and Ummi Lathifah


Nyanyian cinta mengalun indah 
Melukis bianglala di langit kehidupan 
Bak bidadari yang menghiasi taman firdaus 
Dan dewa-dewi menyirami pelangi dalam pesta warna


fajar tiba
Sepasang burung nuri berkicau dan saling mengejar di langit biru sembari memberiku pucuk surat 
Mengantarkan risalah cinta dari seorang sahabat 
Yang hari ini mendeklarasikan cinta agung mereka dalam suatu momentum


Kabar alam adalah berita untuk semua
Dan kebahagiaan adalah sepasang jiwa yang menyatu dengan alam 
Jiwa yang dikawinkan akan tumbuh jiwa-jiwa baru yang mencerahkan 
Bagai sajak yang lahir di tengah pergolakan hidup yang keras
Atau seperti cahaya yang menerobos kegelapan jiwa


Gita alam semesta melantun begitu merdu
Disambut beribu peri cinta di suwargaloka 
Mengetuk hati melalui telinga kehidupan 
Dan kaki tangan adalah wujud dari pelaksanaan


Hari ini sepasang anak adam telah menyempurnakan hidupnya
Mengamalkan ajaran-ajaran Tuhan dan nabi-Nya 
Mereka telah membuktikannya dalam ikrar yang agung "Mitsaqon Gholidlo"
Jua telah menjalankan sunnah-Nya dengan sebaiknya 
Bahwa tiada lain Ia menciptakan ini semua secara berpasangan dan untuk beribadah kepada-Nya


Tuhanku yang tercinta 
Jadilah saksi untuk kami semua 
Jadilah hakim untuk kami semua
Sehingga tiada lagi manusia yang mengaku-ngaku selayak Engkau 
Jadilah saksi perkawinan kami
Bahwa dua makhluk yang bersatu dalam ikrar adalah lambang dari kesempurnaan jiwa 
Dan simbol kesejatian hidup


Hari ini aku menyaksikan itu semua 
Bersama burung dari syurga yang mengiringinya dengan tembang lala


Di 00.33
Yogyakarta, 16 Desember 2018
Share:

Minggu, 14 Oktober 2018

Sastra Musim Gugur



 
 
Design By-Iqbal Fahreza





#Diskusi Majelisan #Edisi 14                                                                                   
#Sastra Musim Gugur


Perjalanan sastra di indonesia ini terbilang cukup menyedihkan dari era Chairil hingga sekarang. Tidak heran jika para sastrawan tidak mendapat platform yang memadai di sini. Kalau mengingat sejarahnya memang dari era Soekarno Sastrawan/karya sastra masih minim akan apresiasi, mungkin juga karena waktu itu masih mudanya usia negara sehingga tidak memperhatikan hal-hal yang tidak menguntungkan negara dari sisi finansial maupun otoritasnya sampai mimpi buruk yang menjadi kenyataan di rezim Soeharto. Kuasa total!.

Bagi penguasa, sastrawan, penyair dan kawan-kawannya adalah musuh yang akan terus dihancurkan!. Mengapa? Sebab mereka mempunyai alat bernama sastra/tulisan yang dapat membawa hulu ledak yang kuat bagi pemerintah dan mengancam otoritasnya sebagai penguasa, ia dapat menghimpun massa akan sebuah ideologi yang disuarakan. Maka, atas alasan demikian hal-hal yang berkaitan dengan sastra tidak diberi ruang yang layak, selayak guru kehidupan. Hingga pujanga sekaliber W.S Rendra yang diakui dunia pun tak keturutan yang hanya menginginkan sebuah Kijang Innova tiga hari menjelang kewafatannya menurut pengakuan temannya di acara dua tahun mengenang Rendra, sungguh ironis.  Seorang guru/dosen di kelas mungkin memberi macam-macam pengetahuan yang akan diajarkan, namun seorang sastrawan/seniman memberi segala yang perlu untuk wacana kehidupan melalui pengalaman-pengalaman di dalam karyanya.

Bicara soal sastra di kelas mungkin agak dibuat-buat, tapi sejauh yang saya lihat dalam keseharian memang harus diakui jika fakultas atas nama sastra tidak menghasilkan apapun yang kini disebut sastrawan atau lebih kecil lagi kritikus sastra. Bahkan, menurut pengakuan dosen pun kata seorang teman  memang fakultas sastra tidak dijadikan wadah untuk melahirkan sastrawan, tapi paling mentok hanya kritikus sastra, apresiator sastra, dan analis sastra. Itu pun tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh, lihat berapa persen alumnus fakultas sastra yang menjadi saya sebutkan tadi? Sangat jarang. Padahal, level tertinggi dari belajar dan pengalaman adalah mencipta atau laku tapi di kampus hal itu sangat nihil. Bahkan, skripsi yang jadi parameter kelulusan mahasiswa pun kini terlihat gagal dan tak berdaya menghadapi enigma hidup ini, seperti yang pernah saya katakan kepada teman sebelumnya “Satu puisi hasil karya sendiri jauh lebih baik ketimbang ratusan bahkan ribuan skripsi yang menggunakan teori orang lain!”. Akhirnya mereka terlempar sediri oleh sistem kehidupannya setelah lulus dan bingung mau ngapain. Walhasil lahirlah ungkapan “Jurusan kok sastra, kamu mau kerja apaan?.”

 Ya itulah bagian dari romantika hidup ini.  Sastrawan tidak pernah lahir di dalam kelas dan dalam fakultas sastra sehingga yang kita temui dalam kehidupan nyata adalah mereka yang memulai perjalanan dari bawah, maka tidak mengherankan kalau sastrawan yang kita kenal sekarang adalah mereka yang dulunya dari jalanan menghayati kehidupannya dan melahirkan sastra plus menjadikannya sastrawan. Lalu terciptalah Chairil Anwar, Amir Hamzah, W.S Rendra, Umbu Landu Paranggi, Suwarna Pragolapati, Danarto, Widji Tukul, Putu Wijaya, Iman Budhi Santosa, dll hingga paling banter sastrawan yang menjadi guru besar yakni Sapardi Djoko Damono. Kelihatannya mereka semua menemukan keindahan dan kebijaksanaan itu bukannya di kelas, tapi di jalanan bernama kehidupan. 

Lalu pertanyaannya benarkah sastra sebegitu menyedihkannya sampai-sampai terlantar di ranah kebudayaan kita sendiri ini?
Share:

Minggu, 24 Juni 2018

Pelajaran Tahunan Ala Lebaran

https://inspiratorfreak.com/5-tradisi-unik-lebaran-di-indonesia-2/
Ala-ala Lebaran 

Ada yang mengatakan jika lebaran adalah momen untuk pamer, adu gengsi, dan kompetisi pencapaian karena disitulah momen kumpul keluarga, tetangga, warga, dan reunian.

Saya membebaskan dari asumsi itu semua, biarlah menjadi pemahaman bagi masing-masing orang. Namun, beberapa yang dapat saya tangkap dari macam-macam wacana di momen lebaran adalah ini.

Pelajaran tahunan tiap lebaran : 
1. Kuliah bukan bahasan menarik/marketeble bagi warga, hanya basa-basi diawal percakapan yang sangat basi. 
2. Pekerjaan dan gaji adalah kesatuan idealisem yang jadi parameter kesuksesan masa kini (marketeble) 
3. Di mana pacarmu dan kapan kawin adalah tanya keniscayaan yang bakal terjadi 
4. Pye kabarmu?


Ada lah lain hal lagi, tapi hanya itu yang ingin disampaikan, oke.
#Rioyo_Ala-ala
Share:

Selasa, 12 Juni 2018

Viral dan Ketidaksiapan Mental

https://research-methodology.net/classification-of-viral-marketing/



Ledakan informasi di lini media jarang bisa dibendung dan jadi kucuran wacana yang akan terus terjun bak hujan yang mendera bumi. Oke fix.

Di Indonesia khususnya, ledakan informasi itu disebut viral. Begitu mudahnya banjir berita tersebut menunjukkan bahwa masyarakat suka dan berusaha mem-forward memenuhi media dengan alasan mengikuti trend. 

Nah sayangnya informasi ini hanya tunggal, atau katakanlah tidak beragam. Jadi, hanya satu warta yang diledakkan, bahkan dipaksa meledak atas alasan biar viral. Kiranya begitu. 

Kalau saya melihat, ini merupakan suatu fenomen sikap ketidaksiapan mental dalam menghadapi berita, informasi, wacana dan sebagainya lain. Kalau serius memahaminya, itu bukanlah viral. Cuman kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja. Yang biasa dibikin tidak biasa. Viral. 

Entah mengapa istilah itu bisa lahir?. 

Begitu mudahnya masyarakat Indonesia kagetan atau gumunan menurut orang Jawa dengan fenomena yang harusnya menjadi biasa-biasa saja. Inilah mengapa saya katakan belum adanya kesiapan mental dan ruang yang cukup luas untuk mewadahi ragam kondisi, wacana, gejala sosial, hingga perubahan dalam tatanan dunia. Apalagi hanya berkutat di dunia maya. Oke wells. 

Sederhananya, Viral adalah kurangnya atau belum ditemukannya kematangan dan kedewasaan di dalam kondisi sosial masyarakat, bahkan untuk tiap individu. Itulah yang melatarbelakangi sering timbulnya pergolakan sosial di lini kehidupan kita sehari-hari. Walau tidak dibantah jika itu ada unsur kepentingan lain. 

Kita kurang mau berendah hati dan melupakan konsep Bhinneka.
Share:

Senin, 11 Juni 2018

Katanya Puasa, Nyatanya?

simomot.com


Ada sebuah anomali yang biasa terjadi dalam bulan ramadan. Entah, belum menemukan istilah pas untuk situasi saat ini, tapi seperti ini ceritanya.
 
Bulan puasa yang sudah disepakati dan menjadi pengetahuan hingga amal ibadah nyatanya masih ditemui keanehan atau anomali pada khalayak umum. Apa tanda orang berpuasa? Tidak makan minum, oke itu jelas dipermukaan. Tapi untuk pemahaman yang lebih komprehensif dan kualitatif atau makro itu yang bagaimana?.

Kalau puasa dipahami sebagai remnya manusia dengan segala sifatnya harusnya tiada anomali seperti yang disebutkan tadi. Apa anomali itu?.
Bahkan dalam pemahaman puasa yang seperti itu pun manusia tetap pada sifatnya sendiri-sendiri.

Nyatanya walaupun mereka mengakui sebagai bulan puasa, tetapi dalam prakteknya dipermukaan yang dibahas, di share dan memenuhi media kebanyakan cuma urusan makanan, takjil, buka bersama, menu, dan paling banter soal pahala dan ganjaran. Makna puasa telah hilang entah ke mana?. Jadi kita puasa hanya menuju terbangunnya berbuka, bukan menuju Tuhan. Itulah mengapa saya pernah menuliskan bahwa yang paling penting di bulan puasa adalah departemen/seksi perbadokan (konsumsi).

Kalau ada yang komentar "Kan puasa baiknya tidak diperlihatkan", 
maka jawaban saya "Anak kecil pun bisa berkata begitu".

Maksudnya itu adalah soal cara dan kreativitas dalam menjelaskan/melakukan sesuatu.
Share:

Jumat, 01 Juni 2018

Waktu, Momen, Dan Ketiadaan

m.viral.id


Siapa yang tak tahu kalau keceriaan yang berlangsung tadi, kemarin, lusa, dan dulu pasti jadi sejarah dan masa lalu. Apa yang dapat kita hirup melainkan hanya sebatas keadaan yang berlangsung kemudian hilang, namun tetap terkenang, menjadi kenangan dan sejarah. Apa parameter yang dipakai untuk menghitung itu semua?. Waktu.

Dalam ke-ada-an berlangsung, sesuatu atau variabel menjadi ada dan nyata untuk beberapa saat. Dengan kesadaran tinggi orang mengerti itu dan mafhum, tapi ketika masyuk ke dimensinya orang jadi mabuk dan terlena sehingga pas waktu-waktu mengasyikan itu berlalu mereka berkata "Oh gak kerasa ya sudah lewat jam". Apa inti dari serangkaian keadaan yang membentuk waktu itu?. Momen.

Meski waktu bisa dikatakan panjang atau pendek, namun manusia masih bisa menemukan ruang kecil / singkat yang mengkaver inti dari kemesraannya. Itulah momen. Kristal dari sehimpunan keadaan-keadaan tertentu yang memadat. Nah, pasca-memasuki fase itulah mereka menyebut kesimpulan variabel jadi momentum. Manusia butuh waktu, tapi jarang yang benar-benar bisa utuh terangkum dalam memori. Untuk menyederhanakan film itu, dibuatlah sebuah keadaan darurat yang bebas long time. Jadi dengan tanpa kesulitan tinggi orang mudah mengingat dan merayakan kenangan atau momen itu di setiap ulang tahunnya. Kapan pun, di mana pun berada. Lebih detail lagi kalau disebut dejavu. Keadaan di mana seseorang merasa dalam suatu konsep yang sama dari yang pernah ada dahulu. Nah, dalam siklus inilah orang mengatakan "Waktu serasa berhenti, dan berputar kembali ke masa lalu, seperti membunuh waktu". Sayangnya pada keadaan yang sama pula waktu tetap berputar maju dan menjauh dari segala asumsi. Ironis. Manusia tetap pada lena yang dibuai kenangan. Keberadaan variabel hanya dihitung dengan kecepatan waktu. Tidak ada waktu yang cepat atau lambat, yang ada hanya berjalan maju terus menerus (istimror) hingga konsep tentang waktu tiada. Jika suatu variabel di lewati oleh waktu, maka ia menjadi ada, real, dan terlihat nyata, namun tatkala waktu berlalu bahkan jika dipercepat layaknya siklus dan revolusi ia jadi hilang dan tiada. Kalau kata penyair Sapardi Djoko Damono "Yang Fana Adalah Waktu" Entahlah.
Share: