Kamis, 07 Maret 2019
Selasa, 19 Februari 2019
Ditengah Hipokrisi Media
![]() |
| www.redstate.com |
Seperti yang terjadi sekarang, ledakan informasi dan alat ekspresi yang begitu masif telah mengubah peta jalanan orang-orang hingga anak-anak milenial. Dulu informasi, ilmu, wacana, pengetahuan, dan sebagainya didapat dengan melalui proses nyata untuk merguru langsung atau katakan secara konkrit. Bisa saja dengan buku atau cerita dari orang.
Namun, jika melihat kabar hari ini seperti membalik zaman dari yang inten jadi instan. Begitu yang saya pahami. Mau cari informasi apa pun dengan mudahnya kita menjejak ke laman pencarian yang kini biasa disebut Google untuk mendapat apa yang kita cari. Orang tua, remaja, bahkan anak-anak telah mengalami kemajuan dalam hal konsumsi dan menggunakan teknologi itu.
Hal yang paling disesalkan adalah kita tidak tahu mana berita atau informasi yang benar dan nyata. Akhirnya dengan ketidaktahuan itu kita jadi frontal dalam mengkonsumsi informasi lalu saling salah menyalahkan orang lain dan mengklaim diri kita yang benar sendiri. Itu merupakan kebodohan yang kita alami sekarang.
Media memberi ruang bebas untuk mengakses dan membagi informasi, tapi sekaligus berpeluang untuk membentuk opini global. Akibatnya bagi mereka yang kurang peka dan memahami informasi dengan teliti akan mudah terseret arus media yang menghegemoni. Selain itu, media yang ada sekarang apakah benar untuk mencerahkan masyarakat dalam hal informasi, atau mencari konsumen apa hanya menarik kesimpulan supaya menjadi keuntungan pribadi?. Kita juga harus mempertanyakan hal tersebut dalam diskusi. Satu media tak mungkin sama persis dalam memberitakan informasi, mungkin intinya sama, tapi ada titik tolak yang berbeda dari tiap media. Mereka punya visi misi yang berbeda dalam arti luas.
Menurut saya, bagi anak-anak milenial pemahaman dan ketelitian dalam mengakses informasi harus benar-benar hati-hati. Kita harus memikirkan dari hal kecil bahkan sepele, bersikap hati-hati dan terus belajar adalah satu cara untuk menuju perbaikan hingga dapat mengubah cara pandang anak Indonesia untuk lebih kritis dalam hal informasi dan pengetahuan.
Mahasiswa Itu Apa?
![]() |
| hype.idntimes.com |
Ada hal baru yang saya alami dalam perjalanan kehidupan ini. Menjadi mahasiswa. Orang bilang sekolahlah setinggi-tingginya biar dapat serenteng gelar, nanti kerjaannya layak, gajinya banyak, kaya Raya, istrinya cantik, terkenal, dan jadi orang besar dan dihormati orang banyak.
Aku tidak benar-benar peduli dan menggugu perkataan itu hingga nanti akan kubuktikan siapa yang lebih kuat dan menjalani hidupnya sendiri-sendiri dengan selamat dan berhasil. Biarlah orang berkata seperti itu, tapi tiap orang punya pikiran yang berbeda, cara pandang yang beda, dan mimpi yang tak sama. Bukan soal jika nanti dikatakan kalah atau menang, yang penting siapa yang mau berjuang sampai akhir. Itulah yang aku pahami dan pegang. Prinsip.
Hari pertama masuk kuliah aku mulai dengan pertanyaan, kenapa disebut mahasiswa? Apakah ini sistem kasta atau apa, kalau ada maha berarti ada yang mini. Ini aneh, mengapa? Intinya semua adalah penuntut ilmu, dengan pemahaman seperti itu bukankah sama artinya jika disebut murid. Dalam bahasa arab, murid itu subjek yang punya hajat, atau katakanlah orang yang berkeinginan, menginginkan. Jadi kalau memang demikian kenapa diciptakan nama "Maha" jika memang sama saja dengan siswa/murid?. Kenapa dengan pede dikatakan seperti itu, apa mapelnya lebih sulit ketimbang di sekolah, atau bagaimana?. belum tentu juga, selain itu Menurut ku kuliah hanya pengembangan saja dari yang pernah dipelajari di sekolah.
Mahasiswa itu tidak ada!. Aku lebih suka dikatakan siswa/murid tok! Tanpa embel-embel maha. Maha itu milik Tuhan.
Mentari dan Lentera
![]() | |||
| screenshoot |
keperkasaan mentari takkan pernah menindas cahaya lentera bumi ini
seperti wajahmu yang dihiasi kegembiraan petang itu
kegembiraan yang dilingkupi kesedihan,
namun
namun
kesedihan dibalut dengan kebahagian
mesra dirasa enak dikata
aku sebuah nada dan
engkau, tembang lala dengan seluruh aransemen
aku hanyalah lentera yang diusik angin malam
sedangkan engkau adalah mentari yang mengguyur jiwa-jiwa kegelapan dengan cahya cinta sejati
Wajahmu adalah wajah kemanusiaan
Wajahmu adalah wajah kedermawanan
yang tiada pernah lelah
membesarkan hati lentera kami
petang itu
aku melihatmu bak cahaya yang
dikerumuni laron-laron kecil
dari tiap gelombang yang engkau pancarkan
tiada perlu ungkapan
tak ada suara bersambut tanya
yang ada hanyalah sebuah kidung cinta tanpa perantara biola
atau gita alam yang tak perlu seruling bambu
Yogyakarta, 09 Desember 2018
Senin, 18 Februari 2019
Selasa, 29 Januari 2019
Kebaikan Itu Kesadaran Keranjang Sampah
![]() |
| khosann.com |
Pemahaman kesadaran kian hari bertambah dengan terus kembang, itu
yang menandakan kemampuan manusia dengan segala spesifikasinya digunakan dengan
baik. Pun bersama judul yang aku angkat ini adalah satu deternimasi yang cukup
pertimbangan, buatku. Setiap hari kita banyak melakukan kebaikan yang tidak
sengaja, sengaja ataupun melakukan kejahatan yang mungkin tidak kita ketahui,
namun melihat fenomena yang ada di sekitar menunjukkan bahwa yang namanya
kebaikan itu hanya horizontal/lurus ke depan dan tidak berusaha ditingkatkan
pemahaman atau kesadaran lanjutan yang lebih baru.
Kebanyakan orang memaknai kebaikan itu saat dirinya memberikan
sesuatu yang dimiliki, atau dapat dikatakan memberikan sedikit haknya untuk
sesamanya yang membutuhkan. Terkesan materi, tapi yang lebih kentara ya seperti
itu. Saat memberi jasa kepada orang lain tanpa memungut biaya kadang ada rasa
atau pamrih yang tak terlihat, benarkah itu disebut kebaikan?. Misal ada teman
yang minta bantuanmu pindahan kos dengan membawa segala barang-barangnya dan
kamu pun membantunya, tapi suatu kali kamu punya hajat yang sama dan teman yang
pernah kamu bantu itu kamu kontak untuk berniat minta bantuannya karena
pertimbangan kalau dia dulu kamu bantu buatku itu adalah balas dendam. Aku
melihat itu bukan keikhlasan, walau aku tidak benar-benar yakin dengan
pendapatku, tapi jika niatmu memang dengan pertimbangan demikian, aku rasa itu
bukanlah suatu kebaikan dalam arti sesungguhnya.
Padahal, kalau orang sudah berani membuat keputusan untuk menjadi
baik ex menolong orang dll, maka dengan segala konsekwensinya ia mestinya harus
berani jadi wadah untuk menampung segalanya. Baik tidak cukup dari kepemilikan
untuk disalurkan, tapi lebih kepada kerelaan untuk menampung dan menjadi ruang
bagi semua. Ia harus berani jadi keranjang sampah untuk menampung sampah-sampah
yang berserakan atau bahkan jadi lautan yang menampung segala bangkai itu.
Kebaikan lahir dari hati, akal hanya mengakumulasi dan menganalisa
kejadian kemudian diregulasi dengan banyak pertimbangan. Ia masih dipengaruhi
logika dan kalkulasi yang membuatnya terkurung dalam hal menang-kalah,
laba-rugi, menguntungkan-tidak. Tapi, hati melampaui segala yang dicapai akal,
ia bermaqom di wilayah ‘rasa’ yang dapat sedikit mampu mencapai Tuhan. Dan
kebaikan itu bukan perhitungan untuk mengakibatkan keuntungan, namun untuk
cinta dan kasih sayang. Kebaikan itu luas dan mencakup, bukan mengekang, tapi
mengayomi, bukan pamrih, tapi berani perih, bukan balas dendam, namun sanggup
menampung.
Kebaikan tidak semudah memberi lalu pergi begitu saja, ia harus
berani seperti matahari yang selalu menyinari alam sepanjang masa tanpa adanya
rasa untuk pamrih. Banyak dari penyair yang telah sampai pada acara berpikir
semacam ini, mereka menunjukkannya dalam karyanya. Simbol-simbol alam yang
digunakan di dalam karyanya adalah representasi dari pemahamannya mengenai alam
walau tidak bisa menyampaikannya secara keseluruhan karena kelemahan bahasa.
Kebaikan adalah kesadaran
keranjang sampah. Kesadaran untuk menampung segala.
Selasa, 22 Januari 2019
Indigo
![]() |
| www.spiritualunite.com |
Setelah menonton sendiri tentang indigo yang ada di youtube,
aku mempunyai kesimpulan bahwa kemampuan itu menurut pengakuan mereka merupakan
give dari Tuhan yang harus mereka terima. Tingkat atau lama waktu
penerimaan atau bisa dikatakan proses teriman/neriman itu sendiri
berbeda-beda dari tiap orang. Ada yang umur 16 sudah bisa neriman, ada yang
18, dan selainnya. Kemampuan indigo pun tidak sama munculnya, ada yang umur 3
tahun sudah kebuka, ada yang 5 tahun, 9 tahun dan sebagainya. Kebanyakan dari
yang aku lihat adalah perempuan, entah apa aku belum dapat mengelaborasi dengan
baik, namun satu yang pasti adalah kemampuan indigo merupakan something
dari Tuhan yang mereka sendiri katakan sebagai “Give”.
Mendengar dan mengamati sendiri, aku sebagai yang hanya melihat dari
luar tidak dapat menjelaskan dengan baik. Bagaiamana mereka dalam usia yang
sangat belia sudah harus diperlihatkan fenomena atau penampakan mengerikan yang orang tua
pun jarang melihatnya adalah beban tersendiri yang berat pada mulanya. Menurut pengakuan
beberapa dari mereka, banyak dari orang di luar sana yang menginginkan potensi
yang sama, ingin melihat hantu dll, namun mereka tidak melihat bagaimana mereka
para user indigo menjalani proses yang panjang dan melelahkan, juga
menakutkan. Bahkan, menurut pengakuan Risa Saraswati sendiri itu nggak semudah
dan seenak yang dibayangkan, bagaimana mereka hantu itu yang kadang muncul dan
mengubah wujud dengan tiba-tiba merupakan suatu yang mengerikan, bila mereka mengubah wujudnya yang asli kalian nggak
akan kuat katanya. Mungkin beda kalau sepertinya yang memang indigo, walau pun
begitu masih berani ngomong seperti itu dia. Sepertinya aku paham orang-orang
bilang begitu, memang ada keuntungannya tersendiri bagi kaum indigo, jadi
penulis. Ya, mungkin yang ini dan lain-lain tentunya yang dimaksudkan orang-orang. Ketika Citra Prima
bercerita bagaimana dirinya ditemani pocong di kasur selama empat puluh malam adalah
perasaan yang luar biasa ngerinya, padahal umurnya baru 9 tahun! Kata si pocong
“Kamu harus berani melihat aku, sebab nantinya kamu bakal melihat yang lebih
mengerikan dariku”. Kepada siapa akan dicerita dan dibagi pengalaman dengan
kenyataan seperti itu, alih-alih untuk bercerita guna berusaha mendapat bantuan
atau sedikit jawaban dari orang yang dipercaya malah dari anak-anak indigo
diperlakukan seperti orang yang terganggu jiwanya. Tidak heran jika mereka
dibawa orang tuanya ke psikiater, orang tua tidak mengerti dan jauh dari paham
mengapa anaknya demikian.
Bagi orang tua mungkin itu hanya halusinasi, tapi bagi sang anak
itulah kenyataan yang dilihat dengan mata. Mata batinnya!. Kebayang sendiri bagaimana
perasaan seorang anak yang mempunyai kemapuan itu dan tiada atau katakanlah
sangat jarang orang dapat memahaminya. Siapa yang percaya akan hal itu, kepada
siapa akan bercerita adalah perasaan sangat sedih dan mungkin bila nggak kuat
bisa membahayakan hidupnya. Memang jadi penulis lah satu cara untuk dapat
bercerita disaat semua orang gagal memahaminya, ini seperti yang dilakukan Risa
Saraswati dan Citra Prima. Dengan menangis Nyanyah atau Citra mengingat hal
itu. Aku mungkin memahami kegelisahannya dan kengerian itu, tapi selebihnya aku
tidak mempunyai daya analisa yang jauh dan kuat untuk mengerti. sebab, aku sendiri tidak mempunyai kemampuan yang sama, bukan anak indigo.
Pun tidak mengherankan kalau mereka berteman dengan hantu, setan,
atau jin dari kecilnya, selain kepada sesamanya, mungkin kepada gaib itu mereka merasa dapat tempat bermain dan
wadah curhat untuk mengoutput masalah-masalah yang dihadapinya seperti yang
dilakukan Frislly Herlin dan Risa Saraswati. Sekian dulu, informasi tambahan
selanjutnya lagi..
Rabu, 02 Januari 2019
Sang Penyair
![]() |
| Okezone Celebrity |
Sang Penyair
Penyair bukanlah nabi
kata-kata
Aslinya
Ia tidak bisa menyampaikan sedikit rasa selain dengannya
Penyair
adalah aura yang lenyap ditelan malam,
Ia menggelora dalam rasa dan menguap
waktu subuh
Penyair tidak seharusnya berkata-kata
Ia hanya hinggap dan mengingatkan
atau azan
sewaktu waktu.
Minggu, 16 Desember 2018
Tembang Lala Sepasang Jiwa
![]() |
| Adit Photos |
#Puisi Cinta
#Puisi Perkawinan
-Ahad, waktu Bantul, Sorowajan Baru, Burjo Mimin Depan Masjid Baitul Arqom
#For Sam Ahmad Sholeh and Ummi Lathifah
Nyanyian cinta mengalun indah
Melukis bianglala di langit kehidupan
Bak bidadari yang menghiasi taman firdaus
Dan dewa-dewi menyirami pelangi dalam pesta warna
fajar tiba
fajar tiba
Sepasang burung nuri berkicau dan saling mengejar di langit biru sembari memberiku pucuk surat
Mengantarkan risalah cinta dari seorang sahabat
Yang hari ini mendeklarasikan cinta agung mereka dalam suatu momentum
Kabar alam adalah berita untuk semua
Dan kebahagiaan adalah sepasang jiwa yang menyatu dengan alam
Jiwa yang dikawinkan akan tumbuh jiwa-jiwa baru yang mencerahkan
Bagai sajak yang lahir di tengah pergolakan hidup yang keras
Atau seperti cahaya yang menerobos kegelapan jiwa
Gita alam semesta melantun begitu merdu
Disambut beribu peri cinta di suwargaloka
Mengetuk hati melalui telinga kehidupan
Dan kaki tangan adalah wujud dari pelaksanaan
Hari ini sepasang anak adam telah menyempurnakan hidupnya
Mengamalkan ajaran-ajaran Tuhan dan nabi-Nya
Mereka telah membuktikannya dalam ikrar yang agung "Mitsaqon Gholidlo"
Jua telah menjalankan sunnah-Nya dengan sebaiknya
Bahwa tiada lain Ia menciptakan ini semua secara berpasangan dan untuk beribadah kepada-Nya
Tuhanku yang tercinta
Jadilah saksi untuk kami semua
Jadilah hakim untuk kami semua
Sehingga tiada lagi manusia yang mengaku-ngaku selayak Engkau
Jadilah saksi perkawinan kami
Bahwa dua makhluk yang bersatu dalam ikrar adalah lambang dari kesempurnaan jiwa
Dan simbol kesejatian hidup
Hari ini aku menyaksikan itu semua
Bersama burung dari syurga yang mengiringinya dengan tembang lala
Di 00.33
Yogyakarta, 16 Desember 2018













