Kamis, 28 November 2019
Rabu, 27 November 2019
Minggu, 24 November 2019
Embun #7
https://www.spiritofchi.com/Indonesia/wp-content/uploads/2014/01/hakikat-300x3001.jpg
Embun #7
Kita biasa mencari kebahagiaan di luar, karena mata kita terbawa arus materi untuk mengikutinya. Padahal keindahan yang kita sebut dari kasat mata adalah suatu kefanaan dunia yang maklum dipahami. Dan penglihatan mata sebenarnya adalah saat kita terpejam untuk menjelajahi dunia lain yang sejati.
Sabtu, 23 November 2019
Senin, 18 November 2019
Guyonane Wongsello
![]() |
| https://www.wattpad.com/story/137399646-bahagia-dalam-khayalan |
"Aku gelem dikei omah iku.."
"Seng iki yo gelem kok.."
Ucapku sesekali saat jalan bareng-bareng dengan teman, kalimat sederhana yang mampu membangun senyum dan bahagia itu seperti bayangan, jadi selalu ada menemani. kalian pikir apa responnya?
"Lha kok wenak urepem jik, aku yo gelem.." disambut gelak tawa meriahh..
Kalau orang bilang bahagia itu sederhana, aku setuju saja, tapi kebahagiaan yang aku bangun malah lebih nyeleneh banget ketimbang diktum bahagia itu sederhana.
Nampaknya, kekonyolan dari dulu itu sangat membekas sampai sekarang, kata lainnya itu pecengisan (guya-guyu) sikap itu sudah sejak dari kecil, ya memang seperti itu kebiasaanku dulu, pecengisan. Dari mula, aku suka menertawakan orang atau apa pun yang membuatku tertawa, bukan menghina, tapi ya begitulah adanya.
Itu semacam style-ku dalam pergaulan. Aku membuka peluang untuk orang mudah menerimaku, lebih-lebih akrab dan tanpa pekewuh, maka aku beri mereka show watak itu, kemurnian itu.
Nah, nanti setelah mereka sudah bisa menerimaku, aku bisa sesuka hati menertawakan mereka dengan tetap menjaga batas-batas dan kadar yang dimiliki masing-masing.
Meski aku terdampak atau berpotensi direndahkan orang, sangat bisa saja, tapi aku menemukan kebahagiaan di sana.
Jadi, dengan berkelakar soal pingin rumah tadi, itu hanya sebagian kecil kekonyolan yang biasa aku lakukan. Banyak lagi bahagia yang aku bangun dengan hal-hal aneh dan khayal. Sebenarnya posisiku sendiri memang dekat dengan 'khayalan', jadi wajar itu terjadi. Namun percayalah aku masihlah waras untuk diajak berkomunikasi kok ha ha haa..
Tulisan selanjutnya akan melengkapi pertanyaan ini. :)(:
Minggu, 17 November 2019
Nyatanya, Kehidupan Jalanan Itu Sudah Dimulai Sejak Dulu Masih Kecil
#Saat lulus nanti, aku cukup puas dengan predikat sello dan gelar sarjana bonek wkwk.
Itu kesan pertama yang aku tuliskan sebelum diwisuda dulu. Saat semakin ke sini aku jadi ingat ternyata pengalaman mengaspal atau kehidupan jalanan itu sudah dimulai sejak dahulu kala, sewaktu aku masih kecil di Sekolah Dasar. Waktu itu sering sama teman-teman bermain dan berkelana di banyak daerah, di desa-desa, lintas kecamatan dengan bersepeda. Tak lupa juga pengalaman nyolong tebu di daerah Masong, sebrang kulon desaku hingga dikejar sama pemiliknya dan diakhiri arit/sabitku dibuangnya di tengah lahan pertebunan itu.
Nyatanya, kehidupan sekarang yang kusebut jalanan itu sekali lagi nyatanya sudah dibentuk dari dahulu kala. Sampai sekarang aku berada di jalur wartawan pun tak ubahnya sama dengan kehidupan jalanan dan terus mengaspal. Dan semua itu bermula ketika aku masih kecil. Ini semacam lintas kesadaran terlambat yang baru teringat sebagai kesadaran waktu past live.
Jadi Timeline jalanan dalam 24 tahunku sederhananya seperti ini: ada tiga rentang, rentang atau paruh pertama di SD masa bermain dan berkelana bersepeda sesuka hati di daerah-daerah sekitar Pati, paruh kedua, di MTs-MA Bonek pas liburan pondok dan sekolah, Kudus, Demak, Semarang, dan Jogja adalah kota-kota tempat kami mengaspal dulu, jadi agak gelandangan di zaman itu. Lalu paruh ketiga, pas di Jogja sebagai mahasiswa jalan kaki di tempat-tempat yang aku pingini, pernah UIN-Selokan Mataram bahkan sering, pernah Sorowajan-Malioboro beberapa kali, Sorowajan-Lempuyanga-KotaBaru, Sorowajan-Krapyak dua kali, terakhir Sorowajan-Kasihan Bantul,kira-kira 12 km kami mangkati dengan jalan kaki. Kebanyakan alasan semua itu aneh-aneh, mungkin tidak masuk akal bagi orang sekarang, tapi begitulah aku, kadang jalan sendiri,kadang bareng teman-teman yang mau. di paruh ketiga ini, ekspansiku belum jauh ke luar kota, apalagi sampai ke luar negeri. Biar itu nanti akan mengerti dalam perjalanan berikutnya. Bukan aku sungguh mengerti dan tahu diriku, tapi intinya dalam penghayatan 24 tahun hidupku, yang kutemui dan kuketahui baru sampai di situ.
Itu sebagai pengantar tulisanku..
Kali ini aku akan bercerita dulu ketika masih sekolah, ketika masih suka bonek untuk jalan-jalan ke mana-mana hatiku suka bareng "Bolo Bonek Ndonyo Akherat" saat itu penemu dan ketuanya adalah Abdul Rois, temanku dari Jambean Pati, sekarang dia sedang bekerja di Korea hehe..
Itu kesan pertama yang aku tuliskan sebelum diwisuda dulu. Saat semakin ke sini aku jadi ingat ternyata pengalaman mengaspal atau kehidupan jalanan itu sudah dimulai sejak dahulu kala, sewaktu aku masih kecil di Sekolah Dasar. Waktu itu sering sama teman-teman bermain dan berkelana di banyak daerah, di desa-desa, lintas kecamatan dengan bersepeda. Tak lupa juga pengalaman nyolong tebu di daerah Masong, sebrang kulon desaku hingga dikejar sama pemiliknya dan diakhiri arit/sabitku dibuangnya di tengah lahan pertebunan itu.
Nyatanya, kehidupan sekarang yang kusebut jalanan itu sekali lagi nyatanya sudah dibentuk dari dahulu kala. Sampai sekarang aku berada di jalur wartawan pun tak ubahnya sama dengan kehidupan jalanan dan terus mengaspal. Dan semua itu bermula ketika aku masih kecil. Ini semacam lintas kesadaran terlambat yang baru teringat sebagai kesadaran waktu past live.
Jadi Timeline jalanan dalam 24 tahunku sederhananya seperti ini: ada tiga rentang, rentang atau paruh pertama di SD masa bermain dan berkelana bersepeda sesuka hati di daerah-daerah sekitar Pati, paruh kedua, di MTs-MA Bonek pas liburan pondok dan sekolah, Kudus, Demak, Semarang, dan Jogja adalah kota-kota tempat kami mengaspal dulu, jadi agak gelandangan di zaman itu. Lalu paruh ketiga, pas di Jogja sebagai mahasiswa jalan kaki di tempat-tempat yang aku pingini, pernah UIN-Selokan Mataram bahkan sering, pernah Sorowajan-Malioboro beberapa kali, Sorowajan-Lempuyanga-KotaBaru, Sorowajan-Krapyak dua kali, terakhir Sorowajan-Kasihan Bantul,kira-kira 12 km kami mangkati dengan jalan kaki. Kebanyakan alasan semua itu aneh-aneh, mungkin tidak masuk akal bagi orang sekarang, tapi begitulah aku, kadang jalan sendiri,kadang bareng teman-teman yang mau. di paruh ketiga ini, ekspansiku belum jauh ke luar kota, apalagi sampai ke luar negeri. Biar itu nanti akan mengerti dalam perjalanan berikutnya. Bukan aku sungguh mengerti dan tahu diriku, tapi intinya dalam penghayatan 24 tahun hidupku, yang kutemui dan kuketahui baru sampai di situ.
Itu sebagai pengantar tulisanku..
Kali ini aku akan bercerita dulu ketika masih sekolah, ketika masih suka bonek untuk jalan-jalan ke mana-mana hatiku suka bareng "Bolo Bonek Ndonyo Akherat" saat itu penemu dan ketuanya adalah Abdul Rois, temanku dari Jambean Pati, sekarang dia sedang bekerja di Korea hehe..
Saat itu kami berpisah di perbatasan Kudus-Demak karena kebelet boker aku turun di pom bensin setelah sebelumnya janjian untuk ketemuan di Kali gawe jalan Tol arah Jogja. Dulu tugu cengkeh Kudus belum ada. Akhirnya temen" bolo bonek donyo akherat melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan aku sebentar di jalanan, dan aku menyusul kemudian, tapi malah aku yang tiba duluan di tempat perjanjian dengan bonek truk. Lalu pas semua berkumpul kembali melanjutkan perjalanan ke Jogja.
Jogja menjadi kota terakhir di episode jalan-jalan bonek kami, dan siapa kira kini sebagian personilnya masih mengeja nama-nama di jalanan, di kota yang kata Rendra adalah kota tua, kota yang katanya surganya para seniman, kota di mana semua orang mendadak jadi penyair, yang kata anak-anak muda adalah kota tempat pulang dan kembali, kota yang terbuat dari rindu dan kenangan, kota dengan daya magnet yang luar biasa, Jogja.
Jogja menjadi kota terakhir di episode jalan-jalan bonek kami, dan siapa kira kini sebagian personilnya masih mengeja nama-nama di jalanan, di kota yang kata Rendra adalah kota tua, kota yang katanya surganya para seniman, kota di mana semua orang mendadak jadi penyair, yang kata anak-anak muda adalah kota tempat pulang dan kembali, kota yang terbuat dari rindu dan kenangan, kota dengan daya magnet yang luar biasa, Jogja.
Soal namanya, aku hanya meneruskan saja sebuah nama yang dibuat oleh bos Abdul Rois "Bolo Bonek Donyo Akherat".
Sabtu, 16 November 2019
Apanya yang UIN?
Memang di mana letak makna Sunan Kalijaga bagi UIN?
semua diukur dengan buah karya orang barat, bahkan jurusan sastra arab pun banyak skripsinya menggunakan teori barat, bahkan di semua jurusan sama saja. Ini sebuah keanehan dan ciri kurangnya kepercayaan diri. Di mana letak yang namanya kemajuan dan kemandirian? Benar sekali jika penjajahan di atas dunia tetap dan selalu berlangsung dan dilangsungkan.
Sudah berapa ratus tahun kita belajar dan ada berapa teori yang berani dikeluarkan dan dipakai? Bagaimana pun juga kita tetap menghamba kepada dunia barat dan globalisasi. Kita masih dalam bui kebodohan, masih dalam jeruji kebencian, masih dalam penjara proyek neokapitalis, masih naif soal kemerdekaan yang kabur maknanya.
Bahkan, ajarannya Sunan Kalijaga pun tak pernah aku lihat selama pembelajaran di kampus. Adakah wawasan dan pengetahuan yang diajarkan mengenai nama tersebut?. Hanya menjelang wisuda, mereka melantunkan satu tembang asmorodhono yang itu pun hanya sekali saja. Jadi, maksudnya cuman nebeng nama besarnya tok?!
Sungguh memalukan sekali. Kau minjam nama tanpa tau arah dan tujuan memakai nama itu. Jadi di mana letak ruh makna Sunan Kalijaga bagi UIN? Mungkin juga semua yang memakai nama Sunan dan UIN.
Apa benar kalau UIN itu akronim dari UIN-syaalloh? Insyaalloh UIN wkwk..
Wisuda, Badut, dan Pembodohan
![]() |
| https://alibrahgresik.or.id/home/pemerintah-kucurkan-rp13-triliun-untuk-beasiswa-ke-luar-negeri/ Ilustrasi : sarjana |
Aku jadi satu-satunya orang yang tidak bahagia ketika wisuda, mungkin. aku merasa seperti badut yang rela digambar dan di pacak atas alasan konyol yang dipercayai bahwa kami adalah sarjana, aneh. memangnya sejak kapan sebuah gelar diberikan hanya dengan bukti skripsi yang terlampau lemah untuk diadu dengan kehidupan nyata, memang bukan begitu sih yang dimaksudkan.
Tapi, ironisnya kita mempercayainya. itu ironi di atas ironi. Dan dalam beberapa waktu juga aku tidak memakai ijazahku itu.
Tapi, ironisnya kita mempercayainya. itu ironi di atas ironi. Dan dalam beberapa waktu juga aku tidak memakai ijazahku itu.
Kalau bukan karena orang tuaku, aku tidak mau dipacaki seperti itu. Jiwaku menjerit supaya lekas selesai acara dan pergilah dengan cepat. Wisuda tiada kesan buatku, selain seperti apa yang aku gambarkan di atas.
Aku jadi teringat ucapnya mbah Nun suatu kali, tidak ada yang namanya pencapaian dalam mencari ilmu itu, wisuda itu pembodohan. Begitu kiranya.
Dan lucunya diam-diam kita bangga dan benar-benar mengakui gelar sarjana itu. Mengerikan.
Selamat datang di dunia nyata kawan-kawan..
Jangan mau diberi mimpi dan janji dalam kelas..!! Itu bukan kebebasan, tapi penyempitan cakrawala dan penindasan kemerdekaan juga pesakitan intelektual dan batin..!!.
Jangan mau diberi mimpi dan janji dalam kelas..!! Itu bukan kebebasan, tapi penyempitan cakrawala dan penindasan kemerdekaan juga pesakitan intelektual dan batin..!!.
Kamis, 14 November 2019
Embun #5
![]() |
| https://muslimobsession.com/wasiat-rasulullah-agar-umatnya-selamat-dan-bahagia/ Embun #5 |
Bahagia bukan tambah kurang ataupun pembagian. Bahagia ditentukan bukan dari rumus matematika, ia tercapai berkat keselarasan antara hati, pikiran, dan keadaan sehingga membuatmu bisa bersyukur dan menikmati kahanan.


















