Di sini Ceritanya Wongsello


Kamis, 25 November 2021

Pendekar dan Bunglon


Kadang-kadang aku berpikir jika menjadi pendekar dalam arti sesungguhnya, semisal pesilat, samurai, atau apa pun namanya lebih baik ketimbang berada di dalam arena globalisasi yang terombang-ambing tak kejelasan seperti ini, perjuangan yang masihlah setengah-setengah. Jika pendekar beneran, maka jelaslah arena pertempuran dan peperangannya, berikut segala macam yang dapat dipelajari selama kehidupannya itu. Tetapi menjadi klub modernisasi ini membuat orang jadi bingung dan tantangannya begitu sulit, arenanya yang tidak terang, terkadang kita sangka baik, tetapi nyatanya lain hati, disangka mencari ilmu yang ada malah cari pekerjaan, sepertinya bertetangga, rukun kampung, dan bernegara tetapi semuanya adalah perihal jual beli dan materialisme.


Entah apa namanya atau nomenklatur yang pas untuk seorang yang berada di tengah-tengah itu, disebut manusia terlalu prima jenius, namun disebut binatang juga kadang-kadang ada akal dan nuraninya. Betapa perjuangan saat ini begitu berat sekali, ikut mainstream global jadinya berhala, tetap menjaga idealisme akan digempur dunia, kompromi atas keduanya disebut tidak punya pendirian. Zaman dahulu jelas mana pendekar, mana petani, mana negarawan, mana begawan, mana resi, mana empu, kaum sudra, kaum kesatria, kaum waisya, dan brahmana. Semua jelas dan memang ada semacam tingkatan atau level seperti itu, biar pun manusia yang buat tetapi di zaman itu pembagiannya sangat kentara dan terang berikut fungsi dan tugasnya masing-masing.


Agaknya zaman sekarang? Seperti bunglon semua, tapi hewan itu masihlah lebih baik karena murni untuk bertahan hidup dari predator pemangsa atau menghindari bahaya. Jadi bagaimana untuk tetap mengepal tangan dan mengangkat tinju ke atas kalau-kalau malah disebut radikalis, diam dan bertahan berarti konservatif, berusaha kreatif dihina dan ditekan jiwanya. Semua arah yang mengepung ini bisa jadi apa saja, kita semua adalah gas yang siap jadi air, kadang beku dan menyublim kapan saja, betapa sulitnya hidup kini. Aku merasa di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu, aku katakan kepada kawanku aku tidak bisa dikotomi, biar dikata idealis, namun aku juga realistis, jadi aku tidak bisa hidup di salah satu opsi itu. Maka, pemahaman yang ada sekarang hanyalah tetap menjaga kewarasan dalam perjuangan yang konsisten, memang berat, tapi aku membuat pagar hidup untuk tidak kendat atau mati karena kesalahanku sendiri. Itu dulu.

Share:

Selasa, 16 November 2021

Gagal Manusia


"Pada sebuah pertemuan, 
memancing banyak perkara
Hingga rahasia hilang dipusaran sunyi 
Di situ aku gagal sebagai manusia.."

Memang aku makin bertambah pengetahuan sabar dan mungkin kerelaan, berjalan aku terus tetap saja tiada yang benar-benar tahu, paham, bahkan mengerti suatu keadaan. Sehingga dengan terpaksa pengakuan lahir secara prematur dan terseok-seok pada tubuh yang tak mengenal jiwa, hilang begitu saja. 

Saat tahu waktu seakan lebih dari dunia seisinya, berpacu itu bisa wajib, namun patrap dan empan papan adalah arah yang lebih baik. Tiada kuat menahan beban, tetap berpegang pada lembut doa-doa, yang tak ada banding jika ibu mengumandangkannya. Mempelajari senyum dan ikhlas sampai tanpa cacat, ah begitu berat betul, tapi mindset Tuhan meringankannya "Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan" (Al-'Ankabut 64).

Sebagai yang mengarah ke ranah bahasa, sastra, dan literasi aku sangat gagal menjelaskan kepada semua sehingga teman-temanku sendiri kesulitan menilai bagaimana sebenarnya keadaan itu. Toh bukannya sok-sokan, tetapi  terkadang rahasia memang lebih aman di kesunyian, dan biarlah semua berjalan sealamiah dan semengalir mungkin, kendati seorganik nampaknya. 

Titik tolak untuk mengukur judul ini adalah bahwa peran bahasa sebagai pengantar komunikasi haruslah diperhatikan. Dan satu fenomena tadi merupakan sedikit saja dari segala hal yang berhubungan dengan koneksi dan dialektika dalam pergaulan di berbagai lini dan segi. Gagal manusia bukanlah justifikasi kepada kegagalan dalam mencapai kesimpulan hidup sebagai seorang manusia, namun potensi itu masihlah bergerak dan maju ke depan, tidaklah hasil akhir untuk parameter kelayakan, kemanfaatan sebagai otentisitas manusia. 

Manusia sangatlah dialektis dan senantiasa bergerak, artinya bisa belajar dan mengalami sesuatu, itulah mengapa aku tidak pesimis dalam hidup ini. Dan sebenarnya aku tidak membicarakan siapa pun selain diriku sendiri, aku tidak punya data dan terasa kurang perlu jika hanya untuk membahas, mempersoalkan, dan apalagi mendiskusikan di dalam tulisan ini tentang orang lain, meski masih ada sedikit menyinggung untuk menjelaskan sesuatu hal. Sepenuhnya adalah soal kegagalanku yang sejauh ini belum bisa menguraikan kejadian dalam hidup, sampai-sampai banyak temanku memandangku aneh. Sudahlah, bukan masalah besar itu. 



Share:

Sabtu, 16 Oktober 2021

Membaca (Manusia) Rendra Lewat Al-Quran


Kemarin dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja. 

Langit di luar 
Langit di badan
Bersatu dalam jiwa. 

Rendra
Jogya, 1975


Apa menurutmu Rendra sadar dan mengetahui jika sajaknya adalah cermin dari apa yang dikatakan Al-Quran?. 

Tidak perlu jawaban untuk itu, sebab bila manusia berlaku dengan jujur dan menjalani kemurniannya, maka segala yang dilakukannya adalah ayat-ayat Tuhan. Bagaimana menjelaskannya sekali lagi jikalau Rendra ternyata diam-diam mempelajari lebih dari yang kita ketahui bersama. Manusia adalah cakrawala beserta rahasia nan sunyi. Boleh saja engkau rajin menceritakan segala sesuatu terkait dirimu, namun rahasia itu sendiri tidak bisa dibeberkan begitu saja, maksudnya adanya ketidakpahaman, dan tiadanya pengakuan menurutku juga berarti rahasia. Terang saja hal itu tidak tersebar secara masif. 

Sebagai yang pernah Allah firmankan:

"yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha waltangzhur nafsum maa qoddamat lighod, wattaqulloh, innalloha khobiirum bimaa ta'maluun"

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Bagaimana cara menjelaskan bahwa Rendra ternyata memahami ayat ini atau tidak bukanlah sesuatu yang krusial, tetapi kecocokan dan keterikatan perihal yang disajikan dalam sajaknya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Baris pertama dalam sajaknya adalah representasi dari Al-Hasyr ayat 18. Caranya memahami waktu sangat berkesinambungan dan terkoneksi nyata dalam Al-Quran.

Al-Quran mengabarkan kepada orang-orang beriman untuk memperhatikan dampak atau akibat dari perbuatannya di dunia. Memperhatikan di sini bisa berarti banyak hal, seperti mengukur, mengira-ngira, mensimulasikan, dan lain-lain. Sederhananya berbagai sebab dari perkara di dunia adalah gerbang dan jembatan untuk menuai akibatnya besok di akhirat. Nah, dengan pemahaman yang sama Rendra seperti dituntun Allah melalui cara berpikir yang serupa dengan Kitab-Nya lewat sajaknya itu. Jadi, jika berkaca bahwa yang namanya Al-Quran itu bukan hanya Alam dan mushaf memang benar adanya. Manusia pun ayat-ayat Allah yang berarti juga Al-Quran (Fussilat: 53). 

Baris/Satar kedua bermakna apa pun dalam kehidupan dapat dimaknai dan dihikmahi, jadi entah baik buruk atau untung rugi dan apa lagi dapat dinilai dengan cara berpikir yang nyegoro, komprehensif, dan adil. Maka, tidak ada parsial atau penggalan yang berpotensi rancu dan kurang dewasa dalam pemaknaan. 

Sedang bait kedua sampai akhir adalah pemanunggalan dan penyawijian jagat kecil dan jagat besar menjadi satu keutuhan. Karena memang segalanya bermula dari Tunggal dan kembali lagi manunggal, ilaihi rojiun. 
Share:

Kamis, 14 Oktober 2021

Penghinaan Fundamental Bagi Manusia


Ada kawan yang bimbang mengenai pertanyaan dari temannya yang menurutku berpotensi intimidatif. Dia bilang "Kuwe meh lapo nek Jogjo?" 

Sebuah pertanyaan yang menurutku menghina manusia dengan segala kualitasnya. Secara moral pun tidak enak jika tiada cuaca yang dibangun sebelumnya. Memang kenapa jika harus berjuang mati-matian katakanlah? selalu saja orang-orang melihat dari yang nampak saja, aku pun sepertinya tahu apa yang dipikirkan temannya itu, mungkin. 

Maka coba telaah dulu, Yogya bagi orang banyak dikata sebagai tempat belajar, membangun jati diri dan mengembangkan bakat yang terutama kesenian dan kesastraan tumbuh subur di sana, namun bila melihat dari sisi pandang teman kawan kita itu mungkin hanya men-shoot satu pandang saja, katakanlah wadak atau materi. Padahal setahuku dulu dia di Yogya juga cukup mengikuti "pergerakan" baik literasi maupun pergerakan lainnya. Dan lagi, kawanku satu beskem dengan temannya itu. 

Dengan bau Yogya dan kualitas yang jarang dimiliki tempat-tempat lain itu merupakan sebuah kesempatan, kans, dan peluang yang besar bagi manusia yang ingin tetap berproses di situ. Tidak mengherankan juga, temannya itu mestinya punya data dan alasan yang mendasar jika dia sampai bicara seperti itu, misalnya dia melihat teman kita itu sebagai karakter yang belum cukup mumpuni untuk melakukan suatu perubahan, entah seberapa skalanya, dalam hal ini di Yogya. 

Kedua, Yogya dipandang sebagai kota dengan Upah Minimum Kota terbilang rendah untuk ukuran kota madya dan salah satu kota terpopuler di Indonesia. Jadi, melihat dari sudut pandang kawannya itu sepertinya hanyalah soal wadak dan materi. Intinya hanya melihat sekilas dari apa yang terkonsep di akal pikirannya. 

Aku tidak rekonfirmasi kepada empunya yang bertanya, dan tidak perlu juga menurutku, aku hanya menangkap rasa dari apa yang diceritakan kawanku, dan rasa-rasanya aku seperti bisa merasakan intimidasi itu. Aku tidak bisa menganggap ini wajar atau tidak wajar, begitu yang aku katakan ke temanku bergantung bagaimana konteksnya, sebab banyak macam karakter manusia. Meski yang lain menganggap wajar dan bahkan mengatakan lebay, tapi bagiku ini cakrawala. 

Selain itu, pertanyaan di atas pun berlaku untuk semua, artinya pertanyaan "Kuwe meh lapo nek Jogjo" Pun untuk "Kuwe meh lapo nek (di mana pun) saja. Aku merespon ini karena berbahaya menurutku jika pertanyaan tadi menjadi wajar saja dan jadi pertanyaan global tanpa pemahaman dan pemaknaan lebih lanjut. Alih-alih untuk pembelajaran, malah mungkin jadi dogma, maka aku tidak bisa saja nyaman dengan kata 'wajar' wajar saja. 
Share:

Minggu, 08 Agustus 2021

Embun #25


Keindahan adalah aras tertinggi dari pondasi awal yang namanya kebaikan, setelahnya wujud keberlangsungan kebaikan itu diungkap sebagai ilmu dan kemudian terus bertransformasi jadi kebijaksanaan jika telah matang sebagai pengalaman, khatam dengan semuanya maka muncullah kemuliaan. 

Share:

Embun #24


Ada banyak hal puitis yang banyak diungkapkan orang, tapi sedikit orang yang bisa benar-benar mengungkapkanya. Senja atau fajar adalah perihal keindahan yang luar biasa, namun sampai sejauh mana manusia dapat memaknainya, selain hanya pemahaman material.

Share:

Minggu, 01 Agustus 2021

Embun #23


Memberi makna adalah memaknai apa pun meski dinilai tidak bermakna, karena sesungguhnya semua dapat dimaknai dengan dalam dan sublim. Kalau ada sesuatu hal di kehidupan ini yang tidak dapat dimaknai, maka itu menegasikan kalam Allah "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka". 

Dan itu berlaku bagi orang yang berakal, di sini idiom yang digunakan Allah adalah Ulil Albab. Tingkat di mana dalam keadaan apa pun manusia memikirkan kejadian alam semesta. 
Share:

Adoh-adoh Rantau Kerjo Ngene


Pernyataan yang terlontar dari seorang teman di tempat kerja membuatku tertawa sekaligus terhina, terhina, tapi tertawa. Itu kesan pertama ketika aku mendengarnya langsung darinya.

Kata-kata yang muncul di tengah guyonan itu menggugahku menulis ini haha.

"Adoh-adoh rantau kerjo ngene (kasar)"

Intinya seperti itu, dalam kurung aku lengkapi, karena memang itu yang sebenarnya ingin disampaikan.

Apa benar-benar terhina dan tertawa?

Sebenarnya lucu juga jika mengingatnya, sungguh. Dia lulusan SMK langsung kerja di tempat yang sama, aku tidak perlu mengorek jauh tentangnya, jelas yang ia katakan kepadaku, pernyataan polos nan jujur itu membawaku menjawabnya melalui tulisan yang lebih lebar.

Secara umum dan kasar pernyataan tadi membuat asumsi jika lulusan S1 atau alumni kampus mahasiswa sebenarnya sama saja kurang dapat diandalkan, tapi aku beri dia jawaban simpel dan spontan, dan itu memahamkannya. Intinya di tengah pandemi seperti ini pilihanku tidak banyak dalam menentukan pekerjaan, dan di tempatku sekarang jawabannya.

Aku juga tidak menyangkal akan asumsi sarjana dapat diandalkan atau tidak, itu ada koridor lain untuk membahasnya. Soal terhina aku malah tertawa dan justru itulah sebuah hiburan menurutku.


18 Mei 2020

Share:

Embun #22


Menyuap Tuhan bukan karena sambat akan penderitaan, shodaqoh banyak-banyak, dan atau menghibahkan segalanya untuk kehidupan atau sebagainya. Meski menurut susoroku wajar jika manusia sampai sambat perihal penderitaan hidup, tetap saja semua bergantung Tuhan, hal-hal tadi bisa saja menjadi katalis, tapi posisi manusia hanya hamba yang diberi rahmat atau laknat, sebab ridlo atau kafir. 
Share: