Di sini Ceritanya Wongsello


Minggu, 28 Januari 2018

Masih Soal Dilan


HAI Online - Grab.ID


Agaknya film Dilan yang baru rilis telah banyak mengundang perhatian khususnya kawula muda, bahkan orang dewasa juga ikut serta. Namun rasanya terlalu berlebihan jika dikata film Dilan mempengaruhi para remaja bahkan mahasiswi untuk berimajinasi walaupun bukan salah juga asumsi itu. Mungkin hanya sebagian saja dan bukan seluruhnya.

Begini, Setelah membaca di mojok.co terkait seorang dosen yang menyurati Pidi Baiq soal film terbaru yang diambil dari buku Dilan-nya sudah banyak tersebar dan terakhir saya cek di facebook sudah lebih dari seratus kali dibagikan warga net. Tapi bukan itu titik ledak yang akan saya fokuskan.
Di sana beliau si Dosen terlihat resah dan sambat kalau diamati dalam surat yang ditulisnya kepada kang Pidi Baiq yang menceritakan kalau sekarang mahasiswanya gampang memberatkan suatu hal/tugas yang maklum bagi mahasiswa. Mungkin soal skripsi dan selainnya. Sampai ada yang berimajinasi jika Dilan yang menjadi dosen, Misalnya "Skripsi ini terlalu berat kamu gak akan kuat, biar aku saja!".  Dan karakter Dilan yang kini jadi dambaan mereka. Sederhananya saat ini Dilan menjadi tokoh semi realis yang kehadirannya ditunggu untuk ada secara real dan eksis bagi kaum hawa, tentunya.

Beliau pak Dosen melihat mahasiswanya terinspirasi dari dialog Dilan tersebut sehingga mereka mengotak-atik sedemikian rupa kalimat baru yang terkait dengan aktivitas mereka. Dan juga mahasiswa terkesan menganggap pahlawan bagi mereka yang bersedia mengambil tugas darinya menurut pak dosen.

Ada lagi dialog Dilan yang diselewahkan berikut: 
"Kamu cantik, tapi aku belum suka, entah nanti sore belum tahu".


Kalau mahasiswa..

"Pelajaran bapak menarik, tapi saya belum pingin ambil, entah semester depan belum tahu".
Sederhana saja. Kalau melihat apa yang ingin disampaikan beliau pak dosen rasanya miris juga bahwa untuk ukuran mahasiswa masih terbawa suasana film yang diperankan oleh seorang Iqbal yang masih sekolah.

Mulanya saya tidak tahu menahu soal Dilan hanya memang saya lihat bukunya di toko buku namun, tidak beli dan sekarang pun tidak beli, bahkan filmnya juga belum lihat selain sedikit penggalannya saja.

Intinya remaja pemuda kita ini masih suka hal romantisme yang tetap eksis dan marketeble di pasaran. Bukan tidak mungkin jika bangsa ini di konsumsi barang begituan terus-menerus akan jadi cemen mentalnya. Dan hanya berkutat soal Cinta, rindu, dan pacaran saja. Bukan soal melarang, tapi memang diakui kalau suatu film dapat mempengaruhi orang (yang dalam keadaannya mirip dengan karakter film tersebut).
Sebetulnya masih ada lagi yang ingin disampaikan namun, tiba-tiba jadi tidak ingin lagi. Ya sudah oke Dilan haha.
Share:

Jumat, 26 Januari 2018

Korban Media

www.nyeloisme.com


Tadi sekali sebelum jumatan pas makan soto depan Masjid Baitul Arqom Sorowajan Baru Banguntapan Bantul Yogyakarta saya mendengar percakapan embak-embak yang sedang membicarakan suatu film baru kalau tidak salah. Agak samar filmnya apa, tapi menurut perkiraan sepertinya film Dilan yang tengah launching. Semua terdengar biasa saja, mulanya agak cuek dengan kelakuan mereka dan tidak berniat nguping namun, ada satu hal yang menarik saya untuk mendengarkan.

Ya, kalau mengutip dari penggalan apa yang dikatakannya begini.

"Ya aku juga belum lihat sendiri filmnya, tapi kalau nanti ada yang review bagus aku juga akan lihat sih".

Kurang lebihnya kayak gitu. Nah sekilas mungkin terdengar percakapan yang umum. Namun, kalau saya sendiri mendengar itu agak mikir. Jadi, maksudnya mereka nonton film hanya karena ada review dari orang-orang yang dikiranya bagus, apakah sebuah film terbilang apik atau tidak, apakah film itu layak konsumsi atau tak, dapat menampung gairah api jiwa mereka atau no, marketable atau gak. Intinya mereka hanya menunggu atau nyagerke orang lain untuk menilai apakah sebuah karya pantas tonton atau tidak. Dan tidak ingin melihat sendiri untuk mencari kesimpulan atas diri pribadi yang lebih murni.

Lalu jika tiada yang menanggapi karya terkait bagus tidaknya kan kita tidak tahu kalau tak mau mencari tahu. Bukankah ini mental yang mudah dijajah. Ini kan korban media namanya. Kalau menurut saya kita juga harus lihat sendiri, cari sendiri juga untuk menganalisa sebuah karya untuk melihat nilainya di mana, bagusnya di mana. Tahu letak moralnya dll bukan hanya menanti orang untuk mendapat referensi aman terkait sebuah fenomena. Oke Dilan ehh.. Wkwkwk.. 
Share:

Minggu, 21 Januari 2018

Wak Sambat, Wong Selo: Dua Nama Yang Sering Disalahpahami



www.wsselo.com


Saya sering dianggap wong selo yang kebiasaan melakukan hal-hal yang dianggap kurang penggawean kalau kata orang Jawa. Mungkin menganalisis Anime, berpikir tentang soal-soal yang nyeleneh dan sebagainya. Dan juga biasa disebut wak sambat, apa itu? Mereka pikir wak sambat adalah orang yang selalu sambat dengan segala sesuatu, bahkan yang paling sepele, remeh temeh dll. Dan itu ditujukannya kepada saya.

Bukan salah, karena memang yang mempopulerkan dua nama itu adalah saya. Namun, kalau boleh saya klarifikasi sebenarnya nama itu bukanlah semata-mata tentang diri atau hidup saya, melainkan lebih jauh dan luas lagi, yakni semua orang.

Agaknya kebanyakan orang berpikiran mikro dalam memahami istilah tersebut, bukannya makro. Yang sebetulnya saya ingin sampaikan yaitu menyindir semua orang itu yang sedikit-sedikit sambat, apa-apa mengeluh, ini-itu dianggap terlalu serius dsb. Untuk itulah saya menggunakan nama wak sambat. Sedang (wak) sendiri merupakan panggilan akrab kepada orang yang lebih tua, boleh juga tak akrab di daerah sana Pati Utara, ya setara dengan sapaan (lek).Yang biasa memanggil seperti itu anak-anak atau murid kepada penjual pentol katakanlah. Nah seperti itu. Jadi bukan seluruhnya itu saya, bukanlah karena saya sering sambat atau semacamnya, tetapi itu sindiran untuk kita semua yang biasa seperti itu kenyataannya.

Kemudian wong selo, bagaimana nama ini lahir?. Bermula dari saya sering menganalisis anime One Piece orang-orang berkesimpulan saya melakukan sesuatu yang selo bagi mereka. Mungkin bisa diartikan tidak ada gunanya, mungkin sih. Pada hal jika melihat secara makro dan teliti, bukankah ada yang lebih selo lagi dari pada yang saya lakukan. Nonton TV, main game dll bukankah itu lebih selo lagi ketimbang analisis komik?!. Lho, lha wong analisis menelurkan karya kok dibilang perbuatan selo, ya nggak keliru juga sih, tapi maksudnya kita ingin mencari tahu dengan menganalisa dan mengamati sebuah karya sekaligus memprediksi barangkali atau melihat ke depan yang mungkin saja mirip dengan apa yang kita pikirkan, begitu tok kok.

Jadi, jelas kalau kedua nama itu lahir dari pengalaman dan tentang konstelasi yang sedang berlangsung secara kontinu katakanlah. Bukan semata-mata saya buat begitu saja, tetapi ada maksud yang ingin saya sampaikan yakni menyindir kita semua (mulanya). Menyindir kok menerangkan secara gamblang seperti ini, jadi batallah sindiran saya karena penjelasan ini. Karena banyaknya yang salah paham, maka perlulah bagi saya untuk membuat tulisan ini sekian.
Share:

Rabu, 03 Januari 2018

Sajak Tanya


        WWW. "What We Want?" : Seni Abstrak



Berapa dunia telah kau tempati

Berapa alam telah kau  singgahi

Berapa langit telah kau lewati

Berapa lautan telah kau seberangi

Berapa gunung telah kau daki

Berapa jurang telah kau terjuni

Berapa belantara telah kau jelajahi

Berapa malam telah kau lalui

Berapa buku telah kau habiskan

Berapa cangkir kopi telah kau seduhi

Lalu aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu

Setelah menempuh semua itu

Kebijaksanaan seperti apa yang sudah kau dapati? 
Share:

Senin, 01 Januari 2018

Musim Kok Disalahkan


                              Republika Online 

Dingin ya.. 
Iya, kenapa ya sekarang banyak orang yang flu dan meriang? 
Emang musimnya kok, ya wajar. 
Em gitu ya..


Pernah mendengar percakapan seperti itu?

Saya yakin banyak yang pernah mengalami dan bahkan mungkin kita sendiri yang mengatakannya. Akan tetapi, jika dikejar lagi apakah kalimatnya berhenti disitu? Kalau hanya melihat sebatas dan sesederhana itu mana mungkin dapat kesimpulan padat yang positif. Alih-alih untuk menganalisa  dan menyimpulkan keadaan malah memberi pengawuran dalam meregulasi kahanan.
Satu yang pasti, musim itu buatan Tuhan. Karena manusia tidak mungkin bisa melakukan hal yang sebesar itu, maka itu bagian peranan Tuhan dalam menyeimbangkan semesta raya ini. Baik, mengenai persoalan musim yang di kambing hitamkan jadi penyebab sakit atau musibah seseorang menurut saya seperti ini.

Ada rumus yang mengatakan "Robbana ma kholaqta hadza bathila" Sungguh tiada yang sia-sia dalam penciptaan ini. Berangkat dari sudut pandang itu saya mencoba mengelaborasi dan mengamati apa yang Tuhan katakan. Jelas, bahwa semua yang ada di dunia semua ini tak ada yang sia-sia, jadi jika ditarik kesimpulan singkat padat musim itu dari Tuhan yang disampaikan melalui gejala alam yang telah membaca formula-Nya.
Kalau tiba-tiba saja kita menuduh musim karena menyebabkan penyakit dan lain-lain apa itu tidak kelewat berani untuk mengatakan jika Tuhan menyebabkan sakit dan musibah. Dalam artian kita menyalahkan Tuhan dengan segala kepastian-Nya. Okelah memang semua dari Tuhan, sehat maupun sakit, tapi bukan berarti kita menyalahkan setiap keadaan. Kita coba cek dulu sudah bekerja all out apa belum, potensi kita sudah Mentok apa belum?!.

Menurut saya, bergantung bagaimana kita menyikapi dan menjaga diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Lha wong kita yang lemah dan bodoh kok menyalahkan musim terkait penyebab terjadinya penyakit. Kalau kita bisa antisipasi dengan segala probabilitas, maka yakinlah insya alloh dapat aman aman saja, lagi pula bukankah dalam raga setiap makhluk mempunyai kekuatan yang besar. Pertanyaannya itu kemampuan, kekuatan kita gunakan dengan maksimal atau tak!. Itu sederhana saja. Sementara ini begini.

                                      Yogyakarta 
                                      Ahad, 31 Desember 2017
Share:

Jumat, 29 Desember 2017

Fajar Senja Yang Tak Kunjung Selesai


                           R. Amin Sikak.com

Layaknya Snow ball yang terus menggelinding tanpa ujung. Senja, Fajar dan apapun itulah yang sekiranya menawan pemandangan dan menarik kamera untuk men-shoot tiap angel yang di tawarkan acapkali telah membuat manusia keseringan membahasnya, atau dengan sederhana dielu-elukan dan ada sebagian yang membandingkan antara keduanya itu, Fajar dan Senja lebih Indah mana?.

Ini sebenarnya pertanyaan default yang umum, tapi mungkin jarang di lontarkan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang cukup selo untuk mencari-carinya. Ada yang berpendapat kalau Senja itu lebih indah dengan segala kilau semburat warna kuning merah nyala dapat menembus gumpalan awan sore. Yang lain berargumen bahwa Fajar lebih menawan karena untuk menemuinya saja harus berpayah-payah bangun pagi, dengan tangisan, dan lainnya. Apalagi jika dilihat dari cahaya yang mencuat keluar dari ufuknya ini menjadikan Pagi/fajar seperti menemui kelahirannya kembali atau kelahiran baru bagi kosmos semesta raya ini. Pun dapat dianalogikan dengan kelahiran jiwa baru atau manusia baru bagi mereka yang menterjemahkan.

Saya gak akan condong di salah satu pihak. Namun, akan memberikan opsi lagi terkait Fajar dan Senja yang tiap hari kita jumpai agar hidup ini lebih banyak variasi dalam pemandangan.

Kalau menurut saya, kita ini hanya fokus di titik awal dan akhir, ah atau begini saja kebanyakan manusia lebih suka kesimpulan ketimbang memulai dan mengawali suatu hal. Jelas kan, kita sering bangun siang dan menyia-nyiakan pagi hari dan untuk mencari gantinya manusia menunggu waktu sore hari untuk melihat senja dan diabadikan, kita biasa menumpuk tugas dan belajar ketika ujian kebanyakan hanya di akhir menjelang deadline, iya kan!. Itu adalah momen yang siapa saja bisa larut dalam ke-senja-an nya. Jadi jika dilihat dari perspektif ini pihak senja terasa terdiskreditkan karena mereka hanya mencoba mencari kesimpulan di akhir waktu. Sedangkan yang pro Fajar melihat dari sudut pandang reinkarnasi atau kelahiran baru bagi mereka yang menghendaki. Artinya orang menanti Fajar bukan karena untuk mencari kesimpulan waktu atau momen, tapi mencari jiwa baru yang mungkin dalam tanda kutip "Tuhan berikan bagi yang siap jiwanya dilahirkan kembali". Entahlah, ini hanya asumsi. Kalian boleh menolak, tapi jangan langsung diterima, sebab elaborasi di setiap hal dan keadaan itu perlu. Jadi di titik ini Fajar lebih well. 

Sementara, kalau saya sendiri melihat kedua soal itu tidak sebagai suatu hal atau blok yang berbeda dan terbagi dua, tetapi itu satu. Maksud saya, Fajar dan Senja itu satu, bukan dua hal yang crash. Jika dikatakan layaknya dua sisi mata uang mungkin boleh lah, tapi kalau dianggap dua yang beda itu saya tidak setuju. Lihat, cahaya Fajar dan Senja itu satu kesatuan yang mungkin terlihat memisah namun, sebetulnya tidak. Dilihat dari sini cahaya Fajar, kalau dari sana terlihat senja atau sore, padahal itu sumbernya sama yaitu matahari. Jadi gak mungkin kalau dua momen itu beda, itu sama!. Hanya saja hal tersebut terjadi memang akibat dari rotasi revolusi bumi yang mengelilingi matahari, apalagi kedua benda itu bulat.

Bagi saya, Fajar dan Senja merupakan lukisan Tuhan yang Indah. Jadi, dalam 24 jam sehari Tuhan membikim lukisan sedikitnya dua kali atau dua momen itu. Nanti ada banyak lagi lukisan lainnya, hanya saja kita belum mengetahui secara jelas. Kalau sering membahas Fajar dan Senja tok, nanti bakal ada yang ter-dholimi. Bukankah masih ada ruang, space, volume yang masih eksis diantara dua momen itu. Memangnya siang bukan momen? Apakah yang menjelang menjelang itu tidak momen?. Itu semua ada ukurannya sehingga titik kulminasi berada di puncak hari (siang). Karena sebagai stabilisator atau penyeimbang waktu harian. Jelas ya, Tuhan pun melukis. Ini hanya cara pandang. Jangan di paksakan kalau ta setuju. Semua ada koneksitasnya, tinggal merangkai-rangkai saja.

Ada yang mengatakan Fajar itu selamat datang dan sore/senja selamat tinggal. Ya terserah lah, tapi juga bukan berarti begitu juga. Karena masih ada siang, masih ada malam yang mungkin terjadi. Masih banyak probabilitas, jadi santai saja. Dan kalau matahari sudah terbit dari barat ya sudah semuanya, wassalam.
Share:

Selasa, 24 Oktober 2017

Hari Santri, Aksi apa (cuma) Refleksi?!


                                   tabayuna.com


             


Baru beberapa tahun saja sejak dicantumkannya hari santri berskala nasional telah begitu banyak sambutan dan apresiasi, khususnya santri. Tepatnya pada tanggal 15 Oktober tahun 2015, Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Mengapa sampai pada santri? Maka yang dapat menjawab adalah mereka yang membaca sejarah. Tentu saja!. Tiada alasan ngawur jika tiba-tiba santri dijadikan salah satu dari hari-hari besar yang tertera di tanggalan. 


Jika dilihat dari sejarahnya, kemerdekaan Indonesia tidak pernah lepas dikaitkan dengan kaum santri. Mereka turut aktif berpartisipasi dalam pembelaan menyongsong hari lahirnya bangsa Indonesia. Mengorbankan jiwa dan raganya untuk suatu perubahan besar yaitu berarti melepaskan diri dari penjajahan atau kolonialisme bagi masyarakat Indonesia sendiri. Dan kini, mereka yang telah berjuang demi membebaskan dalam arti kemerdekaan dulu dikenang dengan diberi satu kuota hari untuk mengenang perjuangan mereka [santri] yakni "Hari Santri Nasional". 


Diketahui bahwa kehidupan santri dahulu dikenal sangat dekat dengan kiai dan alamnya, jadi kekerabatan sosial mereka tinggi jika dilihat cara mereka berinteraksi satu sama lain. Dan yang membuat mereka santri ini memiliki sifat Sam'an wa Tho'atan kepada kiainya juga termasuk dalam pelajaran berikut pendidikan yang diberikan gurunya sendiri yang tak lain adalah seorang kiai. Kalau santri sekarang sedikit-sedikit pulang kampung, susah sedikit sambat, dan lain-lain, tetapi santri jaman dulu tidak pulang jika ngangsu ilmunya belum cukup untuk mengurangi dahaga keilmuan bagi masyarakat desanya. Jika, dulu mereka bandel atau tidak memperhatikan ketika mengaji, kiainya tidak segan untuk menegurnya bahkan melakukan kontak fisik secara langsung. Dan jangan artikan kontak fisik itu cuma di jewer atau apa, lebih dari itu!.  Ada yang dilempari penghapus dengan keras, dipukul dan banyak lagi yang lain, mungkin dipukul atau cara-cara hukuman yang tidak selayaknya diterapkan seperti dewasa ini yang sedikit-sedikit dibawa ke ranah hukum!. Akan tetapi, hasil sejati memang selalu di belakang. Lihatlah, bibit-bibit yang ditanam kiai jaman perjuangan itu!. Mereka telah menyumbangkan kontribusi besar bagi Indonesia Raya ini meliputi beragam hal, apalagi soal keilmuan. Jelas dan terang dalam mewarnai pengetahuan masyarakat Indonesia sebagai sebuah desa dengan skala yang besar. 
Keikhlasan kiainya telah membikin para santri itu menjadi manusia yang paripurna. Santri rajin kiai mendoakan. Dan masing-masing saling mendoakan dengan diam-diam melalui tahajud maupun selainnya. Santrinya mempuasai kiyainya begitu pula sebaliknya kiai mempuasai santrinya. Tiap malam didoakan dalam sujud dan saling mesra dalam bebarengan telah menjadikan santri pada jamannya manusia yang seutuhnya dan barokah ilmunya. Mengerti akan artinya kehidupan sebagai pelayan dan abdi bagi Yang Maha Kuasa. Salah satunya dengan melayani kebutuhan masyarakat, khususnya di bidang keilmuan, agama apalagi. 



Apabila santri dahulu diajari berkebun di ladang atau pun di sawah, itu juga termasuk bagian dari cara sang kiai mengajari mengaji, karena ngaji itu bukan melulu soal kitab dan buku. Adakalanya harus belajar di dan dari alam. Dan bukankah manusia juga bagian dari alam. Nah, itulah mengapa santri-santri jaman kemarin itu sungguh kompleks dan komplit dalam keilmuan. Tidak heran jika mereka siap meneruskan perjuangan gurunya dengan menjadi kiai atau ustadz juga di masyarakatnya setelah lulus atau boyong dari pondoknya. 


Baiklah, itu sekilas pandangan potret santri jaman dulu. 


Lalu bagaimana konstelasi santri jaman sekarang atau jaman _now_ yang lagi ngetrend istilahnya. Jadi, sebelumnya saya telah sedikit menyinggung tentang hal itu. Jika dilihat dari prakteknya, sepertinya santri sekarang telah mengalami dekadensi atau malah degradasi baik dalam praktek sosialisasinya maupun pribadinya yang biasa disebut seorang santri?. 


Penglihatan ini didapat karena mengamati tingkah laku santri sekarang dan _flashback_ ke masa lalu terkait bagaimana hubungan santri dengan kiai berikut beserta keterkaitannya dengan alam. Jadi, konklusi ini di dapat sebab melihat sejarah dan mengamati keadaan terkini hingga nantinya bisa menyimpulkan konstelasi soal santri. 
Kalau santri jaman dulu ulet, tekun, rajin, dan memiliki daya semangat yang besar dan kepatuhan sama kiainya begitu tinggi. Sekarang, sifat itu jarang dimiliki santri jaman sekarang. Mengapa? Satu alasan yang dapat saya berikan yakni karena kurangnya kesadaran bagi masing-masing komponen. Yang kiainya ada yang sibuk dengan urusannya, mungkin memenuhi undangan atau sebagainya, santrinya apalagi jelas kurang didikan dari kiai itu sendiri. Asupan rohani akan sangat berharga jika dilakukan dengan tepat dan terarah. Lha kalau kiainya saja sering mondar-mandir ke sana-ke mari, ya apa kabar santrinya apalagi. 


Setiap tahun kita akan terus seperti ini, yakni memperingati dan mengenang hari santri, layaknya berulang tahun, terus. Pertanyaannya, adakah kita hanya stagnan pada refleksi dan kontemplasi begini, selalu?!. Atau kita akan melakukan aksi untuk dapat menghidupkan budaya yang telah luntur itu? Sebagai generasi muda apa yang dapat di maknai serta di ambil dari peristiwa "Hari Santri" ini? Jawabannya ada di kita masing-masing.


Terus, kalau sudah begini bagaimana?. Saya memberikan ruang bagi kita semua untuk menjawab itu, saya tak mau menjawab soal itu!. 


                                      Yogyakarta, 22 Oktober  2017
Share:

Kamis, 21 September 2017

Sunset Asluhu Lungset

DataMP3

        Saya curiga kalau-kalau bahasa inggris itu banyak yang menyerap dari bahasa Jawa. Baiklah saya katakan saja mungkin sebagiannya saja. Jadi begini.. 

Sabar kak dalam proses analisa berpikir iki kwkakakkk 
Share:

Minggu, 17 September 2017

Tentang Jogja

                                ngapakers.com

"Semua Tentang Jogja" kota kecil dengan daya magnet luar biasa. Yang datang tak mau pergi, yang pergi akan datang kembali. Dari semula mencari ilmu di sini akan berakhir domisili di sini.

"Semua Tentang Jogja" yang tiap malam takkan pernah absen dalam acara dan ragam wacana. Tugu menyapamu, Malioboro mengundangmu, Pantai memanggilmu, dan semua menyalami lagi mengapresiasimu. Ketika malam yang mesra itu menjelang, semua akan keluar menyambut lalu menikmatinya. Hanya karena satu dudukan semalam saja kita akan dapat banyak pr dan pengalaman sekaligus menambah kuota berpikir [ngopi].

"Semua Tentang Jogja" ada yang bilang Jogja miniatur Indonesia. Ragam orang Nusantara saling tumpah ruah di sana dari Sabang sampai Merauke katakanlah. Ketika dingin yang sepi itu menepi, maka sudah tiba saatnya lah untuk menyepi. Seperti kata Soe Hok Gie "Kita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta". 
#Jogja Angkringan dan Kenangan 
#Salam aspal paping Tugu 
#Selamat menjalani aktivitas kembali lur 😊😊
Share: