Di sini Ceritanya Wongsello


Sabtu, 28 April 2018

Asumsi "Kaisar ke 5" Dan Status Quo SHP


Mangacan apl

Benar kata Kurohige, "Masih terlalu cepat bagimu menjadi kaisar! Topi Jerami". Tapi, untuk itulah Luffy harus membuktikan dan benar-benar mewujudkan status quo itu. Setelah apa yang dilakukannya di Whole Cake Island dengan sangat bombastis nilai buruannya melonjak drastis satu setengah miliar. Dan untuk menjawab soal "Kaisar", sepertinya ARC Wano akan jadi lebih menarik. Setelah ARC Whole Cake Big Mom sekarang pindah ke ARC Wano Kaido. Secara umum, Big Mom kalah, walau dia tidak dikalahkan, tapi dengan kehancuran kota dan dimentahkannya dua komandan terkuatnya itu sudah cukup membuktikan kekalahannya. Saya curiga nanti pasca dikalahkannya dua orang yonkou Big Mom dan Kaido oleh Luffy mereka akan berkoalisi dan sama-sama menghancurkan kelompok Topi Jerami. Kemudian setelah dua yonkou beres, baru saatnya berhadapan dengan dua yonkou lainnya yang saya perkiraan memang sengaja ditaruh belakangan oleh Oda untuk lawan terkuat Luffy. Tapi, entahlah. Yonkou Shanks pun telah bicara. 

Sementara dunia berikut kaigun, bajak laut kemudian tiap kerajaan dan masyarakat internasional yang kini dalam keadaan tercengang oleh perbuatan kelompok SHP yang dipimpin sang pewaris nama D "Moneky D Luffy" melalui koran-koran yang tersebar. Dengan berita besar itulah pertemuan yang akan diadakan angkatan laut berikut para Raja diseluruh dunia jadi kurang menarik dan terlihat membosankan pastinya. Bisa ditebak, besar kuota konferensi yang berlangsung akan membicarakan soal "Monkey D Luffy" dan kelompok Topi Jerami. Pelan namun pasti, dunia (One Piece) sudah mulai bisa membaca ke mana alur cerita bajak laut ini mengarah. Kehadiran nama Luffy telah merombak peta seluruh bajak laut yang ada. New World yang dikuasi empat kaisar bajak laut atau yang dikenal "Yonkou", kini keseimbangan itu telah goyah dan terancam akan kemunculan Monkey D Luffy. Dan di saat seperti inilah Dunia benar-benar memperhatikan dan mengikuti sepak terjang kelompok Topi Jerami. Inilah kisah petualangan di lautan One Piece.

Hanya wongselo yang mau kayak gini. Wassalam.. 
Share:

Sabtu, 21 April 2018

Soal Hari Kartini

RockingMama.com  


Saya sangat seneng jika para pemuda di tiap generasi mengenang pejuang-pejuangnya, pahlawan-pahlawannya hingga mempelajari pergulatan intelektual kepribadiannya pada zaman lampau dan mengabadikannya melalui sejarah-sejarah yang ada di buku-buku sekolah maupun tugu peringatan, nampak tilasnya dll. Sehingga suatu bangsa memiliki alasan untuk memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan dengan penuh semangat juang yang semata. Artinya generasi muda merasa memiliki misi untuk mengantar bangsanya menuju zaman baru yang mencerahkan karena mereka telah diajari para pahlawan nasional maupun pahlawan swasta dengan penuh rasa tanggung jawab memperjuangkan kemerdekaan kemudian kebenaran, lalu kebebasan, hingga mencapai entitas keadilan sosial.

Betapa konsep pancasila dan uud dibuat dengan sangat baik dan mengarah untuk keberlangsungan kehidupan negara. Hanya saja, walau seberapa bagusnya suatu konsep, konsensus, piagam atau selebihnya, tapi tidak akan terwujud jika stagnan di atas kertas perjanjian. Orang-orangnya lah subjek utama atas komitmen ijazah yang tertulis itu dalam rangka mewujudkan impian dan cita-cita nasional. Nenek moyang memberi berita, Pahlawan mengajarkan perjuangan memenuhi kemerdekaan, tokoh nasional menjalankan roda kenegaraan, Kiyai selaku resi yang menyegarkan sukma tiap orang dan mengajari keikhlasan, Budayawan sebagai wakil dari aspirasi rakyat yang bertugas mengawasi jalannya kepemimpinan yang berlangsung dan pemuda menjadi obor estafet  yang harus diemban menuju masa depan, hingga anak cucu menggenggam cahaya kebahagiaan yang abadi dihari kemudian. Begitulah ceritanya.

Hari ini hari peringatan Ibu kita Kartini, 21 April 2018. Tadinya tiada upaya menulis ini, tapi rasanya perlu juga. Soal Hari Kartini ini sebenarnya intinya sama dengan peringatan hari-hari besar lainnya. Pada hari Sumpah Pemuda di tiap 28 Oktober pernah saya menuliskan begini "Tiap 28 Oktober kita selalu di kapling memperingati hari sumpah pemuda, namun jika pemuda masih terus-menerus diam bukankah ini hanya semacam onani yang konyol". Pemasukan materi setiap saat harus berarti pula untuk didistribusikan kembali ke alam biar stabil, sering input tiada output sama saja dengan onani tanpa ejakulasi. Onani konyol. Yah, semoga itu asumsi yang keliru. Kita optimis untuk masa depan yang cerah.

Saya lihat banyak dari perempuan-perempuan Indonesia yang tengah mengenakan kebaya di hari kartini ini, itu bagus, tapi ketika diekspos ke media bukannya melarang namun, mengapa rasanya seperti menjadikan subordinasi upacara peringatan hari besar kartini itu?. Seolah ingin bilang bahwa "Ini lho aku memperingati hari kartini" dan seakan hari Kartini cuman soal kebaya tok atau semacamnya. Semoga saya salah. Dan saya kira kita butuh sosok real Kartini di kehidupan milenial ini, sebab orang Indonesia mudah untuk mengikuti trend dan gampang viral, makanya jika ada tokoh menarik yang muncul di permukaan dapat memberi pandangan baru bagi anak-anak muda untuk mendonasikan dan menginfakkan sebagian tenaganya untuk masa depan bangsanya.

Menurut saya, untuk melahirkan tokoh  sekaliber Kartini lagi, barangkali bisa dimulai untuk mengajari anak-anak kita sedini mungkin. Misalnya, kalau bisa jangan biarkan anak kita menyadari atau terlena dengan kecantikan yang ia miliki, sebab sekali ia mengetahui itu dan hidupnya sudah di sibukkan melalui cermin, baju, dan foto, maka kedepannya saya kurang bisa menjamin. Dengan catatan ia benar-benar terlena!. Solusinya dengan membantunya menemukan kemampuan potensial yang dimilikinya, apa pun yang disukai anak-anak (yang baik), kita temani dan arahkan hingga menjadikannya hobi kemudian bertransformasi jadi master, maestro, dan ahli. Kalau boleh pinjam kata-katanya Khalil Gibran "Anak-anak kalian bukanlah anak-anak kalian, kalian boleh memberikan kasih sayang, tapi jangan beri pikiran kalian, sebab kehidupan tidak berjalan mundur di zaman kalian" dan ini pun senada dengan yang dipikirkan R.A Kartini "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pandangannya sudah diperluas, maka ia tidak akan sanggup lagi hidup di dalam zaman nenek moyangnya"

Generasi baru selalu punya pikirannya sendiri, biarkan mereka mengeksplorasi potensi terbaiknya dengan membantu mengarahkan, tapi jangan sekali-kali mendikte bahkan mendoktrinnya, karena setiap anak lahir dengan keunikan masing-masing dan punya daya kreativitas yang dinamis. Benar kalau masa lalu adalah sejarah, namun masa depan adalah harapan yang harus diperjuangkan, sebab tiada yang tahu itulah alasan mengapa harus diperjuangkan sejalan dengan berkembangnya semesta alam ini. Wassallam.
Share:

Minggu, 04 Februari 2018

One Piece Chapter 893 "Begitulah Pendekar Sejati"



www.samehadaku.net

#One Piece Chapter 893

Dalam pertempuran ini Oda menunjukkan kalibernya Katakuri sebagai seorang Komandan terkuat Big Mom yang sedang bertarung. Ketika Katakuri menyadari bahwa Flampe membantunya dalam pertempuran, dengan tiba-tiba ia mengarahkan tombaknya ke dirinya sendiri sebagai balasan atas perbuatannya yang telah menikam Luffy dalam keadaan lemah tak berdaya karena terkena jarum tak bersuara dari Flampe. Katakuri sangat malu dengan kelakuan adiknya itu, karenanya ia harus juga melukai tubuhnya sebagai perimbangan kepada Luffy. Dan sebagai ganti dari rasa hormatnya, ia mengakui Luffy sebagai lawan yang selevel.

Itulah yang menunjukkan kelasnya pendekar, bukan hanya komandan. Dan Katakuri menjadi bagian dari salah satu tipe tersebut. Dalam duel yang serius dan sakral, sifat dari kedua lawan akan terlihat dengan sendirinya di tengah pertempuran. Melihat ada suatu kejanggalan ketika bertarung, maka analisa dari kedua pihak akan mempengaruhi serangan-serangan berikutnya. Jika pendekar sejati, ia akan menghormati lawan dengan menunggu untuk bangun dan bertempur lagi, tidak langsung menyerang dengan frontal dan tanpa ampun, tanpa memberi kesempatan kepada musuh (arogan). Karena itu adalah sifat penghormatan. Kalau memang sudah tidak bisa bangkit lagi, berarti kau lah pemenangnya namun, jika lawanmu tiada berdaya lalu kau masih saja menyerang, maka bukanlah yang namanya pendekar. Kau lakukan hanya karena takut kalah! Itu saja. Pendekar tidak takut kalah. Lebih baik kalah terhormat ketimbang menang dari kecurangan.

Dan dalam cerita chapter 893 ini, sang mangaka berusaha menceritakan kepada pembaca budiman bahwa mereka Luffy dan Katakuri termasuk bagian dari pendekar-pendekar yang sejati, karena menghormati satu sama lain.

Dalam duel yang menentukan, bantuan janganlah dilakukan. Dalam duel yang terhormat, bantuan tidaklah diperlukan!.


        Baitul Arqom Yogyakarta, 04 Februari 2018
Share:

Minggu, 28 Januari 2018

Masih Soal Dilan


HAI Online - Grab.ID


Agaknya film Dilan yang baru rilis telah banyak mengundang perhatian khususnya kawula muda, bahkan orang dewasa juga ikut serta. Namun rasanya terlalu berlebihan jika dikata film Dilan mempengaruhi para remaja bahkan mahasiswi untuk berimajinasi walaupun bukan salah juga asumsi itu. Mungkin hanya sebagian saja dan bukan seluruhnya.

Begini, Setelah membaca di mojok.co terkait seorang dosen yang menyurati Pidi Baiq soal film terbaru yang diambil dari buku Dilan-nya sudah banyak tersebar dan terakhir saya cek di facebook sudah lebih dari seratus kali dibagikan warga net. Tapi bukan itu titik ledak yang akan saya fokuskan.
Di sana beliau si Dosen terlihat resah dan sambat kalau diamati dalam surat yang ditulisnya kepada kang Pidi Baiq yang menceritakan kalau sekarang mahasiswanya gampang memberatkan suatu hal/tugas yang maklum bagi mahasiswa. Mungkin soal skripsi dan selainnya. Sampai ada yang berimajinasi jika Dilan yang menjadi dosen, Misalnya "Skripsi ini terlalu berat kamu gak akan kuat, biar aku saja!".  Dan karakter Dilan yang kini jadi dambaan mereka. Sederhananya saat ini Dilan menjadi tokoh semi realis yang kehadirannya ditunggu untuk ada secara real dan eksis bagi kaum hawa, tentunya.

Beliau pak Dosen melihat mahasiswanya terinspirasi dari dialog Dilan tersebut sehingga mereka mengotak-atik sedemikian rupa kalimat baru yang terkait dengan aktivitas mereka. Dan juga mahasiswa terkesan menganggap pahlawan bagi mereka yang bersedia mengambil tugas darinya menurut pak dosen.

Ada lagi dialog Dilan yang diselewahkan berikut: 
"Kamu cantik, tapi aku belum suka, entah nanti sore belum tahu".


Kalau mahasiswa..

"Pelajaran bapak menarik, tapi saya belum pingin ambil, entah semester depan belum tahu".
Sederhana saja. Kalau melihat apa yang ingin disampaikan beliau pak dosen rasanya miris juga bahwa untuk ukuran mahasiswa masih terbawa suasana film yang diperankan oleh seorang Iqbal yang masih sekolah.

Mulanya saya tidak tahu menahu soal Dilan hanya memang saya lihat bukunya di toko buku namun, tidak beli dan sekarang pun tidak beli, bahkan filmnya juga belum lihat selain sedikit penggalannya saja.

Intinya remaja pemuda kita ini masih suka hal romantisme yang tetap eksis dan marketeble di pasaran. Bukan tidak mungkin jika bangsa ini di konsumsi barang begituan terus-menerus akan jadi cemen mentalnya. Dan hanya berkutat soal Cinta, rindu, dan pacaran saja. Bukan soal melarang, tapi memang diakui kalau suatu film dapat mempengaruhi orang (yang dalam keadaannya mirip dengan karakter film tersebut).
Sebetulnya masih ada lagi yang ingin disampaikan namun, tiba-tiba jadi tidak ingin lagi. Ya sudah oke Dilan haha.
Share:

Jumat, 26 Januari 2018

Korban Media

www.nyeloisme.com


Tadi sekali sebelum jumatan pas makan soto depan Masjid Baitul Arqom Sorowajan Baru Banguntapan Bantul Yogyakarta saya mendengar percakapan embak-embak yang sedang membicarakan suatu film baru kalau tidak salah. Agak samar filmnya apa, tapi menurut perkiraan sepertinya film Dilan yang tengah launching. Semua terdengar biasa saja, mulanya agak cuek dengan kelakuan mereka dan tidak berniat nguping namun, ada satu hal yang menarik saya untuk mendengarkan.

Ya, kalau mengutip dari penggalan apa yang dikatakannya begini.

"Ya aku juga belum lihat sendiri filmnya, tapi kalau nanti ada yang review bagus aku juga akan lihat sih".

Kurang lebihnya kayak gitu. Nah sekilas mungkin terdengar percakapan yang umum. Namun, kalau saya sendiri mendengar itu agak mikir. Jadi, maksudnya mereka nonton film hanya karena ada review dari orang-orang yang dikiranya bagus, apakah sebuah film terbilang apik atau tidak, apakah film itu layak konsumsi atau tak, dapat menampung gairah api jiwa mereka atau no, marketable atau gak. Intinya mereka hanya menunggu atau nyagerke orang lain untuk menilai apakah sebuah karya pantas tonton atau tidak. Dan tidak ingin melihat sendiri untuk mencari kesimpulan atas diri pribadi yang lebih murni.

Lalu jika tiada yang menanggapi karya terkait bagus tidaknya kan kita tidak tahu kalau tak mau mencari tahu. Bukankah ini mental yang mudah dijajah. Ini kan korban media namanya. Kalau menurut saya kita juga harus lihat sendiri, cari sendiri juga untuk menganalisa sebuah karya untuk melihat nilainya di mana, bagusnya di mana. Tahu letak moralnya dll bukan hanya menanti orang untuk mendapat referensi aman terkait sebuah fenomena. Oke Dilan ehh.. Wkwkwk.. 
Share:

Minggu, 21 Januari 2018

Wak Sambat, Wong Selo: Dua Nama Yang Sering Disalahpahami



www.wsselo.com


Saya sering dianggap wong selo yang kebiasaan melakukan hal-hal yang dianggap kurang penggawean kalau kata orang Jawa. Mungkin menganalisis Anime, berpikir tentang soal-soal yang nyeleneh dan sebagainya. Dan juga biasa disebut wak sambat, apa itu? Mereka pikir wak sambat adalah orang yang selalu sambat dengan segala sesuatu, bahkan yang paling sepele, remeh temeh dll. Dan itu ditujukannya kepada saya.

Bukan salah, karena memang yang mempopulerkan dua nama itu adalah saya. Namun, kalau boleh saya klarifikasi sebenarnya nama itu bukanlah semata-mata tentang diri atau hidup saya, melainkan lebih jauh dan luas lagi, yakni semua orang.

Agaknya kebanyakan orang berpikiran mikro dalam memahami istilah tersebut, bukannya makro. Yang sebetulnya saya ingin sampaikan yaitu menyindir semua orang itu yang sedikit-sedikit sambat, apa-apa mengeluh, ini-itu dianggap terlalu serius dsb. Untuk itulah saya menggunakan nama wak sambat. Sedang (wak) sendiri merupakan panggilan akrab kepada orang yang lebih tua, boleh juga tak akrab di daerah sana Pati Utara, ya setara dengan sapaan (lek).Yang biasa memanggil seperti itu anak-anak atau murid kepada penjual pentol katakanlah. Nah seperti itu. Jadi bukan seluruhnya itu saya, bukanlah karena saya sering sambat atau semacamnya, tetapi itu sindiran untuk kita semua yang biasa seperti itu kenyataannya.

Kemudian wong selo, bagaimana nama ini lahir?. Bermula dari saya sering menganalisis anime One Piece orang-orang berkesimpulan saya melakukan sesuatu yang selo bagi mereka. Mungkin bisa diartikan tidak ada gunanya, mungkin sih. Pada hal jika melihat secara makro dan teliti, bukankah ada yang lebih selo lagi dari pada yang saya lakukan. Nonton TV, main game dll bukankah itu lebih selo lagi ketimbang analisis komik?!. Lho, lha wong analisis menelurkan karya kok dibilang perbuatan selo, ya nggak keliru juga sih, tapi maksudnya kita ingin mencari tahu dengan menganalisa dan mengamati sebuah karya sekaligus memprediksi barangkali atau melihat ke depan yang mungkin saja mirip dengan apa yang kita pikirkan, begitu tok kok.

Jadi, jelas kalau kedua nama itu lahir dari pengalaman dan tentang konstelasi yang sedang berlangsung secara kontinu katakanlah. Bukan semata-mata saya buat begitu saja, tetapi ada maksud yang ingin saya sampaikan yakni menyindir kita semua (mulanya). Menyindir kok menerangkan secara gamblang seperti ini, jadi batallah sindiran saya karena penjelasan ini. Karena banyaknya yang salah paham, maka perlulah bagi saya untuk membuat tulisan ini sekian.
Share:

Rabu, 03 Januari 2018

Sajak Tanya


        WWW. "What We Want?" : Seni Abstrak



Berapa dunia telah kau tempati

Berapa alam telah kau  singgahi

Berapa langit telah kau lewati

Berapa lautan telah kau seberangi

Berapa gunung telah kau daki

Berapa jurang telah kau terjuni

Berapa belantara telah kau jelajahi

Berapa malam telah kau lalui

Berapa buku telah kau habiskan

Berapa cangkir kopi telah kau seduhi

Lalu aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu

Setelah menempuh semua itu

Kebijaksanaan seperti apa yang sudah kau dapati? 
Share:

Senin, 01 Januari 2018

Musim Kok Disalahkan


                              Republika Online 

Dingin ya.. 
Iya, kenapa ya sekarang banyak orang yang flu dan meriang? 
Emang musimnya kok, ya wajar. 
Em gitu ya..


Pernah mendengar percakapan seperti itu?

Saya yakin banyak yang pernah mengalami dan bahkan mungkin kita sendiri yang mengatakannya. Akan tetapi, jika dikejar lagi apakah kalimatnya berhenti disitu? Kalau hanya melihat sebatas dan sesederhana itu mana mungkin dapat kesimpulan padat yang positif. Alih-alih untuk menganalisa  dan menyimpulkan keadaan malah memberi pengawuran dalam meregulasi kahanan.
Satu yang pasti, musim itu buatan Tuhan. Karena manusia tidak mungkin bisa melakukan hal yang sebesar itu, maka itu bagian peranan Tuhan dalam menyeimbangkan semesta raya ini. Baik, mengenai persoalan musim yang di kambing hitamkan jadi penyebab sakit atau musibah seseorang menurut saya seperti ini.

Ada rumus yang mengatakan "Robbana ma kholaqta hadza bathila" Sungguh tiada yang sia-sia dalam penciptaan ini. Berangkat dari sudut pandang itu saya mencoba mengelaborasi dan mengamati apa yang Tuhan katakan. Jelas, bahwa semua yang ada di dunia semua ini tak ada yang sia-sia, jadi jika ditarik kesimpulan singkat padat musim itu dari Tuhan yang disampaikan melalui gejala alam yang telah membaca formula-Nya.
Kalau tiba-tiba saja kita menuduh musim karena menyebabkan penyakit dan lain-lain apa itu tidak kelewat berani untuk mengatakan jika Tuhan menyebabkan sakit dan musibah. Dalam artian kita menyalahkan Tuhan dengan segala kepastian-Nya. Okelah memang semua dari Tuhan, sehat maupun sakit, tapi bukan berarti kita menyalahkan setiap keadaan. Kita coba cek dulu sudah bekerja all out apa belum, potensi kita sudah Mentok apa belum?!.

Menurut saya, bergantung bagaimana kita menyikapi dan menjaga diri terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Lha wong kita yang lemah dan bodoh kok menyalahkan musim terkait penyebab terjadinya penyakit. Kalau kita bisa antisipasi dengan segala probabilitas, maka yakinlah insya alloh dapat aman aman saja, lagi pula bukankah dalam raga setiap makhluk mempunyai kekuatan yang besar. Pertanyaannya itu kemampuan, kekuatan kita gunakan dengan maksimal atau tak!. Itu sederhana saja. Sementara ini begini.

                                      Yogyakarta 
                                      Ahad, 31 Desember 2017
Share:

Jumat, 29 Desember 2017

Fajar Senja Yang Tak Kunjung Selesai


                           R. Amin Sikak.com

Layaknya Snow ball yang terus menggelinding tanpa ujung. Senja, Fajar dan apapun itulah yang sekiranya menawan pemandangan dan menarik kamera untuk men-shoot tiap angel yang di tawarkan acapkali telah membuat manusia keseringan membahasnya, atau dengan sederhana dielu-elukan dan ada sebagian yang membandingkan antara keduanya itu, Fajar dan Senja lebih Indah mana?.

Ini sebenarnya pertanyaan default yang umum, tapi mungkin jarang di lontarkan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang cukup selo untuk mencari-carinya. Ada yang berpendapat kalau Senja itu lebih indah dengan segala kilau semburat warna kuning merah nyala dapat menembus gumpalan awan sore. Yang lain berargumen bahwa Fajar lebih menawan karena untuk menemuinya saja harus berpayah-payah bangun pagi, dengan tangisan, dan lainnya. Apalagi jika dilihat dari cahaya yang mencuat keluar dari ufuknya ini menjadikan Pagi/fajar seperti menemui kelahirannya kembali atau kelahiran baru bagi kosmos semesta raya ini. Pun dapat dianalogikan dengan kelahiran jiwa baru atau manusia baru bagi mereka yang menterjemahkan.

Saya gak akan condong di salah satu pihak. Namun, akan memberikan opsi lagi terkait Fajar dan Senja yang tiap hari kita jumpai agar hidup ini lebih banyak variasi dalam pemandangan.

Kalau menurut saya, kita ini hanya fokus di titik awal dan akhir, ah atau begini saja kebanyakan manusia lebih suka kesimpulan ketimbang memulai dan mengawali suatu hal. Jelas kan, kita sering bangun siang dan menyia-nyiakan pagi hari dan untuk mencari gantinya manusia menunggu waktu sore hari untuk melihat senja dan diabadikan, kita biasa menumpuk tugas dan belajar ketika ujian kebanyakan hanya di akhir menjelang deadline, iya kan!. Itu adalah momen yang siapa saja bisa larut dalam ke-senja-an nya. Jadi jika dilihat dari perspektif ini pihak senja terasa terdiskreditkan karena mereka hanya mencoba mencari kesimpulan di akhir waktu. Sedangkan yang pro Fajar melihat dari sudut pandang reinkarnasi atau kelahiran baru bagi mereka yang menghendaki. Artinya orang menanti Fajar bukan karena untuk mencari kesimpulan waktu atau momen, tapi mencari jiwa baru yang mungkin dalam tanda kutip "Tuhan berikan bagi yang siap jiwanya dilahirkan kembali". Entahlah, ini hanya asumsi. Kalian boleh menolak, tapi jangan langsung diterima, sebab elaborasi di setiap hal dan keadaan itu perlu. Jadi di titik ini Fajar lebih well. 

Sementara, kalau saya sendiri melihat kedua soal itu tidak sebagai suatu hal atau blok yang berbeda dan terbagi dua, tetapi itu satu. Maksud saya, Fajar dan Senja itu satu, bukan dua hal yang crash. Jika dikatakan layaknya dua sisi mata uang mungkin boleh lah, tapi kalau dianggap dua yang beda itu saya tidak setuju. Lihat, cahaya Fajar dan Senja itu satu kesatuan yang mungkin terlihat memisah namun, sebetulnya tidak. Dilihat dari sini cahaya Fajar, kalau dari sana terlihat senja atau sore, padahal itu sumbernya sama yaitu matahari. Jadi gak mungkin kalau dua momen itu beda, itu sama!. Hanya saja hal tersebut terjadi memang akibat dari rotasi revolusi bumi yang mengelilingi matahari, apalagi kedua benda itu bulat.

Bagi saya, Fajar dan Senja merupakan lukisan Tuhan yang Indah. Jadi, dalam 24 jam sehari Tuhan membikim lukisan sedikitnya dua kali atau dua momen itu. Nanti ada banyak lagi lukisan lainnya, hanya saja kita belum mengetahui secara jelas. Kalau sering membahas Fajar dan Senja tok, nanti bakal ada yang ter-dholimi. Bukankah masih ada ruang, space, volume yang masih eksis diantara dua momen itu. Memangnya siang bukan momen? Apakah yang menjelang menjelang itu tidak momen?. Itu semua ada ukurannya sehingga titik kulminasi berada di puncak hari (siang). Karena sebagai stabilisator atau penyeimbang waktu harian. Jelas ya, Tuhan pun melukis. Ini hanya cara pandang. Jangan di paksakan kalau ta setuju. Semua ada koneksitasnya, tinggal merangkai-rangkai saja.

Ada yang mengatakan Fajar itu selamat datang dan sore/senja selamat tinggal. Ya terserah lah, tapi juga bukan berarti begitu juga. Karena masih ada siang, masih ada malam yang mungkin terjadi. Masih banyak probabilitas, jadi santai saja. Dan kalau matahari sudah terbit dari barat ya sudah semuanya, wassalam.
Share: