Di sini Ceritanya Wongsello


Senin, 24 Agustus 2020

mas Iman B.S : "Seng Mbok Keploki ki Opo?"


Dalam serangkaian acara ulang tahunnya mas Iman Budhi Santosa yang ke-69 di tahun 2017, ketika beliau membacakan puisinya di depan panggung di tengah riuh rendahnya tepuk tangan penonton tiba-tiba beliau berkata "seng mbok keploki ki opo?"

Waktu itu aku mendapat tetesan sedikit dari pernyataan beliau dalam hati "iyo yo" itu kesan pertama mendengarnya. Anehnya yang hadir malah tertawa, aku pun sama, memang lucu saja, tapi begitulah yang terkesan, dan itu memori tiga/empat tahun lalu.

belakangan perasaan itu muncul dan seperti biasa ada pemahaman lain yang melengkapi dulu. Dari yang aku lihat jarang sekali ada yang paham soal bagaimana dan apa yang telah terjadi sebenarnya dari yang disampaikan semesta. Maksudnya, jika ada orang membacakan puisi, bernyanyi, atau baru saja melakukan sesuatu yang hebat baik di atas panggung atau tidak, mana ada yang memberi kuesioner dan pendataan siapa saja orang-orang yang memang paham tentang apa yang terjadi?. 

Yang ada hanya tepuk tangan dan applous keras dengan bumbu basa-basi seperti biasa. Untuk itu, aku mendengar mas Iman Budhi Santosa yang tiga tahun kemarin mengatakannya di depan panggung, ruang teater Taman Budaya Yogyakarta (TBY) serasa dapat persentuhan atau tetesan yang menggugah. Anehnya ketika orang berbicara mengenai perasaan yang dialami entah kegembiraan atau penderitaan audiennya hanya tersenyum, tertawa, mentoknya tepuk tangan? tentu bisa terbawa haru suasana yang menyedihkan, tapi seberapa kadarnya? bagaimana informasi tersebut diperlakukan, apa sampai nanti dibawa pulang, sampai hari esok, menjadi bekalnya memperbarui diri, atau habis disapu angin malam.?

Aku jadi teringat puisinya Widji Tukul;

"Apa Yang Berharga Dari Puisiku" 

Kalau penonton baca puisi memberikan keplokan, 

Apa yang telah kuberikan, 

Apa yang telah kuberikan? 

-Semarang, 6 Maret 86. 


Dan lagi satu puisi yang berjudul; 

"Mendongkel Orang-orang Pintar" 

Para pembicara dalam ruang seminar, 

Yang ucapannya di muat di halaman surat kabar, 

Mungkin pembaca terkagum-kagum, 

Tapi dunia tak tergerak, 

Setelah surat kabar itu dilipat, 

-Solo, 8 September 1993.


Kebanyakan dari kita berangkat ke mana pun hanya untuk mencari, mendengarkan, atau menerima suatu informasi, tanpa mengimbangi dengan kesadaran untuk bertanya apa yang akan kita pelajari hari ini?. 

Kalau tidak, akhirnya seperti penjelasan tadi, hanya bisa tepuk tangan ketika seseorang menunjukkan pengalamannya di depan khalayak. Mungkin lebih dari empati untuk dapat mengakses pemahaman yang penulis catat ini, tapi sebagai gantinya cakrawala ilmu semakin banyak dan terhampar di muka. 

Share:

Sabtu, 22 Agustus 2020

Urep Yo Ngene Iki/Ngono Iku


Sebuah terminologi yang ngetren di kalangan teman-teman ini menuntunku pada pemahaman yang terasa menyenangkan untuk ditulis. Ketika mendengar "Urep yo ngene/ngono iku" Rasanya senang dan kesal, sebab terminologi itu mengandung kesombongan dan kepasrahan. 

Pertama, terasa sombong manakala mengatakan itu di atas keadaan yang nyaman dan mapan di tengah orang yang merasakan hal lain, malah lebih ke penderitaan. Sehingga kesannya dia merasa beruntung dan congkak, sesumbar untuk mengatakan "Urep yo ngene iki," Itupun konteksnya terhadap dirinya sendiri, maka darinya menggunakan "Ngene." Dan ini pun juga mengandung kepasrahan, bergantung keadaan si subjek utama. 

Kedua, "Urep yo ngono iku" Diperuntukkan bagi seseorang atau subjek lain yang jadi objeknya. Teman atau orang lain yang telah bercerita biasanya dijudge seperti itu. Indikasinya, subjek kedua yang diajak komunikasi atau yang menjudge itu malas memberi solusi atau memang sukanya membalas begitu. Sangat bisa jadi kalimatnya itu pun mengandung kesombongan, dua sisi pandang itu hampir tidak ada perbedaan, semua bertolak dari mana pemahaman yang dibawa dan dengan keadaan bagaimana terminologi tersebut terucap. 

Dari dua fenomena tadi rasanya lucu saja, seolah-olah hidup itu terasa dientengkan dengan kalimat yang sebetulnya sama sekali rancu, bias, dan tidak jelas "Urep yo ngene/ngono iku." Namun, dalam satu waktu, ia menerangkan, walau hanya untuk dua individu atau dua pihak saja yang paham karena saling berkomunikasi itu. 

Urep yo ngene/ngono kui lah haha.. 
Share:

Rabu, 29 Juli 2020

Embun #12


Puisi ada karena dunia tidak mampu melayani atau menyediakan segala sesuatu perihal kegembiraan, kegelisahan hati, penderitaan, dan kehidupan yang sejati, untuk itu puisi hadir mengisinya.

Puisi adalah pelangi yang diciptakan untuk melengkapi segala sesuatu itu. 
Share:

Minggu, 12 April 2020

Sebuah Tanya

pixabay.com



"Leren mas?"

"Iyo, kene ora robot kok!"

Sebuah tanya untuk senior saat senggangnya pekerjaan. Semua sama, rasa yang dihasilkan ketika makaryo adalah hal yang serupa, tapi aku tidak tahu bagaimana sebenarnya sebuah perasaan. Jika hanya rasa, mungkin bisa dijelaskan analisis berikut analoginya, sementara perasaan laksana menuju bengawan, rasa sebagai gerbang menuju muaranya.

Mulanya sering melihat-lihat di grup loker (lowongan pekerjaan) Jogja, entah facebook, web lokerjogja, instagram dll. Hal yang biasa terjadi ketika seseorang menanyakan pekerjaan yang dibutuhkan, mereka membiarkan dirinya mengatakan "mau cari pekerjaan apa saja, yang penting halal.." kalimat seperti ini terjadi bukan hanya satu dua orang, sebagian yang lain berpikiran hampir, bahkan sama. Artinya memang ada suatu pekerjaan yang tidak halal makanya orang-orang mengatakan mainstream tersebut. Tapi mereka berada pada pemahaman yang baik sebagai manusia, dengan tetap mempertahankan prinsip untuk melakukan pekerjaan halal. selanjutnya ada hal lain yang ingin aku tuliskan perihal kerja, semakin ke sini aku jadi menyadari suatu baru terkait pekerjaan. 

Dan itu pikiran 12 April 2020.

Kenyataan baru yang aku temukan, atau lebih tepatnya kesadaran baru itu nyatanya membantah tesis di atas yang mengatakan "Kita bukan robot yang terus-menerus bekerja." Mesin yang menjadi penggerak alat itu pun mempunyai jam kerja yang artinya ada pembatasan dalam satuan waktu yang berkala. Sederhananya robot pun tidak bisa terus-terusan bekerja karena ia mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam menjalankan mesinnya. 

Sebaliknya manusialah yang tidak berhenti bekerja sebenarnya. Contoh gampangnya adalah jantung, yang terus-menerus berdetak memompa aliran darah ke seluruh nadi di tubuh, entah malam entah siang, tidak perduli badan sedang istirahat atau terjaga, jantung tetap bekerja. Itu kenyataan. Dikatakan berhenti ketika sudah tubuh sudah mati, Itu pun dalam batas-batas material, bukan inmaterial. 

Sementara pemahaman jamak yang dirasakan orang adalah yang pertama, yakni pemahaman material. Satu hal lain lagi, sebetulnya pembahasan itu tetap terkungkung oleh paham materialisme. Orang modern menyebutnya ada pembagian jam kerja, ada jam istirahat, belum macam-macam yang lain. Intinya mereka berbicara soal dikotomi antara pekerjaan dan istirahat. Dengan kerja produktif efeknya menjadi positif bagi perusahaan dan memberi bonus kepada karyawannya, lalu istirahat sebagai keuntungan dari tubuhnya untuk relaksasi selama bekerja. 

Sejujurnya hal itu sama saja jika dilihat dari perspektif kualitas. Semua manusia pasti bekerja, bahkan orang gila pun sama, mereka bergerak, itu tanda kehidupan. Sayangnya orang modern sukanya memakai kuantitas sebagai parameter. Pendikotomian tersebut hanya abal-abal saja, tetap saja fokusnya adalah kapitalisme masif. Contoh lain, orang dikatakan bekerja kalau ia menghasilkan uang, jika tidak artinya pengangguran dan tidak produktif, masa depan suram, dan sebagainya. Dalam segala aspek manusia sekarang ini titik tolaknya adalah materi, kuantitas, dan konkrit/nyata, dapat dilihat dan dipegang. Materialistik. Apalagi soal negara, pemerintah dan dunia global, butuh angka kematian berapa untuk menetapkan corona sebagai wabah darurat nasional/internasional? Mereka menunggu untuk sampai pada titik di mana suatu keadaan dianggap wajar untuk membuat keputusan dan pernyataan resmi kalau itu darurat. Jangan tanya lagi kenapa salah satu petinggi negara malah mengatakan heran karena angka kematian karena covid-19 tidak sampai 500 orang, padahal berpenduduk 270 juta jiwa..!!. 

Sampai kapan pun kualitas memang tidak pernah dilihat dan menjadi titik tolak/ tolok ukur orang sebagai hal yang penting, lebih-lebih di zaman sekarang. Orang tidak bisa melihat kebaikan, mereka hanya bisa melihat berhala yang dapat dipegang dan di ratapi setiap harinya. 
Share:

Rabu, 25 Maret 2020

Repetisi Wujud Presisi-Akurasi

pebysafr.blogspot.com/panah-kerinduan


Orang modern memandang sesuatu yang diulang-ulang adalah hal membosanan dan tidak kreatif, sederhananya monoton. Pemahaman itu jamak dirasakan orang, dan terlihat benar untuk diungkapkan, jadi mereka memandang pekerjaan yang monoton seperti itu membuatnya terpuruk dalam kebosanan. Jika tidak mau menerima dan memahami lebih jauh lagi, mestinya ia akan semakin tersungkur dalam pekerjaan yang menyengsarakan hidupnya itu.

Berkaitan dengan pekerjaan, pembaruan itu nomor satu. orang modern lebih memprioritaskan inovasi agar bisa melangsungkan perusahaannya, untuk itu mereka memilih orang yang akan dapat menopang wadahnya untuk tetap survive ke depan. Tentu saja alasan tesebut tidak memberi peluang untuk manusia yang non-pengalaman di bidang termaktub, sayangnya perhitugan orang modern lebih menuju materialistis. Titik tolak semacam itu membuatnya terkurung dalam perbudakan dunia, akibatnya pemahaman rohaninya terkikis dan hancur.

Sayangnya, pekerjaan yang dianggapnya inovatif nyatanya juga hasil repetisinya yang biasa dilakukan. Pemahaman parsial tidak melihat lebih luas, jadinya jarak pandangnya tidak melebar, sederhananya fokusnya hanya satu titik. Orang modern tidak melihat kegiatan keseharian itu ngapain saja, untuk mengatakan sesuatu yang monoton sekali pun ia perlu memandang dirinya sendiri. Apa sebenarnya yang tidak monoton atau repetitif dalam hidup ini?. 

Misalnya saja untuk bernafas, apa ada inovasi dalam bernafas?, lalu ritual atau sembahyang sehari-hari, apa ada yang bervariasi selain selain ibadah muamalah, lalu idiom agama ada yang namanya Tiqroran, yang berarti juga nderes, lalaran cara jawa, itu kan hal repetitif yang sangat positif. Justru perulangan ritus-ritus maupun kegiatan-kegiatan itu lebih akan meng-akar dan mestinya dapat hal-hal baru lagi, minimal teringat dengan baik semua perilaku itu.  Kemudian putaran waktu, Fajar dan petang, pagi sore, Matahari tetap terbit dan tenggelam di ufuknya masing-masing. Hal-hal seperti itu tidak pernah dilihat manusia modern yang padahal kenikmatan dan kesenangannya sering berada di luar mereka.

Faktanya dalam sejarah kebudayaan manusia,  mereka kalau makan pastinya lewat mulut dan berak lewat dubur, apa pernah kebalik? Apa itu repetitif? Justru repitisi itulah wujud presisi untuk menemukan akurasi yang sejati. 

Manusia modern dengan segala kelengkapan  teknologinya ternyata tidak dapat menjangkau pemahaman semacam itu. Karena memang arah dan tujuan orang modern sama sekali konstan untuk mencapai cita-citanya, mereka dipandu modal besar bernama kapitalisme yang berwujud materialistis. 

Akhirnya dengan adanya wabah atau pageblug atau pandemik ini memaksa mereka berpikir lebih keras untuk mempertahankan bagaimana cara supaya kelangsungan perusahaannya tetap terjaga tanpa kehilangan sesuatu pun. Mungkin mereka berpikir tidak apa-apa kehilangan karyawannya sebagai tumbal untuk membuat dirinya tetap survive di tengah badai. 

Kini, korban corona/covid-19 terus bertambah, sedang solusi pemerintah sangat lambat dan belum tahu juga prosentase keberhasilannya seberapa persen, apalagi jika virus dapat bermutasi atau bertransformasi menjadi lebih kuat atau dalam bentuk yang baru lagi.  Kalau benar seperti itu nantinya sampai di ujung waktu, mereka bahkan kita yang terdampak akan bisa chaos jika tidak tahu cara menanganinya. 

Dalam keadaan teror seperti ini para pemimpin khususnya dan rakyat umumnya melakukan upaya horizontal-vertikal untuk dapat mengetahui segala yang diperlukan dalam penanganan covid-19. Siapa produsennya, apa dan kenapa hal ini terjadi sekarang lalu bagaimana cara menanganinya. :)(:


Share:

Minggu, 15 Maret 2020

Embun #11

Intisri Online - Grid.ID


Embun #11

Sombong Bikin Kalah

Kenapa biasanya orang sombong bisa kalah, padahal dia memang hebat?
Karena dia telah menarik diri dari kewaspadaan dan kehati-hatian. Berbalik dari orang yang dia remehin, dia jadi selalu waspada dan belajar banyak hal makanya dia bisa menang. Mungkin seperti itu. Walaupun hidup sebenarnya bukan menang-kalah.
Share:

Kamis, 12 Maret 2020

Ilmu dan Pengetahuan itu Rendah

pinterest.com



Ilmu dapat dirasakan dan terlihat jika ia bergerak karena suatu dorongan atas sesuatu yang terjadi.

Pengetahuan lebih rendah lagi, sebab ia dilakukan karena ada pengetahuan sebelumnya dan memperbaruinya ketika ia menemukan variabel lain.

Lalu apa yang kuat? 

Menurutku Cinta. Cinta ada bukan karena ia dapat pancingan atau dorongan, ia hadir dan bekerja begitu saja tanpa adanya kejelasan yang masuk akal. Kalau sebelum cinta ada rindu, maka jawabannya adalah karena kita merupakan percikan dari cahaya Tuhan yang akan kembali kepada-Nya. Ruh ini akan kembali kepada pemiliknya yang sejati dan Agung. Jadi, sangat wajar dan masuk akal bila seseorang merasakan rindu kepada Tuhannya, sebab manusia memang bukan dirinya. Dirinya yang sejati adalah AKU. 

Selain itu, Cinta dapat bekerja menyelamatkan, sebab asal-usul segalanya ini adalah Cinta, yang di manifestasikan dalam cahaya yang terpuji atau "Nur Muhammad". Saat kita mempunyai keinginan dan mengajukan proposal kepada Tuhan, tidak serta merta Dia langsung mengabulkan, tapi ada dialektikanya yang memungkinkan-Nya meng-Acc keinginan kita, maka kita dalam proposal itu menyertakan dan mewujudkan cinta kita kepadanya manusia terpuji dan terpilih  Muhammad SAW. Bersamanya Tuhan mempunyai cukup alasan untuk mewujudkan keinginan kita itu. Sederhananya jika sekalian makhluk mencintai cahaya yang terpuji ini, maka Tuhan dengan cinta-Nya juga akan menuruti dan menyelamatkannya di hari kemudian. 

Ada hal lain yang bisa dijelaskan juga, keinginan itu sebenarnya sah-sah saja, dalam pemahaman lebih lanjut keinginan manusia hanya utopis bila tidak terwujud, maka ada kekuatan besar di luar sana yang sebenarnya mengatur semua. Jadi, jika keinginan manusia bisa sama kepada kekuatan besar itu, maka perwujudan atau manifestasi keinginan dapat terealisasi, untuk mengerti keinginan kekuatan besar itu haruslah diketahui manusia dengan segala macam caranya masing-masing. Setidaknya bisa mengetahui ketika Dia bertajali kepada kita. 
Share:

Senin, 24 Februari 2020

Tersentak dan Tersentuh

scrennshoot foto whatsapp 


Aku mendapat faktanya kalau orang Indonesia memang manusia optimis dan santai di dunia. Kemarin sekali (13 November), ketika aku dan kawan-kawan menghadiri undangan berjanjinan untuk selapan hari (35 hari *hitungan Jawa_red) anaknya temanku itu. 

Ia berprofesi sehari-hari sebagai ojol (ojek online), sehingga pekerjaan kesehariannya adalah mengaspal di jalanan. Sewaktu aku bertanya perihal waktu ngojeknya itu, aku kira ia dari pagi sekali berangkat menjemput rejeki, tapi aku tidak menemukan jawaban di sana. Anehnya ia mengatakan bahwa "aku malah tidak kerja sejak anakku lahir, mungkin jarang maksudnya. Lalu katanya, "rejeki sudah ada yang ngatur". Ia ngomong dengan begitu santai, yakin, dan optimis. 

Coba bayangkan dan cari di belahan dunia lain, mana ada manusia yang sebegitu optimisnya soal rejeki kalau tidak orang Indonesia?. Aku benar-benar semakin yakin dan optimis jika orang Indonesia memang orang yang kuat dengan tetap menjaga kewarasan dalam kehidupan. 

Sadar entah tidak, tapi kuyakin itu dalam kesadaran, aku menemukan sesuatu yang baru soal ini. Kau bisa bayangkan bagaimana mengurus keluarganya hanya dengan asumsi "Rejeki sudah ada yang ngatur" kau pikir siapa yang berani ngomong seperti itu dalam kehidupan nyata, bukan sandiwara teater, meski hidup ini memang sandiwara. 

Kita tidak bisa menghukuminya dengan prasyarat materi atau penilaian budaya, ini adalah keberanian dalam menjalani kehidupan. Dan siapa yang tahu jika temanku ini diam-diam bergerak dalam suatu pekerjaan yang lain, atau pun sebelumnya ia telah menyiapkan bekal dan tabungan untuk mengurus bayinya yang masih 35 hari waktu itu. 

Aku sejujurnya tersentak dan tersentuh hati mendengarnya, gila! ini aku benar-benar mendengarnya secara langsung. Walau ku lihat matanya harap-harap cemas, tapi kata-katanya murni dari hatinya, begitu yang kulihat. 

Namun, belakangan aku tidak heran manakala melihat kembali di kehidupan sebelumnya. Ia memang sudah melewati banyak hal, pengalaman, ilmu, dan keberanian menghadapi hidupnya. 

Sewaktu masih kuliah, ia sudah harus menjajakan dagangannya berupa donat dari warung ke warung, tidak bisa seperti teman-teman lain yang terjamin kuantitas finansialnya. Tidak perlu tahu berapa penghasilannya, ini sudah merupakan sikap pejuang sejati bagi anak muda. Ia pernah jualan kripik talas, pernah jadi pegawai cuci mobil, karyawan Brutus, jualan casing hp, mengurus orang tua, katakanlah seperti baby brother, dan sekarang ngojek. Bahkan, mungkin lebih banyak lagi, semua itu dijalaninya dengan hati lapang dan sabar. 

Mengeluh sesekali adalah kewajarannya seperti manusia pada umumnya, tapi nilai-nilai yang tetap dibawanya ialah perjuangan yang tanpa tahu menyerah. 

Ia pernah jadi takmir atau marbot selama sepuluh tahun, di Masjid Baitul Arqom, Sorowajan Baru, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Ia benar-benar orang hebat dan sabar, aku kagum dengannya. 

Terakhir aku dengar kabarnya ketika ia menikah di tahun 2018, sendirian pergi ke tempat akad dan resepsi tanpa dibarengi keluarga atau pun teman, sedang keluarganya dari Purworejo menuju Jogja, tepatnya di Ambarketawang, dan aku beserta teman-teman juga berangkat dari Sorowajan ke sana. Itu kesan pertama yang membuatku ingin menulis cerita ini. Kau pikir bagaimana perasaannya saat itu, apa kesepian, atau biasa saja? Aku tidak perlu menjawabnya, mata dan kata-katanya sudah menjawab semua itu. Namanya Nasrudin, kami biasa memanggilnya yi udin.

Sesungguhnya ia telah menjalankan alquran yang ada dalam dirinya wafi anfusikum. :)(:



Share:

Minggu, 23 Februari 2020

Aliran Kehidupan

sonnyzakaria.org



Ibarat sungai, yaitu alirannya. Dari hulu ke hilir akan ada banyak hal yang di dapat semisal sejarah, pengetahuan masalah, dan arah. Semuanya membentuk pengalaman yang akan sangat wajar terjadi jika dibarengi dengan kesadaran hidup.

Semakin panjang aliran sungai, makin banyak pengalaman dan tahu segala yang dilewatinya. Ini bagian dari perjalanan hidup yang akan sampai pada awalnya. Yang semula bergolak karena cetek, akan berimbang dengan laju aliran yang semakin dalam dan dalam.

Nantinya ia akan sanggup menuju hilir, jadi danau, bahkan ia sanggup menjadi samudera yang menampung segala sampah dan semua yang menuju kepadanya. Karena sampah, dan masalah akan hanyut menuju muara yang sanggup menelannya. Tidak mungkin sampah terjaring di hulu, itu adalah kebodohan. Karena perjalanan hidup akan terus melaju dan mengalir, tidak stagnan.

Sejarah, sebab yang pernah kita lewati adalah bagian dari jalan yang membentuk berlangsungnya kehidupan. Dengan kesadaran, dari semenjak menapaki mula akan tahu dan teringat sampai ke muara. Dan semua itu adalah pelajaran dari serangkaian perjalanan yang mengalir.

Pengetahuan masalah atau menguasai masalah, saat kita telah melalui jalan yang cetek dan beriak, tahap selanjutnya adalah ke dalam dan inti yang nantinya berujung ke muara. Manakala sudah melewati banyak aliran dan lika-liku secara sadar pandangan baru akan terdapatkan, efeknya ketika sampai di bengawan ia telah tenang dan otomatis jadi bijaksana.

Arah, bagi yang sadar dan berpikir dari mula akan tahu sebenarnya ke mana tujuan dari keberlangsungan kehidupan yang membentuk aliran ini. Secara teori air mengalir dari tempat tinggi menuju tempat rendah, tapi mengapa bukan sebaliknya?. Grafitasi yang menjawabnya, tapi bukankah awan sendiri merupakan proses dari evaporasi atau penguapan air yang ada di bawah menuju ke atas. 
Share: