Di sini Ceritanya Wongsello


Kamis, 24 Desember 2020

Tak Sesederhana Itu


Banyak Asumsi selalu beredar disekeliling kita. Entah bagaimana caranya hingga tanpa disadari kita telah termakan, terdoktrin anggapan yang berotasi dalam kehidupan ini.
Mulanya hanya beberapa bahkan satu orang yang berasumsi, tapi selebihnya yang lain cuma ikut-ikutan saja tanpa terlebih dahulu untuk mengoreksi dan memfilter. Akhirnya bangsa pembebek dan barangkali inilah akibat asumsi orang yang terlalu menyepelekan hidup, ah bukan begitu bahasanya, tapi terlalu menyederhanakan hidup yang sebetulnya tidak sesederhana itu. Sebenarnya sederhana itu bagus namun, maqomnya hanya sebagai 'sikap' saja. Anggapan yang sederhana namun, jika terus berlanjut lama-lama orang akan makin terlena dan benar-benar menyepelekan hakikat hidup itu sendiri.

Hidup itu harus berjuang dan diperjuangkan

Sementara sederhana itu hanya berposisi sebagai sikapnya saja

Sejauh yang saya pahami dewasa ini, melihat mahasiswa semakin ke sini semakin parah saja sifatnya. Hanya karena hujan sedetik batal untuk masuk kuliah. Lihat kan sesederhana itu kita menyikapi persoalan. Padahal apa yang ada di dalam kampus itu tidak sesederhana yang kita anggap sederhana sebetulnya. Itu yang beralibi karena masalah hujan, yang lebih mengherankan lagi bila tidak masuk karena ogah-ogahan, ini lebih kronis sekaligus ironis sekali bukan. Di Kuliah kita banyak dapat hal kalau mau mencoba memahaminya, penambahan materi oleh dosen itu hanya bagian kecil dari makro kosmos keilmuan. Selain itu, tak terhitung kuotanya jika melihat dari sudut pandang kedewasaan secara lebih makro. Pertemuan mahasiswa dengan dosen itu bukan pertemuan yang apa adanya saja, malah lebih ke pertemuan sakral. Yang mempertemukan hubungan antara manusia dengan manusia, memperbaiki tali silaturahmi, pertemuan manusia yang memberi dan diberi. Saling berbagi dan belajar bersama, ini luar biasa.

                                                                                                                                    7 Desember 2016

Share:

Generasi yang Kecewa


Dalam konstelasi untuk suatu perubahan ternyata niat dan ajakan yang cukup belum mampu menggaet kolega-kolega sekiranya ikut join dan bersama-sama belajar atau sinau bareng. Saya sudah merasakannya, dan mungkin itu juga yang dirasakan orang-orang yang selalu sendirian karena teman-teman mereka kurang berniat untuk perubahan itu. Hasilnya, orang-orang yang ingin suatu perubahan pun jadi kecewa dan cenderung menyendiri. Mungkin inilah yang disebut jalan sunyi.

Para pejuang-pejuang kita dahulu dalam aksinya yang revolusioner telah menelurkan banyak gagasan besar. Namun, sayangnya teman atau pun orang-orang terdahulu mungkin ada yang kurang setuju, jadinya jalan sunyi adalah solusi untuk diri sendiri. Saya kira ini belum selesai. Jalan sunyi dengan cara terus melakukan kontrol sosial. Tadi malam, ada bisikan apakah harus menempuh jalan sunyi itu? Lalu ada jawaban, kau masih terlalu muda untuk itu. Lakukan dulu yang terbaik buat orang lain dan bangsamu!.

                                                                                                     7 November 2017

Share:

Embun #14


#Bisa makan berarti masih ada Tuhan

Pernahkah kita berpikir kalau segala yang kita makan adalah murni pemberian uang dari bos atau siapapun?. Pernahkah kita melibatkan Tuhan dalam hal materi?
Jika kita menarik dari kesepakatan umum soal itu, maka akan ditemui poros utama yang bermuara ke suatu tema besar yang disimbolkan yakni dengan Tuhan.

Karena prakteknya kita lebih banyak melupakan Tuhan jika sudah menikmati dunia. Minimal makan. Apa ketika makan kita teringat kepada-Nya? sepertinya tidak kan, mungkin di awal dan itu pun hanya doa saja bukan esensi sejatinya yakni Tuhan. Padahal adanya kita makan karena adanya Tuhan yang sedang bekerja menjalankan perannya sebagai bos dari segala bos, apa?  Ya memberi makan makhluk-makhluk-Nya.

Karena kita masih bisa makan itu berarti Tuhan masih ada, jadi jangan kira itu adalah kedermawanan seorang bos atau juragan kecilmu di Bumi, boleh melalui siapa pun, tapi sejatinya Tuhanlah yang sedang menjalankan peran-Nya sebagai penolong dan sebaik-baiknya pelindung, Rohman Rohim, dengan segala sifat-Nya. 

#Setetes embun di 2017

Share:

Jumat, 18 Desember 2020

Iman, Aman, Amin


#Arsip 2017

Nyatanya lingkungan kata itu ada banyak sekali di peradaban bahasa. Satu kata akan mengantar ke kata berikutnya atau makna lain yang mungkin terkandung. Kebanyakan kita sering menggunakan satu kata/istilah untuk mengatakan jamak maksud, padahal dengan mengamati dan menggali lagi sebenarnya ada banyak juga kosakata yang jarang dipakai atau bahkan belum pernah digunakan khalayak umum.

Kita acapkali memperkosa suatu kata/istilah untuk menjelaskan makna yang akan disampaikan, akibatnya semua jadi kaku dan terkesan kurang pas dalam menyampaikan makna tersebut.

Semisal saja kata Iman, Aman, dan Amin. Tiga kata tersebut adalah satuan atau lingkungan kata yang terbentuk dari balungan kata alif mim dan nun. Padahal di gramatikal bahasa arab sendiri tiga kata itulah yang akan membentuk atau melahirkan macam-macam kata lain yang mungkin masih terkait dengan balungan kata dasarnya. Selain itu untuk bahasa arab sendiri tiga kata dasar yang membentuk kata lain itu biasa disebut madhi tsulasi mujarrod. Belum cukup dengan pembentukan kata, ada lagi nantinya yang menentukan nasib makna dari lingkungan kata tersebut yakni harokat atau bahasa indonesianya mudah disebut pergerakan, memang agak kurang enak padanannya, tapi bukan itu maksudnya. Jadi, ada empat harokat yang akan menentukan makna dalam setiap kata, yakni ada rafa alamatnya dhomah, nashob fathah dan jer kasroh serta jazm sukun. Khusus jazm lebih ke fiil amar. Tiga harokat ini tidak tetap, sederhananya dapat berganti dan bolak-balik.

Misal contoh tadi, dari balungan kata alif mim nun bisa dibaca i-manu, dapat a-ma-nu, boleh a-minu. Saya memakai rafa atau dhomah karena lebih biasa digunakan. Nah, dalam kitab berbahasa arab sendiri, kebanyakan tanpa harokat bagaimana cara mengetahuinya ini bisa dibaca dengan tiga varian tadi? Maka, kejelian dan ilmu alat nahwu shorof balaghoh dll harus digunakan dalam menganalisanya.

Kebanyakan dari kita kurang menyadari kalau kata atau mufrodad tersebut dapat dibaca banyak macam, jadinya persoalan-persoalan dan perdebatan segala jenis yang gak ujung-ujung karena mungkin mereka gak melihat sisi di mana harus memandang luas ke segala arah.

Nah, terkait tiga kata di atas saya ingin menghubungkan dan mengaitkan bagaimana kok satuan kata dapat terhubung dengan tidak memisah maknanya. Kalau dari penglihatan saya, mula-mula dari kata iman yang artinya percaya atau yakin sepenuh hati, dari keyakinan itu maka, menimbulkan reaksi yakni menjadi aman lalu akhirnya berakibat amin dipercaya.

                                                                                                               18 November 2017

#Dalam perspektif lain pandangan itu juga bisa digunakan sebagai metode dalam berkehidupan, misal menjadi pemimpin ideal, pembelajaran sosial, berniaga dan lainnya. Kalimat terakhir pun sudah merupakan akibat dari awalnya, jadi Amin atau terpercaya adalah akibat dari adanya Iman dan Aman. 

Pertanyaannya, bagaimana rasa Iman itu dapat muncul? Jawabannya adalah memahami dulu bagaimana menjadi manusia itu. Kemudian ada variabel lain yang melebar seperti; makhluk, hamba, ahsanu taqwim, khalifah yang pembahasannya semakin terperinci dan lebih mendalam. 

Sebenarnya ini juga wujud kausalitas dari serangkaian fenomenologi dan dialektika kehidupan. Dan lagi, bukankah nabi Muhammad adalah Al-Amin, gelar yang disematkan orang diumur yang beliau masih muda. Al-Amin adalah cahaya yang bahkan dapat menembus hati yang mati. 

Share:

Alfatihah "As Master Key" Alquran


Jarang-jarang aku bisa tertarik belajar di dalam kelas, karena paham jalanan merasuk begitu sunyi. Namun, di suatu hari, sekali waktu ketika masih kuliah di kelasnya Prof Bermawi Munthe cukup menarik perhatianku. Begini ceritanya.. 

*Suatu hari di tahun 2017....

Saya dapat pencerahan ini dari salah seorang guru, sebenarnya dosen, tapi lebih suka menyebutnya guru begitu. Iya, baru-baru saja ngeh dengan statement beliau yang mengatakan bahwa alfatihah adalah alat pembuka untuk memasukkan Tuhan ke dalam hati. Inilah yang menjadi daya tarik bagi pribadi sendiri.

Secara umum diketahui kalau alfatihah merupakan surat pembuka dari kalam ilahi alquran. Sejauh yang saya amati, kebanyakan orang hanya stagnan pada pernyataan yakni surat pembuka itu sendiri atau biasa dikatakan alfatihah namun, beliau Prof Bermawi Munthe datang dengan membawa dagangan lain, [meniru istilah beliau] adalah alat pembuka yang akan memasukkan ke dalam hati kita yaitu Tuhan. Beliau melanjutkan, jika di dalam diri ini eksistensi Tuhan sudah tiada, maka "Kita telah mati sebelum mati!", begitu beliau menyampaikan. Ini menarik, karena di tengah para guru atau dosen yang biasa mengajar bidangnya secara akademis namun, ada satu yang lebih bebas dalam bereksperimen atau mengeksplorasi, begitu. Iya, sebelumnya belum pernah terpikir dan saya pun termasuk bagian orang yang stagnan pada asumsi alfatihah sebagai surat pembuka saja. Nah, dengan hadirnya pendapat baru soal tersebut, maka baiknya ini terus digali dan di ekspansi sejauh-jauhnya. Karena saya pikir tidak apa-apa lah, toh yang penting kita masih mau menyembah-Nya.

Mengkritisi karya Tuhan, bagi saya tidak masalah. Dan jika kita tidak mengelaborasi tentang apa yang diberikan Tuhan, mana mungkin kita akan tahu maksud apa yang ingin disampaikan-Nya kepada kita?!.  Jadi, ketika mendengar orang berbicara suatu hal yang kiranya baru dan menyegarkan, itu patut diapresiasi dan di dukung. Kalau tidak demikian, daya akal yang diberikan Tuhan akan berkarat dan tumpul dalam menganalisa segala sesuatu.

Lalu kembali ke alfatihah tadi, saya melihat iya apa yang ditawarkan oleh guru saya merupakan satu lagi buah pikiran yang akan terus bergerak dan bervariasi sejalan dengan kemampuan manusia menterjemahkan. Sebagai alat pembuka untuk memasukkan Tuhan ke dalam hati manusia. Kenapa kok pembuka, padahal alfatihah itu ikut wazan failatun, nah ini juga perlu di elaborasi lagi.

Dalam alquran, alfatihah selaku surat awal telah menjadi pengantar bagi surat-surat berikutnya. Kalau menurut sudut pandang saya, dari surat pengantar itulah kita diajak memasuki surat demi surat supaya menjadi singkron dan terarah dalam menyelami kalam-kalam ilahi karena dari awal sudah diantar dengan alfatihah. Ibaratnya ketika masuk istana kita telah diberi kunci untuk membuka segala pintu-pintu yang ada, jadinya kita dapat memasuki ruangan demi ruangan, begitulah simbolismenya.

                                                     17 Oktober 2017

#Selang waktu bergulir, setelah apa yang aku dapat itu bertambah lagi pemahamannya mengenai tulisan di atas, bahwa sebenarnya tidak juga jika disebut alat untuk memasukkan Tuhan ke dalam diri. Karena nyatanya Tuhan sendiri melingkupi segalanya. Dus, apa Al-Fatihah jadi delegitimasi? 

Jawaban simboliknya, kita bisa mengatasi atau mengatur kondisi badan kita, tapi secara alamiah Tuhan juga memberi hamparan semesta di jagat, baik melalui tumbuhan atau makhluk hidup lainnya. Tinggal bagaimana kita mendayagunakannya. 

Share:

Rabu, 02 Desember 2020

Pulang Untuk Kembali, Mati Wajib Abadi


Dari level materi hingga rohani dapat dijelaskan melalui tulisan santai seperti ini. 

Misalnya dari "pekerjaan" dalam arti umum, bahwa setiap manusia terlahir untuk bekerja, karena begitu mulianya pekerjaan itu tentu dapat mengangkat derajat manusianya sendiri. Entah bagaimana kita memaknai pekerjaan ini, namun yang bisa dijelaskan dengan gampang sebab setiap langkah pun sudah mengandung gerak yang berarti bekerja, minimal tubuh yang bergerak atau lebih "digerakkan" oleh Tuhan. 

Setiap pekerjaan adalah suatu kemuliaan, atau kalimat lengkapnya "Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan". Kira-kira seperti itu yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan asal Blora yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara kemudian melahirkan masterpiecenya "Tetralogi Buru". 

Pekerjaan yang baik adalah bekerja untuk keabadian, tapi untuk sampai di makna itu, pelan-pelan kita akan bangun dari hal-hal biasa atau mendasar. Repetisi dari kehidupan yang kita alami merupakan pekerjaan untuk dapat menentukan presisi dan seakurasi mungkin, maka setelah kita berangkat bekerja untuk kemuliaan lalu pulang ke "rumah" atau huma, terserahlah apa istilahmu, kita mengistirahatkan badan untuk kembali esok hari lebih sehat dan baik lagi. Ya bekerja, tentu terotomatis belajar darinya, bahkan sampai kuli-kuli pasar atau buruh kasar pun yang secara pandang orang kantoran tidak efisien dan efektif untuk penghidupan juga dituntut memahami pekerjaannya. Bukan cuma angkat-angkat saja, di situ ada mekanisme, koordinasi, dan koneksi kultural, semisal bagaimana mengerti proses pekerjaan berlangsung hingga keterlibatan alat-alat industri untuk memudahkan keefektifan kinerja. Memahami keteraturan jadwal dan kendala yang bisa saja muncul, dan kultural membangun hubungan kreatif yang dimiliki untuk masing-masing pekerja. 

Pekerjaan akan lebih baik, menjamin, dan awet jika terbangun trust dari segala lingkar posisi di mana pun, sampai nge-link antara bos dan karyawan, atas ke bawah, bawah ke atas, jadi satu sambungan yang meminimalisasi terjadinya crash atau ketidaknyamanan baik serikat pekerja atau owner, artinya keberlangsungan suatu perusahaan akan survive jika ditopang poin-poin tadi. Sedang untuk poin konsep dan strategi biarlah ditulis pelaku perusahaan saja. 

Nah, segala hal tadi masih terikat dalam hal keduniawian yang jamak, namun sudah terkontrol atau dibangun dengan paham yang cukup baik. Sekiranya kita lebih berjuang untuk hal-hal besar, lebih mendasar dan transenden, maka fenomenologi berangkat-pulang kerja tadi akan lebih bermanfaat untuk lingkungan sekitar, bahkan turut membantu keberlangsungan alam. Timbul pertanyaan, Bagaimana kita akan bermanfaat jika hanya bekerja di suatu perusahaan atau jadi kuli kasar? Bahkan seringnya kita kurang dalam kebutuhan bulanan.. 

Sebagai manusia biasa apa Tuhan menerapkan sistem atau kebijakan yang memaksakan kehendak-Nya? "Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa". Seperti wajib harus wajib harus dan seterusnya, Padahal di dalam alquran Dia mengatakan silmi, bukan Islam, "udkhulu fi silmi kaffah" Artinya itu semacam cara berpikir minimalis atau mikro atau lite, bahwa segala pekerjaan adalah bergantung kemampuan kita. Apakah dengan kita jadi kuli kasar tidak bisa memberi manfaat untuk lainnya?. Kian jika kita tersenyum saja kepada orang menurutku sudah berpartisipasi dan turut menyumbang energi positif bagi keberlangsungan alam. 

Ditambah lagi, kalau kembali ke rumus agamanya kan ada "innalillahi wa innailaihi rojiun", pedoman dan rumus kehidupan itu tentu lebih menawarkan paham yang berorientasi kebermanfaatan bagi kehidupan jika dibarengi dengan adagium "khoirunnas anfauhum linnas". Kalimat tarji' sebagai paham personal atau masing-masing orang melahirkan diktum kedua, kebermanfaatan. Artinya dengan memahami kalimat tarji' tadi secara mendalam mestinya akan sampai pada manfaat kepada yang lain. Mengapa hanya mandek untuk sampai pada kata kembali, tentu sebelum dikembalikan baiknya manusia membangun manfaat di alam, maka itu akan lebih nyata dengan pemahaman "rahmatan lil'alamin". Dan ketika makhluk hidup dikembalikan nanti, maka kita akan bisa melanjutkan makna sebelumnya tadi, jika pulang untuk kembali, maka kita mati wajib abadi. 

Share:

Embun #13


Boleh jadi doa adalah sambat yang telah mengalami eufemisme. 
Share:

Senin, 24 Agustus 2020

mas Iman B.S : "Seng Mbok Keploki ki Opo?"


Dalam serangkaian acara ulang tahunnya mas Iman Budhi Santosa yang ke-69 di tahun 2017, ketika beliau membacakan puisinya di depan panggung di tengah riuh rendahnya tepuk tangan penonton tiba-tiba beliau berkata "seng mbok keploki ki opo?"

Waktu itu aku mendapat tetesan sedikit dari pernyataan beliau dalam hati "iyo yo" itu kesan pertama mendengarnya. Anehnya yang hadir malah tertawa, aku pun sama, memang lucu saja, tapi begitulah yang terkesan, dan itu memori tiga/empat tahun lalu.

belakangan perasaan itu muncul dan seperti biasa ada pemahaman lain yang melengkapi dulu. Dari yang aku lihat jarang sekali ada yang paham soal bagaimana dan apa yang telah terjadi sebenarnya dari yang disampaikan semesta. Maksudnya, jika ada orang membacakan puisi, bernyanyi, atau baru saja melakukan sesuatu yang hebat baik di atas panggung atau tidak, mana ada yang memberi kuesioner dan pendataan siapa saja orang-orang yang memang paham tentang apa yang terjadi?. 

Yang ada hanya tepuk tangan dan applous keras dengan bumbu basa-basi seperti biasa. Untuk itu, aku mendengar mas Iman Budhi Santosa yang tiga tahun kemarin mengatakannya di depan panggung, ruang teater Taman Budaya Yogyakarta (TBY) serasa dapat persentuhan atau tetesan yang menggugah. Anehnya ketika orang berbicara mengenai perasaan yang dialami entah kegembiraan atau penderitaan audiennya hanya tersenyum, tertawa, mentoknya tepuk tangan? tentu bisa terbawa haru suasana yang menyedihkan, tapi seberapa kadarnya? bagaimana informasi tersebut diperlakukan, apa sampai nanti dibawa pulang, sampai hari esok, menjadi bekalnya memperbarui diri, atau habis disapu angin malam.?

Aku jadi teringat puisinya Widji Tukul;

"Apa Yang Berharga Dari Puisiku" 

Kalau penonton baca puisi memberikan keplokan, 

Apa yang telah kuberikan, 

Apa yang telah kuberikan? 

-Semarang, 6 Maret 86. 


Dan lagi satu puisi yang berjudul; 

"Mendongkel Orang-orang Pintar" 

Para pembicara dalam ruang seminar, 

Yang ucapannya di muat di halaman surat kabar, 

Mungkin pembaca terkagum-kagum, 

Tapi dunia tak tergerak, 

Setelah surat kabar itu dilipat, 

-Solo, 8 September 1993.


Kebanyakan dari kita berangkat ke mana pun hanya untuk mencari, mendengarkan, atau menerima suatu informasi, tanpa mengimbangi dengan kesadaran untuk bertanya apa yang akan kita pelajari hari ini?. 

Kalau tidak, akhirnya seperti penjelasan tadi, hanya bisa tepuk tangan ketika seseorang menunjukkan pengalamannya di depan khalayak. Mungkin lebih dari empati untuk dapat mengakses pemahaman yang penulis catat ini, tapi sebagai gantinya cakrawala ilmu semakin banyak dan terhampar di muka. 

Share:

Sabtu, 22 Agustus 2020

Urep Yo Ngene Iki/Ngono Iku


Sebuah terminologi yang ngetren di kalangan teman-teman ini menuntunku pada pemahaman yang terasa menyenangkan untuk ditulis. Ketika mendengar "Urep yo ngene/ngono iku" Rasanya senang dan kesal, sebab terminologi itu mengandung kesombongan dan kepasrahan. 

Pertama, terasa sombong manakala mengatakan itu di atas keadaan yang nyaman dan mapan di tengah orang yang merasakan hal lain, malah lebih ke penderitaan. Sehingga kesannya dia merasa beruntung dan congkak, sesumbar untuk mengatakan "Urep yo ngene iki," Itupun konteksnya terhadap dirinya sendiri, maka darinya menggunakan "Ngene." Dan ini pun juga mengandung kepasrahan, bergantung keadaan si subjek utama. 

Kedua, "Urep yo ngono iku" Diperuntukkan bagi seseorang atau subjek lain yang jadi objeknya. Teman atau orang lain yang telah bercerita biasanya dijudge seperti itu. Indikasinya, subjek kedua yang diajak komunikasi atau yang menjudge itu malas memberi solusi atau memang sukanya membalas begitu. Sangat bisa jadi kalimatnya itu pun mengandung kesombongan, dua sisi pandang itu hampir tidak ada perbedaan, semua bertolak dari mana pemahaman yang dibawa dan dengan keadaan bagaimana terminologi tersebut terucap. 

Dari dua fenomena tadi rasanya lucu saja, seolah-olah hidup itu terasa dientengkan dengan kalimat yang sebetulnya sama sekali rancu, bias, dan tidak jelas "Urep yo ngene/ngono iku." Namun, dalam satu waktu, ia menerangkan, walau hanya untuk dua individu atau dua pihak saja yang paham karena saling berkomunikasi itu. 

Urep yo ngene/ngono kui lah haha.. 
Share: