Senin, 11 Januari 2021
mas Iman Budhi Santosa "Ora Ono Buku Yo Nuliso.."
Sabtu, 09 Januari 2021
mas Iman Budhi Santosa "Azan adalah puisi terbaik"
Rabu, 06 Januari 2021
Dipilih apa Diperjalankan?
Kamis, 31 Desember 2020
Prioritas, Skala Prioritas, dan Stimulus Pergerakan
Kemurnian Melenyapkan Ketakutan
Ada orang yang berani terjun dari ketinggian, sendirian
menantang sekelompok orang, mengkritik keras penguasa, meludahi presiden, hidup
gelandangan dengan sengaja, memilih jalan sunyi, dll, semua tadi dianggap
sebagai keberanian. Kira-kira begitulah pemahaman kita selama ini, kita tidak
melihat lain sisi apa sebab sejatinya seseorang berani melakukan sesuatu. Kemampuan
kita hanya bisa melihat sesuatu tampak dari luar, jika kita bicara soal
manusia, analisa gampangnya adalah apa-apa yang dikatakan pengetahuan biologi
sewaktu sekolah, wadak, materi, badan, tubuh, tulang, daging, aliran darah,
air, otot, syaraf, dll. Jika urusannya sudah nyawa, tentu kita tidak bisa
menjawabnya, paling mudah soal itu diserahkan kepada Tuhan. Lalu ada lagi
namanya roh, sukma, jiwa yang kita semakin kebingungan dan kalap menghadapi
situsasi semacam itu, yang dengan mudahnya juga hal-hal tersebut diarahkan ke
ranah supranatural, klenik, dukun, dsb.
Sederhana
saja, yang ingin dikatakan adalah apa sesungguhnya yang ada di dalam semua itu?
Jika manusia hanya kumpulan tulang dan daging tetap saja ia tak bisa bergerak,
ada sesuatu mekanisme yang sifatnya halus dan enerjik sekali dari dalam dengan
begitu akan ada suatu dialektika pergerakan yang ditimbulkan dan terlihat dari
luar. Kita pikir mengapa manusia berani melakukan sesuatu yang luar biasa dahsyat
dan menerjang segala halangan hingga dapat berakibat mengancam harkat,
martabat, bahkan nyawanya.
Kemurnian,
Alamiah, Kesucian. Sifat-sifat itulah yang mau tidak mau menjadi jiwa, sukma,
roh, nyawa bagi wadak yang dikendarainya.
Tiada tembok untuk tak dijebol, tak ada langit untuk tak dicakrawalai, tidak
ada timur maupun barat, ialah kekuatan sejati yang diberikan dari Yang Maha
Agung.
Yang begitu itu memang jalannya, sederhananya kekuatan itu tadi yang menjadi inti, sudah tidak ada lagi konsep mengenai ketakutan. Karena jika tidak dilakukan dirinya pasti akan tersiksa lebih pedih daripada mati itu sendiri. Bukan karena iming-iming atau embel-embel, sebab ia murni, sebab alami, dan sebab sucilah ia menjadi harus mengalir kesegala penjuru, bahkan menghempaskan batu yang menghadang. Ia bisa menghidupkan, dan menyembuhkan, tapi juga bisa menenggelamkan dan menghancurkan.
Ada cerita dari Aristides Katoppo, wartawan senior teman akrabnya Soe Hok Gie, ketika ditanya mengapa kawannya Gie begitu berani mengkritik rezim Orla dan Orba dulunya. Jawabannya menarik, menurut Aristides itu bukanlah suatu keberanian, tapi Dia (Gie) hanya menyampaikan kebenaran dari nuraninya, bagaimapun tetap ia lakukan, itu saja. Dan juga sebagai gerak hati, kewajiban moral, dan panggilan sebagai seorang pemikir “menurut Gie, dari catatan hariannya".
Selasa, 29 Desember 2020
Rogo Kudu di-Ragati, Nek Ora Dadi Ragangan
Minggu, 27 Desember 2020
Nilai Pahala
Kamis, 24 Desember 2020
Kesadaran
Setiap dari kita kebanyakan hidup dengan tanpa kesadaran atau kurangnya kesadaran terhadap kejadian di mana pun. Faktanya kita memang tidak benar-benar tahu apa yang telah terjadi dalam kehidupan ini, alasannya karena kita tak acuh terhadap konstelasi lingkungan atmosfer iklim dewasa ini.
Kita kuliah, tapi tidak benar-benar tahu apa-apa yang sudah diajarkan maupun dipaparkan oleh dosen semisal dan banyak lagi lainnya. Kita berjalan ke sana kemari namun, tak sungguh-sungguh momen serta kejadian apa yang telah berlangsung selama itu. Sederhananya, kita memang belum hidup dengan semestinya dan oleh karena itu kita tiada mengetahui bahwa hidup ini seperti apa dan yang sejati itu bagaimana!. Dampaknya? Semua orang jadi pandir dan gampang di bodohi oleh mereka yang sadar akan keadaan seperti ini.
Setiap saat kita tidak diajari bagaimana cara berkreasi yang tepat sehingga hasilnya kita dianggap tidak inovatif dan kreatif. Mereka menuduh seperti itu apa hanya sebenarnya menutupi kelemahan mereka tuan-tuan elit karena tidak bisa menyediakan lahan atau wadah yang dapat menampung aspirasi serta daya kreatif orang-orang, pemuda, anak-anak apalagi.
8 November 2017
Katanya Silaturahmi Menambah Umur
Budaya baik yang kian menjelma menjadi bagian dari kehidupan memang seharusnya tetap dilestarikan. Budaya itu bisa apa saja, misalnya silaturahmi dalam bahasa Indonesia asalnya dari bahasa arab yakni silaturahim. Dulu ada yang mempermasalahkan persoalan itu, tapi tak lama selesai. Lucu juga ada yang begitu selo mengurusi hal begituan padahal itu cuma translate dari bahasa arab.
Ada yang mengatakan silaturahmi dapat menambah umur dan kebaikan lain-lain. Itu sudah menjadi pengetahuan umum dan masif, pertanyaannya "kenapa kok dapat menambah umur?". Pernahkah kita mencari tahu penyebabnya, bagaimana menurutmu?.
Jika keadaan kita memungkinkan untuk akses ke mana-mana ditambah dengan kerinduan bertemu seorang, maka tiada yang dapat menghalangi jalan untuk melakukannya kecuali kematian. Yakni silaturahmi. Dalam kejauhan, kita sangat kepikiran tentang keluarga, kerabat, guru, teman, dan ataupun siapa yang menjadikan sangat ingin bertemu. Rindu.
Dalam keadaan yang demikian itu akan terasa menyiksa batin jika pretensi kita itu tidak terwujud. Maka, untuk mengobati rasa gundah gelisah ya harus bertemu, silaturahmi. Nah, dengan silaturahmi itulah iklim perasaan yang tadinya gelisah berubah jadi tenang dan bahkan bahagia.
Mungkin karena ketika kita bertemu saat silaturahmi, maka akan menciptakan atmosfer kebahagiaan yang dikarenakan lama tidak bertemu hingga akhirnya tahu kalau keluarga / temannya baik-baik saja. Kemudian, yang demikian lah tidak membuat kita kepikiran tentang kabar mereka yang tidak tahu karena telah bertemu makanya kita jadi tenang dan tidak berpikir aneh-aneh.
Terkait bertambahnya umur, menurut saya bukan begitu juga memaknainya. Karena umur itu urusan Tuhan dan lagi semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Jadi kembali tadi, bahwa karena perasaan kita gembira, maka dengan sendirinya akan menciptakan batin yang tenang karena penasarannya telah terobati sehingga tidak lagi gelisah kepikiran tentang keluarganya itu. Dengan keadaan seperti itu, tentu akan mempunyai efek yang baik pada kesehatan badannya. Barangkali begitu menurut saya.
16 Oktober 2017




