Di sini Ceritanya Wongsello


Kamis, 15 Juli 2021

Embun #21


Ledakan-ledakan dalam hidupku, pengalamanku, penderitaanku, turut menjadi api pembakar yang MasyaAllah sangat memperkaya dan memperluas jiwa, kepribadian, mentalitas, dan kekuatan luar biasa. 

Kalau boleh menyebut, hidup ini sangat ajaib. Banyak keajaiban yang mengitari kita, bukan hanya masalah yang melingkupi, selain sekaligus dikepung solusi, aku tambahi keajaiban, karena itu nyata. Berulang kali peristiwa dan kejadian tidak logis hingga mustahil menurut kita menjadi sangat nyata dan terjadi dalam hidup, berulang kali pun kita menjadi percaya dengan yakin, bahwa tiada kita lepas dari iman, selain malah semakin bertambah amin dan aman. 

Aku pun sering keceplosan dan kurang bisa mengerem ketika ditanya oleh seseorang perihal peristiwa atau kejadian dalam hidup, tentu saja menurut pengalamanku sendiri. Bukan karena untuk memberi tahu atau mendoktrin dan sebagainya. Aku berusaha otomatis dalam menjalani hidup, bukan karena hasrat atau nafsuku, tetapi berharap ada mekanisme cahaya yang membuatnya otomatis berlaku sendiri. Dan aku tidak menganjurkan pendapatku ini kepada orang. 
Share:

Jumat, 09 Juli 2021

Embun #20


Hidup adalah pembakaran bagi diri sendiri, sebab segala kotoran, kerak, karat, kesalahan, yang menempel dan menjamur, hingga pun mendarah jiwa di diri pribadi akan mendapati pengelupasan sedikit demi sedikit setelah mengalami (pembakaran) itu yang akan fresh lagi. 

Hidup perlu dibakar supaya jadi abu, kelak akan bisa menyusup ke dalam bumi, atau menyerap, dan mengalir di dan ke kedalaman air, bahkan pun akan mengudara dan mengembara di angkasa atau cakrawala. 

Itulah pengalaman sejati..! 
Share:

Selasa, 22 Juni 2021

Embun #19


Dulu ada seorang teman bertanya, "Kenapa Penyair mati muda?" 

Ini pertanyaan ambigu, ada benarnya tapi juga selip. Secara fakta banyak juga penyair yang awet usianya sampai tua. Kedua, perihal penyair mati muda itu bukanlah atas dasar usia penyairnya, namun karya-karyanya. 

Mati muda adalah keniscayaan bagi manusia yang sudah menempuh kehidupan dan pengalaman tertentu, sehingga efeknya ia bisa mencapai kesejatian. Maka, dengan itu kalau sudah disebut penyair artinya ia telah menempuh dan mengalami pengalaman serta ilmu kasepuhan sehingga ia abadi. Sudah bukan soal usia, bukan urusan muda atau tua lagi sebab ia telah sampai pada nilai-nilai keabadian dan kesejatian, itu saja.

Penyair hanya pangkat saja, sejatinya itu manusianya yang berperan, bahkan bukan manusianya, tetapi Aku-Nya diri sejati. 
Share:

Sabtu, 19 Juni 2021

Memaknai Kesepian


Akhir-akhir ini aku banyak mengalami kesepian. Penghayatan dan pemakanan kesepian yang aku alami dulu dan sekarang ada baiknya karena mengalami pertumbuhan atau transformasi makna. Mulanya aku anggap cukup mengerti perihal kesepian sehingga berani beradu kisah kesepian tatkala ngobrol bareng kawan-kawan. Kini aku menyadari suatu hal, bahwa apa yang aku sebut kesepian kala itu hanyalah tak lebih dari kekosongan variabel yang sebelumnya terisi, sehingga ketika memasuki waktu hampa tanpa apa-apa aku merasa itu sudah kesepian. 

Sekarang yang aku sebut kesepian ternyata juga sangat menyanyat dan mengerikan. Nyatanya bukan hal-hal yang pernah aku katakan dan pahami waktu dulu itu, saat ini ketika aku memasuki fase itu lagi rasanya sangat banyak variabel yang mengepung. Terlebih aku tambah memahami lagi pemaknaan itu secara subjektif juga, yang mau tidak mau efeknya cukup buruk terhadap diriku. Ada semacam kesalahan dalam aku memaknainya sehingga rasa-rasanya saat ini yang aku sebut akhir-akhir ini kesepian menjadi belenggu dahsyat yang ingin sekali rasanya aku terbang. 

Kesepian yang aku maknai dulu tak lebih dari sekedar pemaknaan materi, yang artinya absen dari aktivitas keseharian. Kini, yang aku sebut banyak variabel itu sebagiannya adalah hilangnya manusia di tengah kehidupan sosial. Jadi, aku tidak pernah bisa ketemu manusia akhir-akhir ini, semestinya dari dulu, karena tingkat pemahaman saja baru berproses. Aku tidak punya cukup ruang ekspresi dll, ini pun aku menilai sebagai kesalahan, sebab aku masih bergantung keadaan, sederhananya aku belum bisa menciptakan ruang tersendiri untuk survive di tengah langkanya manusia dari kehidupan sosial ini. Yang aku sebut lemah adalah karakterku sendiri. 

Yang aku maknai dulu terkait kuatnya karakter adalah baru angan-angan semata, kini aku pun berkesimpulan bahwa aku pun lemah sebagai karakter, karena tidak bisa menciptakan mimpi-mimpi itu jadi nyata. Cerita ini terdengar cengeng saja untuk dibaca, namun aku tidak malu, memang demikian adanya. Satu lagi, yang membuatku menyayat soal kesepian sebab pandanganku sendiri mengenai kesepian itu, kalau aku tidak terlalu memikirkannya, keadaan ini pun biasa-biasa saja. Bagaimana pun jua, tetap aku lah yang salah, karena aku dibuat kalah oleh penderitaan ini, seharusnya aku bisa keluar enteng dari belenggu ini. 

                                                   25 Mei 2021


#Bahkan pun, kesepian itu sendiri bisa berarti nilai kesejatian yang dijaga agar tetap utuh dan kokoh. Telah banyak kisah-kisah, cerita-cerita mengenai kesepian, yang nyata senyata-nyatanya adalah kaum minoritas dan terasing di tengah kebisingan kepentingan manusia. Kesepian benar-benar dahsyat. Menekan dan mengepung manusia yang menjaga nilai-nilai suci, hingga pun berselimut sunyi, ia harus tetap tegar dan kuat menghadapinya. Yang Tuhan tidak tega lalu dengan sabda-Nya Ia "...Beruntunglah orang-orang yang terasing.. "

Aku tidak berpikir bahwa diriku bagian dari itu, aku tidak Gede Rumongso dan mengklaim demikian, tiada yang aku punya, tak ada yang bisa aku setorkan, diriku bukanlah siapa-siapa atau apa-apa, aku hanya bercerita bahwa ada cerita begitu, itu saja. 
Share:

Sabtu, 22 Mei 2021

Husnul Khatimah, Sejatinya Prestasi di Tengah Kehancuran Nilai Hidup


Terminologi Husnul-khatimah mungkin lebih kentara terdengar jika berurusan dengan kematian seseorang, tapi bisa saja kita sambungkan di akhir dengan bercerita dulu hubungan dan komprehensi pemahaman yang agak lebih luas barangkali. 

Bila kita menghayati peri kehidupan dewasa ini, maka konsep Husnul-khatimah benar-benar jawaban mutakhir atau pamungkas dan paripurna bagi setiap pelaku kehidupan. Kehancuran nilai hidup banyak sekali mewarnai kehidupan banyak hal, yang kini kebanyakan manusia dihinggapinya dan repotnya mereka yang jadi subjek eksekutornya. Alhasil dampak-dampak dari kepentingannya menghancurkan sisa-sisa nilai kehidupan yang bahkan makin diabaikan. 

Husnul-khatimah tidak harus berurusan dengan kematian, dalam fase diambang kehancuran yang meliputi manusia, bangsa, atau negara pun bisa diaplikasikannya. Meski kita tidak tahu juga apakah benar-benar bisa dalam menuju Husnul-khatimah kan tinggal kita sendiri yang menjalaninya berusaha bermanfaat dan ridlo atas nasib kita, Husnul-khatimah urusan Allah, dan harapannya semoga Allah meridloi kita. 

Kehidupan modern tidak memberi ruang untuk konsep tadi, maka yang bisa mereka lakukan hanyalah kapitalisme masif, padahal Husnul-khatimah pun bisa berlaku untuk perusahaan dan industri juga. Dengan menjalankan hak dan kewajiban kepada para karyawannya, lebih-lebih memberi perhatian lagi, interkoneksi terkait pemilik perusahaan, manager, karyawan, dll, keharmonisan antara pelaku perusahaan tersebut, dan mungkin ada alokasi dana perhatian ke luar instansi atau perusahaan berwujud kepedulian kasih kepada yang membutuhkan akan memberi atmosfer rohani di dalam sirkulasi perusahaannya. Harapannya dengan minimal contoh upaya tadi diridloi oleh Allah. 

Kehidupan yang kompleks nyatanya tidak hanya berkisar perusahaan dan laba, berbagai usaha manusia kini masif dilakukan dan jamak di mana-mana. Hal yang menentukan presisi atau akurasinya bergantung kemampuan manusia tadi menempuh pengalamannya, ada yang memang jadi pionir sehingga membuka mata manusia untuk inspirasi bagi yang lain. Pun yang ikut-ikutan atau mungkin bisa saja dikatakan baru merintis usaha dan pengalaman masih tanggung dapat menyebabkan efek darurat bagi dirinya, misalnya ada fenomena Youtubers, jamak orang menggandrunginya, namun karena obsesi dan hasrat yang sedemikian besar atau berlebihan sehingga melupakan norma-norma dan mengabaikan moralitas yang ada. Akibatnya ada yang kena komentar miring hingga bisa jadi kasus pasal. 

Yang mereka lakukan hanyalah produksi konten yang tidak habis-habis, pokoknya fokus output sehingga produktifitasnya menggenjot viewers dan subscribers sebanyak-banyaknya. Dari sini pun sudah bisa dibaca, itu adalah ideologi ekonomi kapitalis. Manusia modern tidak bisa menangani atau mengatasi satu fokus ke fokus yang lain atau di tengah fokus yang lain, mereka hanya bisa satu fokus yang diperjuangkan. Hal itu membahayakan yang aku tuliskan tadi, karena fokusnya cuma bikin konten yang banyak, maka kualitas-kualitas yang harusnya ada jadi tiada. Tidak heran kenapa ada kasus YouTuber yang berurusan dengan pasal-pasal dan pihak aparat karena tidak bisa puasa atau menahan hasrat dan perbuatannya yang seharusnya aurat dan tidak ber-etiket dari publik. 

Kita ini jadi makin prematur dalam mensikapi kehidupan, gampang terpancing dan mudah tertarik terhadap apa pun. Jika berbasis bisnesman, maka segala informasi yang ia dapat akan diniagakan berdasar hitungan-higungannya. Bila seniman, motivator, atau rohaniwan modern, tentu ia kapitalisasi dalam pemahamannya dan yang diberikan kepada orang lain juga. Kalau radikalis, ia akan dengan cepat menyambar informasi-informasi yang mungkin juga belum banyak dikonfirmasikan, efeknya ia jadi destruktif bagi yang lainnya.

Manusia modern sangat sanggup menanggung  dan menyembah materi karena fokus hidupnya adalah memang penumpukan materi, maka juga banyak fenomenologi yang terjadi sekarang adalah efek dari dendam pribadi masing-masing orang yang mereka pendam. Misalnya saja ada kasus, beramai-ramai masyarakat diiming-imingi uang banyak dari perusahaan besar asalkan melepas tanah mereka, maka itulah yang terjadi. Maka, yang terjadi di Tuban adalah keniscayaan dan contoh konkret manusia zaman sekarang, mereka menamakan post-modern. Lalu, ketika manusia-manusia ini sudah memenuhi keinginannya dan uang sudah lunas dibayarkan, mereka berbondong-bondong membeli materi lagi, mobil, lalu karena naif jadinya merugikan dirinya dan orang lain, tabrakan, dll. Kabar terakhir, uang yang diberikan perusahaan plat merah itu sebesar 18,5 milyar itu tinggal 50 juta. 

Mereka menginginkan materi, ditukar dengan materi, untuk membeli materi, akhirnya pun habis sendiri materinya. Yang diharapkan adalah materi, tetapi yang merasakan sedihnya adalah rohani. Yang disembah adalah materi, tapi materinya habis sendiri. Mungkin kasus membeli mobil berbondong-bondong tadi bisa jadi karena memang keinginan yang lama dari masyarakat sehingga ketika ada kesempatan itu, mereka jadi "Neo-Lebaran" dan merayakan "Neo-Hari Kemerdekaan" beramai-ramai. Itupun aku sebut tadi dengan sifat naif. 

Manusia modern tidak mempunyai waktu untuk memperdalam nilai dan arti belajar, mereka hanya diajari sekolahan untuk bernafsu dan pelampiasan hasrat yang muluk-muluk. Dikotomi-dikotomi yang diciptakan Renaissans mengakar begitu kuat dalam hati manusia sekarang. Maka dengan memahami dan mengerti makna Husnul-khatimah, sejatinya hal itulah yang dinamakan prestasi di tengah kehancuran nilai hidup manusia sejagat. Husnul-khatimah bisa dilalui dengan ihsan, karena itu masih dalam lingkungan kata dan maknanya dan sangat berhubungan. 
Share:

Minggu, 16 Mei 2021

Nyegoro Teross..


Hari ini manusia makin sadis dengan kelengkapan intervensinya yang berbuah perintah. Model dan sistem teknologi yang menggampangkan kehidupan manusia sekarang ini menuntut dan mempengaruhinya menjadi manusia yang arogan dan sangat egois, apakah benar masih disebut manusia. 

Pengalaman Riyoyo atau lebaran kali ini yang aku dapat adalah hal demikian, hampir kebanyakan manusia menuntut dan menunggu putusan sepihak untuk dipenuhi keinginannya di rumah, maksudnya "badan", setidaknya di kalangan anak muda. Jadi, biasa mereka mengatakan langsung untuk ditemui di rumah, disuruh "badan" ke rumahnya dan seolah-olah punya alasan tidak bisa menemui atau sengaja mereka yang mengunjungi temannya. Aku pun tidak tahu apa ada pertimbangan apakah temannya ini mengalami hal serupa di teman-temannya atau tidak sehingga sangat entengnya berkata demikian, entah pertimbangan lainnya atau memang rasa ngalahnya pun hilang entah ke mana, aku tidak ada masalah juga, asal memang aku cukup sanggup, maka aku yang ngalah, tetapi bila ada sesuatu yang tidak bisa aku tinggal ya mohon maaf. Ini terdengar artifisial dan mengada-ada, namun aku menemukan hal baru yang aku anggap tidak masalah untuk meninggalkannya. 

Bahkan tulisan ini sangat sepele untuk diceritakan, anggap saja sebagai catatan kecil saja bahwa memang kepribadian manusia kini makin tidak mengerti yang orang Jawa mengatakan empan papan. Mungkin cerita ini berlebihan, setidaknya jika satu orang mengalami order-order tadi apakah tidak bosan, atau malah akhirnya bodoamat. Sebab manusia merasakan enaknya mengintimidasi, mengintervensi, memanipulasi, dan mengelabui manusia lainnya justru malah semakin arogan dan Adigang Adigung Adiguno mereka menguasai sesamanya. 

Yang jika dalam habit ini masuk bawah sadarnya tanpa disadari. Semakin nyaman, aman tanpa kritik atau penolakan, mereka semakin dahsyat intervensinya dan merasa menjadi superior di kehidupan. Terus-menerus akan dilakukan karena dianggap lancar terkendali, justru sebab itu mereka hilang manusianya tadi. Meski rasa-rasanya lebay menulis ini, tak apalah, ini juga bagian dari inspirasi ketika ngobrol dengan temanku tadi. Hal lain yang mesti kutuliskan juga, bahwa memang untuk mensikapi soal fenomena itu kita harus bisa "Nyegoro", bagaimana pun juga, akhirnya tetap mengalah, minimal mengucapkan maaf dan simpati. 

Semakin berurusan dengan tetangga, masyarakat dan bangsa tetap saja kita counter sebaik-baiknya, yang sadar dan mengerti memang yang terus mengalah. Mungkin itulah "Nyegoro". 
Share:

Jumat, 14 Mei 2021

Koneksi Suroso - Paham Pinggiran Bapak-Anak


Alhamdulillah wasyukurillah walailaha illallah wallahu akbar.. 

Ketakjubanku ketika mendengar puasa bapakku yang tidak bolong, meski bekerja di sawah yang panas dan capai sekali. Apalagi saat bapak mengatakan bahwa "ojo ngasi mokak..!! Nek iso, sak kuate sek.." 

Hal itu semakin membuatku takjub ketika alasan bapak dijelaskan dengan gagah tadi hampir serupa pikiranku, alasan untuk puasa dan jangan mokak. Koneksi ini dapat aku maknai secara mudah sebab hubungannya dapat dijelaskan dengan sederhana. Dua hal yang sangat kentara adalah koneksi bapak dan anak mestinya memberi chemistry lebih secara suroso. Kedua, kami bekerja sama-sama di tempat panas dan melelahkan, apalagi ketika puasa, katakanlah pekerjaan kami pekerjaan pinggiran. Namun, apa pun itu tidak mengurangi semangat puasa kami dan beralibi untuk mokak

Kabar yang menggembirakan sekali menurutku, sebab aku benar-benar merasakan ikatan dan koneksi suroso dan cara berpikir di sini, bahkan secara nilai dan substansi, alasan bapakku lebih berbobot ketimbang anaknya. Bapak mungkin tidak punya alasan yang retorik atau akademis atau agamis, tetapi aku menangkap sinyal rasa kemantapan dan kesungguhannya soal puasa. Tidak lebih hebat dari bapak, Aku hanya berpikiran untuk apa mokak kalau nanti maghrib juga makan minum sediakala, jadi aku menahannya barang sebentar, dan sebenarnya juga malas mengganti puasa kelak. Sebetulnya segala payahku tidak ada apa-apanya dibanding bapakku, yang secara luar biasa mencurahkan semua untuk keluarga. Dan untuk menanggungnya, hari lebaran ini bapak kecapaian alias "katisen" dan belum bisa "badan" seperti biasa, dua hari ini. 

Aku benar-benar Alhamdulillah dan bersyukur sekali Ya Allah, aku bangga dengan bapakku, demi menjalankan ibadah suci puasa, beliau rela habis-habisan asal tetap dapat berpuasa, menjalankan perintah-Mu. Maafkan aku bapak, anakmu yang belum bisa memaknai nilai secara komprehensif dan jangkep. Engkau tidak perlu tanya apa itu komprehensif pak, itu tidaklah begitu penting, biarlah ajaranmu membuka mata hati anak-anakmu, amin. 
Share:

Kamis, 13 Mei 2021

Kapan Pun - Di Mana Pun


Bertahun-tahun puasa dan lebaran di tanah rantau, sesekali terbesit keinginan untuk merasakannya kembali dipangkuan keluarga tercinta. Di sisi lain lubuk jiwa ini membisikkan, "Kapan, di mana pun engkau berada, asal yang mengakar di jiwa dan hati pikiran dan lelakumu ingat akan tempat kembali, cukuplah untuk memotivasimu lalu berjuang lagi dan lagi, setelahnya serahkan Allah yang mengurus.."

Sempat terlintas untuk melakukan hal-hal tadi di rumah, lalu disadarkan kembali bahwa aku tetap tidak tahu apa-apa untuk menjawab esok hari entah di mana lagi. Asrof biabdihi lailan.. Pekat yang harus kutempuh untuk menjawab segalanya, sehabis terpikir seperti itu rasa-rasanya aku pun lega, tidak pun seratus persen yang aku bicarakan, bisa saja aku pulang lebih dahulu setidaknya dua tahun terakhir. Sebab sebelumnya berada di masjid, pun jika memaksa boleh saja, meski akan ada crash, tetapi intinya jika bicara soal satu hal bisa memecah hal lain. Jadi jika titik tolakku saat itu adalah tanggung jawab, maka itu wajar karena keadaan memang demikian. 

Sampai kini pun tujuh tahun puasa dan lebaran tanggung di tanah rantau, se-bodoamat bodoamatku, se tak acuh-acuhku masih saja aku ingat dan selalu diingatkan tentang keluarga, tanah kelahiran, tempat kembali tetap hidup di jiwa, hati, dan pikiranku. Sayup-sayup terdengar bisik jiwaku "Tidak apa-apa, asal lelakumu masih mengakar di semuanya", bagaimana pun senyata-nyatanya memang harus siap dan waspada untuk segalanya. 
Bertahun-tahun lamanya
Aku tinggal di sini
Tetap saja 
Yang tersisa hanyalah akar
Menjiwa, hati pikiran
Lakumu tetap ingat
Tempat kembali 
Itu cukup.. 
Share:

Senin, 10 Mei 2021

Biasa Kecewa Soal Industri - Tidak Usah Berkhayal Perihal Industri


Terkadang secara tidak sadar aku masih mengharapkan yang tidak-tidak soal perusahaan. Kuyakini kekeliruan itu sesaat setelah kesadaran pulih kembali, dalam sebuah ruang, arena, tempat, atau medan pertempuran yang telah ditentukan kita tidak akan bisa menang, kiranya seperti itu Sabrang pernah katakan. 

Dan jadi naif jika orang-orang yang berada di dalamnya mengahayalkan sesuatu yang mustahil. Karenanya juga semakin berpikir untuk mengalahkan atau setidaknya dapat penghargaan entah rupa-rupa, bonus, gaji nambah, bahkan kenaikan jabatan sebab benefit dari perusahaan jadi makin tidak masuk akal ketika kita berpikir itu memang hak kita setelah kerja sangat keras menguntungkan perusahaannya, meski masih bergantung sikap perusahaan atasnya. 

Kekeliruan itu sedikit aku konkretkan begini, lama karyawan atau pekerja dalam suatu perusahaan mungkin bisa kita presentasi atau kita asumsikan akan adanya reward berupa perubahan aktivitas yang memungkinkan skill karyawan meningkat atau setidaknya menjadi kandidat atau katalis rekomended buat si pemilik perusahaan. Jadi kemampuan, skill pekerja lama akan meningkat karena ada tantangan baru untuk dijadikan tolak ukur dalam turut mengembangkan perusahaan dan ini bisa berwujud mutasi atau atur ulang dan pembagian job desk karyawan. Sederhananya ada perubahan antara pekerja baru dan pekerja lama dan aku tidak pakai istilah senioritas. 

Idealnya jika berpikir pakai manusia, owner perusahaan dapat mendayagunakan dan memantau skill para karyawannya dengan mungkin dapat diambil sampel penilaian setiap bulannya. Dengan ini juga antusiasme karyawan akan meningkat dan positif bagi keberlangsungan perusahaan. Namun, memang sayang sekali owner suatu perusahaan yang sudah tidak bisa bertemu karyawannya tidak bisa melihat lingkungan ekosistem itu secara sehat dan konkret (perusahaan besar), meski aku juga meragukan mereka berpikir sampai sini. Sebab, semua ini sekarang adalah industri jadi aku tidak bisa meneruskan cara berpikir manusia itu lama-lama. Dan ini berdasar apa yang aku lihat dan alami sekadar saja, pasti ada perusahaan yang mementingkan manusianya, minimal bila mereka masih dapat bertukar sapa setiap hari katakanlah. Atau karena memang dari mulanya mereka berangkat sebagai manusia. 

Belum juga bicara soal persaingan yang tidak sehat dan masalah berupa-rupa lainnya. Sebetulnya dari hal internal sesama karyawan saja pasti ada persoalan, apalagi jika sudah bicara mengenai perusahaan, yang orang-orang di dalamnya diracuni perihal pangkat, jabatan, hal-hal yang pernah diperhitungkan secara ilmu pun bisa meleset dan berubah sama sekali karena adanya nafsu, hasrat ingin menjadi yang teratas. 

Dus, aku makin ngakak saja jika teringat apa yang aku khayalkan itu. Tiada perlu menderita dengan semuanya, titik tolak yang berbeda tidak akan menjadi pelabuhan selanjutnya, baiknya berpikir yang lain dan membuat planning baru lagi. Walau aku pun bukan orang se-perfect itu. 


Share: