Di sini Ceritanya Wongsello


Selasa, 27 Juni 2023

Sarang Angin Malioboro

Dok.Pribadi

Kalau kau seorang yang berambut gondrong, gelandangan, menyusuri tiap mili jalan jalan di Yogya tanpa sepatah kata pun lenyap dari mulutmu, serta gelisah mengenai keadaan zaman, maka aku mencurigaimu sebagai salah seorang pendekar dari murid sang presiden. Yang akan disiapkan untuk berperang melawan dominasi global yang menghancurkan jiwa manusia dan nurani kehidupan hingga saat ini. Ini bukan tentang pertarungan Barat-Timur atau Kiri vs Kanan. Para pendekar itu melakukan kudeta radikal, bertarung melawan diri mereka sendiri dalam senyap, hening, dan sunyi, dan tentu saja sering kaliren

Nama-nama jalan telah tuntas mereka lewati tiap malam hingga selalu jadi teman dan inspirasi. Mereka melihat dan menghayati banyak hal; simbok-simbok yang jualan di pinggiran jalan, tukang becak yang tak lelap tidurnya karena lapar mungkin masih bersarang di perutnya. Gelandangan yang tidur di depan toko-toko, pengamen dan pengemis berkeliaran jadi semacam zombi yang mendatangi setiap orang, dan wanita di ujung jalan masih setia menanti pelanggannya yang dapat memberinya "rezeki". Ia tak menghiraukan apapun, selain anaknya bisa makan esok hari. 

Mereka, para pendekar yang menghayati kehidupan itu akhirnya sampai pada sarangnya, universitasnya, beskemnya, sekolah atau kelas tanpa tembok kurikulum yang membelenggu. Malioboro. Di sana, ada cakrawala yang dapat menampung jiwa dan kegelisahan anak-anak muda. Cakrawala yang dibawa seorang maha guru, anak raja yang enggan meneruskan tahta. Tetapi lebih memilih jadi pengayom dan pendidik yang kadang merendah mengatakan hanya sebagai pupuk saja bagi anak-anak muda di Yogya. Umbu Landu Paranggi. Ia menciptakan cakrawala yang benar-benar membuat anak-anak muda bergejolak dan terpanggil turut serta menggali potensi dalam diri dan berlomba-lomba menghidupkan sastra. 

Di Malioboro, ada Pelopor Yogya, ada Sabana, yang secara eksplisit dikatakan penyair Sapardi D.D (alm) dalam prolognya di buku (Metiyem, Pinusung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi), sengaja diciptakan Umbu sebagai tempat di mana para kuda dapat meringkik bebas tanpa ada penghalang. Nomenklatur "Sabana" ini relate dengan masa kecil Umbu ketika ia dibesarkan di Sumba, tempat di mana banyak kuda-kuda berlarian di savana. Di Malioboro pernah ada klub sastra (Persada Studi Klub atau PSK) yang gemanya bisa sampai mancanegara, yang anggotanya bahkan mencapai 1.555 orang. Benar-benar pencapaian luar biasa dari sebuah klub, apalagi klub sastra yang dipinggirkan dari modernitas. Sehingga adanya PSK menjadi oase bagi mereka yang konsen dengan kesehatan jiwa dan tergetar menghayati kehidupan ini juga dapat merangkul dan menemani kegelisahan anak-anak muda zaman dahulu yang kemudian kita dapat menikmati sekarang karya-karyanya. 

Namun kini, Malioboro hanya jadi tempat transaksi dan perputaran ekonomi semata. Hanya jadi keramaian orang yang dalam pikirannya sibuk ingin ini itu dan mungkin tak pernah memikirkan atau ingat tempat apa sebenarnya yang mereka pijak itu. Dahulu, di Malioboro, pernah jadi "Sarang Angin" atau "Susoh Angin" yang melahirkan orang-orang macam Ragil Suwarno Pragolapati, Iman Budhi Santosa, Ahmad Munif, Teguh Ranusastra Asmara, Mugiyono Gito Warsono, M. Ipan Sugiyanto Sugito, Sutirman Eka Ardhana, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, Emha Ainun Nadjib, Ebiet G Ade, Mustofa W Hasyim, Bambang Darto, Joko Passandaran, Budi Sarjono, Fauzi Absal, Arwan Tuti Artha, RS Rudhatan, AY Suharyono, Suryanto Sastroatmojo, Soeparno S Adhy, dan masih banyak lagi. 

Pastinya bukan persis seperti itu gambarannya. Itu hanya keterbatasan pandangan dan khayalan dari penulis sehingga hanya mampu menangkap sedikit nuansa dan alam rasa saat itu. Mungkin akan kita dapatkan gambaran yang lebih jelas dan lengkap kiranya anggota-anggota PSK yang tersebut tadi dapat menceritakan kembali apa, kenapa, dan bagaimana suasana serta latar yang membentuk keadaan itu sehingga dapat menciptakan atmosfer keriuhan sastra yang luar biasa di zamannya. Namun hal itu juga tidak bisa ditunaikan karena sebagian anggotanya juga sudah berpulang. Apalagi sang presiden juga sudah berpulang di tahun 2021 kemarin. 

Meskipun juga, pernah diterbitkan buku "Orang-Orang Malioboro, 2010" yang digawangi oleh Iman Budhi Santosa dkk, tapi usaha itu dinilai oleh Asep Saeful Anwar belum memenuhi atmosfer yang diharapkan, karena para anggota PSK yang terlibat dalam penulisan di buku itu relatif hanya saling memuji anggota lainnya atau menceritakan persinggungannya dalam berkomunitas di PSK saja, tanpa mendeskripsikan apa dan bagaimana PSK itu. Atau katakanlah PSK dibesarkan oleh anggota-anggotanya yang terkenal, jadi terkesan tidak ada cerita bagaimana sebenarnya kehidupan anak-anak PSK atau orang-orang Malioboro di zaman itu sehingga dapat menciptakan gejolak sastra dan gema yang luar biasa ke depan. 

Namun, usaha dalam membuat buku itu sangat diperlukan sehingga dapat menjadi wacana dan jembatan untuk usaha-usaha yang lain. Mungkin bagi anak-anak muda sekarang hanya tersisa nostalgia dan cerita dahsyat yang bisa dinikmati tentang mereka, tetapi hal itu tidak masalah. Kita tidak pesimis karena tidak pernah ketemu Umbu sang presiden dan kawan-kawannya. Sebab kita juga mempelajari bahwa ada tipe manusia seperti Bambang Ekalaya, yang orang modern menyebutnya sebagai pendidikan heutagogi, yang tanpa perantara langsung dari seorang guru, tetap bisa jadi pendekar dan waskita hingga mengalahkan Arjuna. Hanya lantaran batu, ia tetap sakti mandraguna seperti yang dipuisikan oleh Iman Budhi Santosa "Guru Batu Bambang Ekalaya" dengan indah. 


Dok.Pribadi

Tapi kembali lagi, tidak mungkin pertemuan hanya soal reuni dan nostalgia. Maka, pada sabtu, 17 Juni 2023 kemarin, di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta. 14 penyair besutan sang presiden yang dikomandani oleh Ons Untoro, bersama kawan-kawan penyair kelahiran 50-an yang Mustofa W Hasyim menyebutnya sebagai Sweet Generation mengadakan acara luar biasa dengan membukukan puisi-puisi terbaru mereka untuk dikumpulkan dalam sebuah antologi puisi berkepala menggetarkan "Jalan Puisi, Antologi Puisi Penyair Yogya Kelahiran 1950-an".

Rambut gondrong dari para penyair yang pernah dibanggakan dan selalu dirawat hingga tumbuh bersama puisi-puisinya itu kini sudah memutih hampir semuanya. Bahkan sudah ada beberapa yang enggan gondrong dan dipotong cepak. Lalu dari sisi mana kelihatan bahwa mereka adalah penyair-penyair yang telah menggariskan nama? Bahkan mereka tak lebih dari orang-orang tua yang terlihat letih dan capai akan usia, ada yang sudah tidak kuat lama berdiri sehingga harus ditopang kursi, ada yang sakit dan tidak bisa menghadiri acaranya sendiri. Mereka tak lebih dari simbah-simbah biasa yang ingin hidup tentram sambil menikmati sisa senja di ujung hari saja. Begitulah kalau hanya melihatnya dari keawaman mata pandang manusia normal. 

Siapa yang mengira kalau orang-orang tua atau simbah-simbah yang sedang baca puisi itu, atau yang sedang lewat di hadapanku dengan rendah hati ini adalah seorang penyair besar. Yang dengan kegoblokanku dan sok canggihku hanya meneropongnya lewat kasat mata tanpa pengetahuan, pengalaman, dan ilmu yang cukup? Manusia sekarang memang hanya bisa menilai dari apa yang terlihat oleh matanya, tapi tak bisa melihat intimasi nilai dan cakrawala yang dimiliki manusia lainnya. Nilai hanya dipaksa merasuki materi, sehingga yang berharga menurutnya adalah tetap materinya. Nilai adalah ruh dan materi hanyalah wadak/jasad yang dirasukinya. Orang-orang mengerti akan nilai uang digital/dompet digital, tetapi yang ada dalam bayangannya adalah saldo tentang materi jua. Orang-orang tahu tentang adanya dunia maya, namun mereka menutup mata dan tidak mau tahu akan nilai apa yang dibawanya sehingga maya entah nyata jadi rancu dan destruktif akibatnya.

... 

Kemudian salah seorang dari 14 penyair itu mempertanyakan apakah pertemuan dan antologi puisi ini bisa hadir kalau dulu tidak ada Umbu yang mau mengayomi dan mendidik para penyair yang masih hijau itu? Pertanyaan yang dilontarkan kepada Emha itu pun tak terjawab, karena memang itu bukan hal yang bisa dijawab sekenanya saja. Umbu, sang Metiyem, saat ini mungkin hanya senyum-senyum saja dari kejauhan, kata Emha, mengawasi kita dari balik mega di atas langit, yang kita tidak mempunyai kapasitas untuk memandangnya dari bumi. 

Andaikan waktu itu Umbu jadi sekolah di Taman Siswa-nya Ki Hajar Dewantara. Dan tidak jadi siswa di SMA Bopkri 1 Yogyakarta dan juga tidak ketemu guru bahasa Inggris-nya ibu Lasiyah Soetanto, apakah Persada Studi Klub (PSK) dan warna-warni Malioboro yang jadi rumah para seniman sastrawan bakal lahir? Kembali tadi, itu bukan pertanyaan yang bisa dijawab begitu saja. Kehidupan lahir tanpa diminta, ia hanya mengalir begitu saja mematuhi garis-garis dan aliran-aliran yang sudah ada lebih dulu. 

Mungkin 14 penyair itu bisa dikatakan sebagai ronin (minjam istilah Anwar Hudaya, dalam sebuah tulisan di rubrik "Tentang Cak Nun" di Caknun.com) yang kehilangan tuan/pepunden-nya. Sehingga mereka merasa kehilangan sosok yang sangat dijunjungnya. Tetapi, mungkin juga tidak. Apakah penting ronin atau bukan? Sebab yang sekarang mereka lakukan adalah melingkar dan memberi semacam mantra sakti kepada generasi selanjutnya agar mengerti bahwa pernah ada dan terus digaungkan gairah kehidupan dan kegelisahan jiwa yang diwujudkan dalam bentuk sastra sehingga kompatibel untuk segala zaman. 

Atau kalau mengutip kata-kata Iman Budhi Santosa dalam artikel "Persada Studi Klub (PSK) Dan Sejarah Sastra Yogyakarta (Kedaulatan Rakyat, 31 Agustus 2003); mereka terpanggil untuk senantiasa mengalirkan tugas ber-sastra, untuk mengumpulkan catatan demi catatan dalam saku, dengan membuat antologi puisi ini supaya tunai dan kontan perjuangan nafas panjang mereka dalam me-laku sastra dalam diri masing-masing. Dan sekarang, mereka ganti memanggil generasi baru untuk meneruskan etos-etos dan gairah ber-sastra agar kehidupan tetap waras dan seimbang. Karena sastra merupakan ekspresi peradaban umat manusia yang perlu dan harus tetap ada sepanjang masa. 

... 

Ketika aku melihat ada acara sastra/puisi dilangsungkan di Museum, hal pertama yang terpikir adalah apakah puisi hendak dimuseumkan? Walaupun saat itu mbak-mbak MC berusaha menyambungkan bahwa puisi sama halnya dengan simbol/sandi, maka dengan bertepatan acara "Jalan Puisi" di Museum Sandi, ia mengatakan bahwa ini ada keterkaitan dan nyambung. Namun, pertanyaanku tadi mulai terang ketika Emha mewedar pandangan-pandangannya mengenai puisi dan keadaan sekarang. "Zaman koyok ngene iki kok gelem-geleme iseh ono wong nulis puisi. Itu ada tiga kemungkinan; 1. Wong edan, 2. Wong kesepian, 3. Apa manusia sejati."

Dan ketiga hal itu sudah cukup membuatku puas tanpa penjelasan lebih lanjut. []


Sinoman, Pati, 27-28 Juni 2023.


Share:

Kamis, 28 Juli 2022

Jadi, Doa Siapa yang Kabul?


Pertanyaan yang ditelurkan maiyahan di Mocopat Syafaat juli lalu kini menjadi terkembang dengan agak lebih luas. Jika pertanyaan di 17-san kemarin dulu seperti "Nandur maiyah woh e opo?" aku kembangkan dengan analogi doa, "Doa siapa yang kabul/dikabulkan kalau kita semua ada pada situasi yang sama.?" 

Jika saja anak-anak para ibu yang sedang dalam ujian atau peperangan dan semua doa yang dilangitkan sama, doa siapa yang bakal kabul/dikabulkan?. Karena kita tidak mempunyai perangkat untuk mengetahui doa siapa yang mandi atau dikabulkan, maka langkah yang bisa dilakukan adalah pasrahkan semuanya pada Tuhan. Dan setelahnya kita akan menerima keputusan-Nya yang akan kita sikapi dan pahami serta sepakati sebagai bentuk dari Ridlo. 

Pertanyaan selanjutnya, doa-doa ibu itu mestilah doa yang terbaik untuk anaknya dan rasa-rasanya tidak mungkin bila sebaliknya. Tetapi, kalau diurut lagi dengan pendekatan objektif dan fakta-fakta yang terjadi dan dialami masing-masing apakah bisa menentukan kans kabul tidaknya suatu doa?. Jika ada satu ibu yang hidupnya begitu menderita dan serba kekurangan bersama anaknya dengan ibu lain yang begitu kecukupan bahkan melimpah hartanya serta potensial untuk melakukan hal lain sehingga anaknya tidak perlu turut serta berperang/ujian, memang do'anya siapa yang bakal dikabulkan?. 

Dan apabila seseorang atau ibu-ibu itu, bahkan anak-anaknya telah melakukan suatu kebaikan atau banyak kebaikan apakah kita mampu mendeteksinya secara ilmu dan alat untuk mengetahui sesiapa yang akan dikabulkan?. Seberapa kuat pengaruh kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan untuk dapat "menyogok" Tuhan supaya dikabulkan doanya?. 

Kemudian ketika terjadi hal sebaliknya, atau seseorang, ibu-ibu itu, bahkan anak-anaknya sendiri melakukan kejahatan atau keburukan di masa lalu, apakah cukup alasan untuk tidak mengabulkan doa-doa mereka?. Apakah semua hal itu bisa dijadikan pedoman dan titenan bagi orang-orang agar tidak secara serampangan dan hati-hati dalam menjalani hidup, supaya Tuhan tidak serta merta menjatuhi kita dengan kejutan atau balasan?. 

Apakah kita mampu menunjuk dan menebak sesiapa yang akan dikabulkan Tuhan? begitu banyak yang tidak mungkin kita tahu, dan banyak kemungkinan yang akan terjadi berikut kejutan-kejutan yang belum diketahui. Maka semua itu sekali lagi kita serahkan pada Tuhan, Dia lebih mengerti apa yang akan terjadi dan lebih mengerti apa yang ada di hati kita. Kalau yang memberikan keputusan itu Tuhan pasti baiknya. Dan kalau kita merasa masih berat menerimanya pastinya kita butuh alat perangkat dan pengalaman hidup yang matang untuk dapat mengerti semua itu. Asal niat kita baik, percayakan saja dengan-Nya. 

Satu hal lagi, memang kita mengerti apa tentang ilmu futurologi, apakah kabul tidaknya suatu doa saat ini atau kemarin, bahkan besok di masa depan dapat menjamin "Kebenaran" saat itu juga? bagaimana kalau ada doa yang dikabulkan setelah kematian atau setelah pengadilan akhir nanti? siapa manusia yang bisa menembus ke-ghoib-an ini?. Jadi selamat tidaknya seseorang apakah ditentukan atau bergantung pada doa yang kabul saat itu?. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang bisa diungkap, tetapi sebagai manusia kita harus latihan mendasarinya dengan ridlo atas segala ketentuan-Nya. 
Share:

Rabu, 27 April 2022

Bambang Ekalaya dan Pendidikan Heutagogi


#Bambang Ekalaya Dalam Potret Pendidikan Heutagogi 

Ilmu dan teori modern sebenarnya hanya mengkopi saja dari pelajaran masa lalu, pengalaman dan sejarah lampau sangat banyak mengandung ilmu, pelajaran, dan hikmah bagi yang setia mempelajari dan mengingatnya. Teori atau ilmu yang kini disebut Heutagogi sebetulnya sudah dilakukan sejak dahulu kala, misalnya jika mengambil contoh khazanah pewayangan yang sangat diagung-agungkan masyarakat Jawa yakni ada fenomena Bambang Ekalaya. Seorang dari suku pedalaman Nishada yang ingin berguru kepada resi Dorna, resi terkenal dari daerah Kuru dan tinggal di Hastinapura, karena hanya dialah yang menguasai ilmu memanah Danuweda/Danurwenda, tetapi tak sesuai dengan harapan Ekalaya ditolak Dorna dan tidak jadi muridnya. Karena Dorna mengetahui jika kemampuan Ekalaya dapat menandingi dan mengalahkan Arjuna, murid yang dijanjikan akan jadi pemanah paling hebat di Hastina. 

Tanpa mengurangi etos dan tekadnya dalam berkeinginan hal memanah dia membuat patung Dorna dan belajar mandiri kepada batu itu. Dengan semangat dan terus melatih dirinya di bawah "pengawasan" guru batu Dorna akhirnya Ekalaya dapat menguasai ilmu memanah Danuweda, dapat membungkam anjing tanpa meninggalkan lolongan hanya dari mendengar suaranya saja yang membuat Arjuna kagum sekaligus terkejut sebab ada orang lain yang bisa menyaingi bahkan melampauinya. Padahal Arjuna berguru langsung di bawah asuhan guru Dorna, namun tetap takjub dan terpana setelah melihat Ekalaya yang belajar seorang diri dengan ditemani patung batu yang dianggapnya sebagai guru. 

Jika dikontekskan sekarang hal ini sangat berpengaruh besar bagi perkembangan anak-anak atau manusia yang punya nilai sejati untuk senantiasa belajar mengembangkan diri. Sumber daya pengetahuan yang melimpah di internet, beragam kelompok, organisasi, kajian agama/ilmiah, diskusi umum, kuliah umum, bedah buku/jurnal, penelitian mutakhir, termasuk podcast, dan sebagainya. Dengan filter atau saringan yang tepat semua informasi tadi akan dapat diakses dan digunakan pada tempat yang presisi dan akurat dengan segala yang diperlukan. Diperlukan filter untuk menyaring semua hal tadi sehingga tidak "meledak" otak kita dalam menghadapi situasi dan kondisi tertentu. 

Ilmu modern membaginya melalui tiga lapis gogi; Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. Yang pertama dan kedua rasa-rasanya masih berkutat pada kelas dan guru yang paten katakanlah, belum ada kesadaran diri untuk mengakses informasi yang ada kecuali sedikit sekali. Baru yang ketiga, Heutagogi sudah mencapai kesadaran diri bahwa dirinya perlu belajar dan mengembangkan sesuatu yang ada pada dirinya, maka dengan bahasa lain manusia yang punya intrinsik atau bekal natural terus belajar pada dirinya maka selamanya dia akan belajar karena naluri alamiahnya menuntut seperti itu. 

Meskipun konsep Heutagogi pertama kali dikenalkan oleh Stewart dari Southern Cross University sejak tahun 1950-an, namun tanpa memakai nama yang sama sejatinya Bambang Ekalaya telah menemukan dan mempraktikkan sendiri konsep pendidikan Heutagogi sejak ribuan tahun lalu, sejak zaman Mahabharata masih eksis di dunia. Mungkin bisa dikatakan juga jika Bambang Ekalaya adalah termasuk yang awal-awal mengenalkan Heutagogi dan menginspirasi manusia masa depan seperti mas Iman Budhi Santosa dengan indah menggambarkannya di puisinya. 


"Guru Batu Bambang Ekalaya"

Sejak mula, patung batu itu tak bisa bicara
karena bukan kitab, bukan pula dongeng
dia hanya patuh pada tatah dan palu
juga tangan dan mata yang membuat ada dan perlu

"Demi Dewata, kusebut kau guruku, Batu."
Maka, jadilah ia guru batu, guru Durna
mantram kesakitan di sekujur tubuhnya
mengajar menjawab dalam berbagai tanda

Bulan matahari, langit dan bumi
teguh menemani
mengasah jari
meluruskan bidik
meretas jarak
mengawal panah dan sukma
mengubah maya jadi nyata
dalam genggaman Bambang Ekalaya 

Maka, Arjuna pun tak percaya
ketika tujuh anak panah melesat menyerbu
membungkam moncong anjing kesayangan
Tanpa ada lolong ditinggalkan

Durna juga tergeragap, dan langsung membidikkan 
panah durhaka. Sedang Ekalaya hanya mengangguk
setia mengalah serupa murid yang takluk
rela memotong ibu jari, menyerahkan cincin mustika ampal
untuk Sang Resi, seakan pernah terjadi jual beli
atas bayangan yang tak pernah dicuri
atau membuat titah arcapada merugi

"Arjuna, engkau hanya kesatria dalam Mahabharata 
ketika pasopati dan pulanggeni 
dalam genggaman enam jari
disanjung irama tembang gamelan sepanjang malam 
hingga tancep kayon pagi hari
Tetapi, akulah yang menang jika guru zaman adalah buku
Ketika rahasia kehidupan tak bisa lagi disembunyikan
di balik kelir dan kotak kayu
 
2010
Share:

Jumat, 18 Maret 2022

Hari ini Seharusnya Dia..


Hari ini seharusnya dia berusia dua puluh tahun (20), tetapi dia hanya bisa menikmati hidup sampai 19 tahun saja. Begitu ucap temannya kira-kira pada tahun 2012 silam, artinya sekarang dia seharusnya sudah berusia 30 tahun. Teman bermainku, sepupuku, dek Ihda Hanif Ramadlan. Waktu seakan bagai alunan tembang, meski tahun demi tahun berlalu, sebuah tembang kisah tentu saja akan abadi bila ada yang tetap dan terus mengingatnya. 

Dan hari ini mestinya kau pun telah menikah dan punya anak, berkeluarga mengarungi kehidupan-Nya. Aku membayangkan kau menimang-nimang anakmu yang mungil dan kelak akan memanggilku om atau lek, terserah lah yang penting itulah setidaknya yang dapat aku simulasikan. Indah memang bernarasi seolah-olah kehidupan bukanlah sekat yang membentur alam dan manusia. Memutarbalikkan fakta dan kenyataan, berimajinasi dan berkhayal seakan-akan hidup bisa kapan pun diolah dan digelar kapan saja sebagaimana wayangan dan memungkasinya dengan tancep kayon di pagi menjelang. 

Namun, jika tidak demikian kenapa manusia dibekali alat untuk dapat membayangkan, berimajinasi, mensimulasi, bahkan ada yang sampai pada kemampuan tertentu membuat manusia tidak siap secara mental dan budaya melihat dan mengakuinya, apalagi menerimanya. Bahkan yang aku bayangkan tadi bagi manusia sekarang hanyalah dianggap halu dan tidak realistis, tidak ada artinya bagi mereka mungkin, agaknya berbeda dengan yang bersangkutan disekitarnya. Dan kenyataannya memang kehidupan itu abadi, jika tidak maka tidak akan ada pertanggungjawaban kelak di kemudian hari, tidak ada alam lanjutan dari alam sebelumnya. Sayang sekali manusia kebanyakan memang terlalu tergiur dan berminat pada wadak atau materi di dunia sehingga cakrawala rohaninya ketutupan dan lebih ngeri lagi jika runtuh. Dan setelah sepuluh tahun lebih kau meninggalkan kami, hari ini aku semakin merindukan manusia sepertimu, sebagai teman di tengah kesepian hidup ini. 

Sewaktu sepupuku itu meninggal, aku lihat di inbox/kotak pesannya di Facebook (sekarang "Meta") dan timeline/dinding berandanya jadi kekuatan dan pengetahuan baru untukku, tidak mengira begitu dalam kesan-kesan yang teman-temannya sampaikan di sana. Ada yang rajin menulis catatan keseharian/kehidupannya semasa kuliah di linimasa Facebook sepupuku itu, dan terakhir sampai 2018 aku lihat dia masih memberi ucapan selamat ulang tahun di sana, di samping keluarga sepupuku juga. Pernah terlintas rasa iri pada sepupuku itu, kesimpulan waktu itu adalah banyak orang yang sayang kepada sepupuku, dan aku bayangkan bagaimana denganku kelak, adakah yang sayang kepadaku?. Itu konten pikiranku waktu itu, tetap dengan memungkasinya bahwa sepupuku dek Hanif memang benar-benar manusia yang baik hati. Banyak nomenklatur yang bisa disematkan selain baik hati, tetapi menurutku kata baik hati itu cukup untuk mengakui kemanusiaannya, bahwa dia benar-benar manusia sejati. 

Hal yang baru juga adalah ketika empat puluh harinya atau haul yang pertama aku agak lupa, pakdeku bilang "putuku ae wani mati, mosok aku ora wani!" sambil sedikit sesegukan. Mendengarnya aku tersentak dan sampai hari ini aku tetap mengingat peristiwa itu berserta yang melingkupinya. Dan terakhir aku menangis mengguguk adalah ketika waktu dia meninggalkan kami semua. Di waktu yang sebentar lagi akan mengadakan buka bersama bareng kawan-kawan kamar pondok di rumah simbahnya atau pakdeku. Di waktu yang sama ketika dia kecelakaan aku bicarakan dia bersama seorang teman sekolah tentang kebaikan-kabaikannya, untuk itu aku sangat yakin dan bersaksi bahwa sepupuku dek Ihda Hanif Ramadlan adalah benar-benar manusia yang baik hati, dia Husnul Hayat. Dan firasat-firasat lain yang aku terlambat menyadarinya ada semua untuk menjawab pertanyaanku dan lain-lain. Sebuah kejadian yang tidak terduga sama sekali. Itulah kehidupan yang Allah berkalam dalam Qur'an-Nya "di depanmu gelap.." (Al-Isra : 1). Kita tidak pernah tahu apa yang ada di depan, maka Tuhan menyuruh kita untuk selalu bertakwa, waspada kepada apa pun saja. 

#Selamat Ulang Tahun dek Hanif, kami selalu mengingat dan menyayangimu. 

Di- 23.31 WIB
Sinoman, Pati, 18 Maret 2022
Share:

Selasa, 15 Maret 2022

Puncak Karya Sang Master


Diwaktu yang bersamaan aku baca dua karya atau katakanlah puncak karya dua orang yang menurutku master dibidangnya. Yaitu "Kitab Lima Lingkaran" Miyamoto Musashi dan "Seni Mencipta Puisi" Iman Budhi Santosa, secara garis besar keduanya menjelaskan tentang kiat-kiat atau panduan dalam meniti laku hidupnya masing-masing. Yang Musashi membuka pemahamannya perihal laku siasat jurit berpedang dan mas Iman soal mencipta puisi. Aku tidak benar-benar mengerti kualitas sejati keduanya, tetapi dari pemahaman awamku keduanya dapat sinambung dan melengkapi. 

Pertama aku coba buka dengan Musashi lewat "Kitab Lima Lingkaran"-nya yang ternyata rasa-rasanya ajaran atau laku siasat juritnya itu sama dengan istilah atau wawasan orang Jawa yang namanya "Patrap" yang artinya menurut mas Iman 'perilaku yang terukur'. Maka, melalui masterpiece-nya yang dibagi 5 bab lingkaran itu adalah keseimbangan dan pancer terhadap laku hidup. Musashi agak kesulitan menjelaskan pahamnya sebab dia tidak bisa menemukan rasa bahasa yang dapat mewakili perasaannya, selain juga laku siasat itu memang lebih banyak dipraktikkan, bukan hanya dipahami sebagai teori. Hal itu yang menyebabkannya sering mengingatkan di akhir bab dan sub bab dengan kalimat "kalian harus pelajari/kuasai betul ini".

Jadi, bagaimana dia mengajarkan laku siasatnya dengan menghubungkan atau menganalogikan dengan memahami laku pekerjaan lain semisal tukang kayu, petani, atau pedagang, juga seniman. Musashi mengatakan laku siasat jurit tidak bisa dikuasi begitu saja, harus juga memahami laku siasat lainnya supaya mengerti betul berbagai laku dari banyak profesi katakanlah. Dia menjelaskan serta menggambarkan bagaimana perperang dengan berbagai alat perang (kebanyakan pedang dan tombak) sampai letak strategis yang menguntungkan diri, dan mengerti sikon juga mental lawan. 

Dia juga mengatakan, sejauh yang aku tangkap jangan sampai ada keraguan dalam menjalani laku siasat jurit, ketika hendak membunuh seseorang, maka lakukan dengan keyakinan penuh karena jika tidak tentu itu bukanlah laku siasat jurit. Kata lain, ketika kau ragu-ragu dalam membunuh seseorang, maka kau telah menciderai keyakinan yang kau bangun sendiri melalui laku siasat jurit itu. Ada banyak sub-sub tema dan laku yang tidak mungkin aku jelaskan semua. Inti dari segala yang disampaikan setidaknya menurut pemahaman awamku memang memiliki keterkaitan dengan unen-unen Jawa yang berbunyi "Patrap" tadi. Yaitu keseluruhan dari laku adalah mengerti esensi, proporsi, dan presisi atau yang kata mas Iman adalah perilaku yang terukur sekali. Patrap. 

Dalam pandang lain, Musashi ini dapat diibaratkan juga sebagai senimannya ronin yang kemudian samurai. Ahli berpedang yang menganut aliran dua pedang. Yang saking tingginya keahlian itu membuatnya dapat membaca dua gerak tangan pemukul bedug yang kemudian mengilhami jurus kembar dua pedangnya. Tak lepas dari pengalaman berperang dan bertemu guru yang punya ilmu lebih tinggi lalu jadi muridnya dan dia pernah laku tirakat dijantur dalam kamar hingga dapat mendengarkan detak jantungnya dan suara sunyi angin. Selama bertemu dengan guru-guru yang ilmu sunyinya lebih tinggi dia pun terus mengalami peningkatan kualitas dirinya. Lalu ketika dia berada di puncak kehidupannya dia menulis "Kitab Lima Lingkaran" dan menjadi salah satu samurai legendaris di Jepang. Bahkan menurut pak Mustofa W. Hasyim, selaku samurai Musashi telah menemukan "puisi" lewat jalan pedang. 

Seni mencipta puisi, menurut mas Iman Budhi Santosa adalah belajar memandang dan mencatat apa-apa yang dilupakan orang. Tentu saja itu interpretasi awamku setelah membaca buku mutakhirnya. Aku berusaha mencatat dan belajar dari dua orang master yang sampai di akhir hayatnya telah menyelesaikan karya pamungkas sebagai mana laku kesejarahan hidupnya. Yang mengingatkanku juga oleh sebagian lain termasuk Syekh Nursamad Kamba juga mengkhatamkan buku terakhirnya sebelum beliau wafat (Mencintai Allah Secara Merdeka), dan mungkin banyak lagi lainnya hal-hal demikian. 

Musashi dan mas Iman dalam hal ini bagiku telah menyelesaikan laku sebagaimana hidup mereka dulu. Membuat karya mutakhir sebelum ajal menjemput, meski tidak tahu kapan momentum (ajal) itu, tetapi se-rasa-rasanya menurutku mereka menemukan sesuatu yang harus ditelurkan sebelum habis waktunya. Maka, lahirlah sebuah karya pamungkas dan paripurna dari mereka. Walaupun sebagai samurai, Musashi mungkin telah menyelesaikan pertarungan atau duel terakhirnya, namun yang mengesankan di masa tuanya ia akhirnya memutuskan untuk menulis sebuah kitab atau buku yang melegenda "Kitab Lima Lingkaran".

Mas Iman adalah pribadi Jawa yang betul dapat dilihat dari perilaku dan karya-karyanya, pitutur beliau mengisyaratkan bahwa dirinya merupakan orang dan manusia Jawa yang tidak akan meluntur apalagi melupakan ajaran-ajaran yang telah mendarah jiwa dalam laku hidupnya. Lihatlah sebagian besar karya-karyanya adalah laku internalisasi dan manifestasi dari nilai-nilai Jawa, ditambah ketika beliau ketemu dengan dunia puisi, negeri yang diciptakan Umbu di tengah-tengah antara Tugu dan Keraton, membentang langit sabana yang luas yang memungkinkan kuda-kuda meringkik, ucap Sapardi DD dalam buku Metiyem. 

Kecintaan dan kegemarannya mendalami nilai-nilai Jawa mengilhami mas Iman untuk menciptakan karya-karya dari wisdom yang telah dilupakan bangsanya. Mengangkat mutu dan kualitas sebenarnya dari pengaruh ilusi-ilusi global yang menjangkiti manusia zaman mutakhir. Buku "Seni Mencipta Puisi" lahir dari seorang manusia yang bahkan disekitar "rumah" kontrakannya (sor sawo) mungkin saja tak banyak yang mengenalnya, di kota yang katanya surganya seniman sastrawan, titik temu budaya dunia yang saling bersapa, namun kualitas dan nilai-nilai yang diberikan, dishodaqohkan terbilang sunyi untuk merasuk dalam jiwa anak-anak bangsanya. 

Di sebagian dirinya ada laku puisi yang telah merasuk begitu dalamnya, sesampainya menciptakan negeri puisi bersama Umbu dkk, seberhasilnya dalam dunia perpuisian, berbagai prestasi dan pencapaian-pencapaian telah diduduki, tapi ia tinggalkan semuanya, bekerja jadi ambtenaar (PNS) di Semarang untuk menjalankan kewajiban mengurusi keluarga dll, yang kemudian bertugas dipindah-pindah sampai Lampung Sumatra sana. Selama 16 tahun kiranya menjalani kariernya sebagai PNS, bekerja formal bertahun-tahun itu pula akhirnya beliau tinggalkan. Kembali ke pangkuan Yogya, ada yang terus meraung-raung dalam diri Iman, Ia ingin jadi penyair betulan bukan siang pakai dasi malam telanjang bersama kata, begitu kata Muhidin dalam esainya di Mojok.co. 

Kesetiaan diri itu pula yang membuatnya akhirnya memuncaki karyanya dengan "Seni Mencipta Puisi". Ada tiga (3) hal yang menjadi garis besar dari buku itu; Niteni, Niroake, Nambahi, ketiganya terinspirasi dari ajaran Ki Hajar Dewantara di Taman Siswanya. Kemudian mas Iman mengkreatifi dengan pemahamannya melalui contoh karya-karya puisi dari penyair-penyair tanah air, ditambah pula contoh cerpen dan esai. Secara teknis hampir sama dengan pemaparan Musashi, jadi ada banyak sub-sub tema yang disiapkan untuk mendalami laku puisi itu, semisal belajar dari karya-karya penyair lain, mempelajari momen puitik, mengamati kehidupan, mencatat hal-hal yang dianggap sepele atau sederhana yang dijadikan 'tabungan' dalam mencipta puisi. Maka dengan metode tiga M itu kesemuanya dilakukan bersamaan untuk mencipta puisi. 

Ada hal yang juga sama dengan penjelasan Musashi, rasa-rasanya menurutku mas Iman lebih mudah menjelaskan jika sebenarnya mencipta puisi adalah karena ia mewujud sendiri. Agak kesulitan sebenarnya penyair menjelaskan proses kreatif itu, sebab puisi lebih suka mewujud sendiri, begitu kata mas Iman dalam buku "Kalakanji" meski di buku "Seni Mencipta Puisi" lebih menekankan pengayoman dan penjelasan teknisnya, tetapi menurutku mas Iman lebih mudah menciptanya ketimbang memaparkan seperti itu. Yang aku lihat beliau bershodaqoh dan mengatakan kira-kira seperti itu salah satu caranya. Dan yang tidak terucap adalah puisi itu lebih suka mewujud sendiri. Untuk menjelaskan hal itu ialah sesuatu yang dibangun masing-masing oleh manusia, entah intens mengasah batinnya, perilaku sosialnya, rajin mengamati kehidupan, kegelisahan dan penderitaan yang memuncak, dan lainnya. 

Terlepas dari ketidaktahuan akan ajal seseorang, jika naluri alamiahnya manusia itu terus "bergerak" entah bekerja, cari ilmu, atau mencipta sesuatu, maka bagaimanapun mereka akan tetap seperti itu. Dan memang seringkali ada kecocokan antara apa yang dilakukan manusia sebelumnya hingga menjelang momentum ajalnya. Mungkin juga bisa sebagai doa tentang apa yang diyakini dan dijalaninya, seperti Soe Hok Gie dulu pernah berkata, "Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur" dan itulah yang terjadi padanya di Mahameru, puncak Semeru. 



Share:

Senin, 28 Februari 2022

Tanpa "InsyaAllah" Aku Gagal


Baru saja aku alami suatu pengalaman yang entah relate dengan  pengalaman lain di suatu waktu. Pernah aku mendengar seseorang bercerita mengenai Nabi Musa yang mengeluh karena perutnya sakit, dan Allah menuntunnya untuk naik ke bukit dan makan helai-helai daun, tetapi belum sampai di tempat perutnya sudah sembuh. Beberapa saat ketika berjalan Ia kembali mengeluh atas perutnya yang melilit, namun tanpa peraduan lagi kepada Allah Nabi Musa langsung saja mencari beberapa lembar daun yang di rekomendasikan sebelumnya untuk segera dimakan dan sampai berhelai-helai daun tapi tidak kunjung sembuh perutnya. Kemudian ia mengeluh kepada Allah dan dijawab oleh-Nya dengan bahasa sederhana tentunya "Emang kata siapa daun bisa menyembuhkan penyakit Sa Musa? yang awal tadi kamu minta kepada-Ku maka aku izinkan, tetapi berhubung yang kedua kamu tidak minta kepada-Ku dan langsung makan daun ya tidak mungkin sembuh tanpa Kuizinkan".

Ada lagi kisah mengenai dibangunnya tembok besar oleh raja Zulkarnain dalam menghadapi Ya'juj Ma'juj, seseorang pernah bercerita bahwa ketika menghadapi kaum Ya'juj Ma'juj, raja Zulkarnain membangun sebuah benteng/tembok yang besar dan kuat terbuat dari besi dan tembaga yang sangat panas sehingga sangat sulit untuk di tembus. Mungkin beberapa kali gagal Ya'juj Ma'juj menjebol benteng tersebut sampai pimpinannya mengatakan "InsyaAllah" besok jebol. Dan benar. 

Aku hanya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu di kehidupan ini ada yang mengatur sehingga kita bisa ingat siapa subjek utamanya. Dua cerita tadi mengajarkan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan posisi manusia sebagai Nabi atau kaum terkutuk katakanlah, menurut konsep-konsep yang kita pahami. Asal ingat dan minta izin kepada Tuhan-lah yang akan bisa mengubah jalannya kehidupan. Hanya dengan berkata "InsyaAllah" kaum Ya'juj Ma'juj disukseskan misinya, dan karena kelalaiannya menyebut/minta izin kepada Allah Nabi Musa tidak disembuhkan sakit perutnya. 

Dan mengenai ini aku baru saja mengalaminya, seperti yang aku nyatakan di mula tadi. Bahwa aku katakan seumpama jadi atau tidaknya seseorang mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu tidak mempengaruhiku dalam keputusan yang aku ambil, aku tetap berpijak pada diri dan keputusanku (konteksnya soal menghadiri undangan kawinannya kawan hari ini Senin, 28 Februari 2022). Dengan tanpa mengatakan "InsyaAllah" aku gagal menjalani keputusanku. Ketika aku gagal di situlah aku teringat cerita tadi, bahwa segala sesuatu tidak selalu benar menurut kita secara ilmu atau ragam perkiraan macam-macam. Tatkala Allah bilang "Tidak" maka itulah yang terjadi. 

Tetapi kita boleh meyakini dan belajar bahwa dengan menyebut InsyaAllah, maka jalan ke depannya InsyaAllah lebih mantap dan yakin. Karena kebodohan dan kelalaianku, juga mungkin kesombonganku aku jadi gelap dan tidak ingat ada subjek utama yang menguasai jalannya kehidupan. Untuk menambah keimanan, keyakinan, dan kemantapan ayat Qur'an pun menjelaskan hal serupa tepatnya di surat Al-Kahfi hal ini dijelaskan;

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, "Aku pasti melakukan itu besok pagi,""
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 23)

"kecuali (dengan mengatakan), "Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.""
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 24)

Share:

Minggu, 27 Februari 2022

Automasi Diri


Entah di hening ke berapa setelah subuh melepas kepergiannya, ketika hari memulai pagi di tahun ke 27 aku agak intens belajar kepada wayang. Seperti hal-hal lainnya, terbilang terlambat dalam memahami dan belajar sesuatu, tetapi jua tak membuatku sedih sementara jika telah mendapat "Panggilan" itu seringnya bisa awet dan mendalami lagi. 

Entah bisa dibilang untuk belajar kepada kearifan, kebaikan, keburukan, cinta, dan asal usul budaya yang jadi jiwa suatu bangsa entah yang lain-lain. Atau mungkin bisa juga aku katakan untuk mempelajari kekayaan sastra budaya untuk meningkatkan bobot karyaku ke depan. Entahlah, semua bisa diasumsikan dan diperkirakan, setidaknya aku tidak dan jangan sampai berhenti pada benda atau materi yang membelenggu kehidupan manusia. 

Ada rasa bahagia yang membesit dan tidak cemas, mengapa di usiaku yang sekarang bukannya rajin bekerja dan sesegera kawin seperti kawan-kawan lain tetapi malah makin penasaran dan haus akan sesuatu yang begitu puitis untuk diungkap. Kehidupan itu sendiri. Bahkan sampai kini pun, hal-hal yang pernah aku katakan dan selami yang teman-teman menyebutnya idealis belum atau tidak mewujud secara nyata. Aku pernah bercerita kepada teman bahwa ada sesuatu dalam diriku yang bekerja secara otomatis, mekanisme yang mengatur metabolisme atau apa itu namanya yang produknya dapat automatik mewujud sendiri ketika kebanyakan aku tidak menyadarinya. 

Misalnya apa yang aku jalani dan pelajari saat ini, Sastra, nyatanya sudah ada embrionya sejak dulu masih kecil. Dahulu aku suka mengarang, dan memanjangkan akronim, memberi julukan kepada teman-teman dll. Sewaktu SD aku pernah disuruh teman untuk menggerakkan hidung dan kuping yang aku tidak tahu bagaimana cara tubuhku belajar, namun otomatis saja aku lakukan dan bisa. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, yang bisa aku katakan hanya itu mewujud sendiri, otomatis. Sampai aku pernah bekerja sebagai wartawan pun hal itu tidak lepas dari apa yang pernah aku alami. Misalnya waktu sekolah dulu aku suka baca-baca artikel opini, kolom, komik dll di koran sampai koran bungkus nasi yang aku anggap apik aku pun menyimpannya. Semua ada embrionya yang menuntunku kembali ke jati diri. 

Atau penjelasan yang lain adalah pasti di dalam kehidupan menyimpan banyak hal dan rahasia, termasuk manusia itu sendiri. Manusia adalah cakrawala dan relung-relung sunyi, serta labirin-labirin pekat yang masih jadi misteri kehidupan. Maka, tidak ada cara lain selain terus berjalan dan terus belajar yang orang jawa sudah menemukan wisdom itu sekian abad dulu, terus melaku lan tansah lelaku. 

Terlepas dari ketidaktahuan ilmu yang menyediakan semua itu, diam-diam aku meyakini bahwa manusia sanggup merasakan, belajar, dan mengolah sendiri sesuatu yang mungkin ada dalam jarak dan ruang lingkupnya melalui pengalaman-pengalaman entah batin atau nyata, entah sadar atau tidak pasti ada yang bekerja di dalam diri kita yang nantinya akan automasi pada waktunya. Otomatis. 

Hingga di tahun 27-ku kini aku malah penasaran dengan wayang pun aku maknai sebagai sesuatu hal yang wajar saja jika melihat konteks yang aku gariskan tadi. Ketika aku bilang panggilan dan sering menyebutnya hal itu karena menurutku saat orang merasa terpanggil, maka akan ada banyak pintu-pintu yang terbuka, salah satunya pintu ilmu. Pernyataan ini nyambung dengan adagium "Di setiap ada kemauan pasti ada jalan" dan banyak lagi yang bisa dijelaskan jika kita sabar dan telaten mengalami dan mendalami kehidupan. 
Share:

Sabtu, 12 Februari 2022

Alarm Batin


Tulisan ini tidak untuk apa-apa hanya sedikit refleksi saja berikut mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan. Sebelum menulis karangan ini aku sudah dapat ide lebih dulu yang mungkin akan menghubungkan bagaimana aku bersikap dan sedikit menceritakannya kembali, oleh sosok yang pernah aku kenal melalui tulisan-tulisannya. Mungkin juga karena kemalasan dan kekurangan referensi aku hanya mengenalnya sedikit lebih tahu. Ialah Gie, atau Soe Hok Gie. 

Secara umur aku terbilang lebih beruntung daripadanya, karena aku telah sampai pada usia 27 tahun, sementara Gie hanya cukup di usia 27 tahun minus sehari, katakanlah 26 menjelang ulang tahun ke 27. Sehari sebelum ulang tahunnya ia meninggal di puncak gunung para dewa, Semeru. Tetapi bagaimana aku bisa yakin dapat menjelaskan bahwa aku memang lebih beruntung daripadanya, usia hanya ukuran dan hitungan kasar saja. Sedang jika dalam 26 tahun hidup melakukan segala sesuatu yang luar biasa, bukankah lebih baik ketimbang umur yang panjang namun hampa. 

Dan tahulah kalau memang aku tidak lebih beruntung dari hanya sekadar umur saja. Dia pernah melakukan hal-hal yang menarik dan mengagumkan di usianya yang saat itu masih muda. Bisa juga dibilang prestasi, bisa dibaca sendiri di buku-bukunya, yang ingin aku ceritakan adalah apakah usia membebani atau tidak? Seringkali orang mengatakan kalau sudah berumur atau masuk usia matang lebih baik melakukan sesuatu yang umum dilakukan orang, misalnya kawin atau menikah, dan juga bisa dipakai untuk mencipta sesuatu yang baru, entah karya dll. Jadi usia bisa digunakan sebagai katalisator dan alarm batin dalam melakukan sesuatu hal. 

Namun bagi seorang pejalan usia/umur adalah hanya  gambaran angka-angka atau rentang waktu/kesempatan yang diberikan Tuhan di dunia?. Sehingga manusia dapat memanfaatkan waktu itu jadi lebih bermanfaat dan bermakna. Bahkan untuk 10% saja dari Gie sepertinya aku gagal dan tidak mencukupi berkreasi dan berkarya di usia yang sama. Aku tidak beralasan perihal keadaan atau kecerdasan, keduanya sama-sama mendukung jika yang bersangkutan aktif dan rajin mengasah. 

Aku ingat pada usia 26 lalu aku tulis tulisan syukur ini di depan kontrakan Madukismo antara bakda maghrib hingga menjelang isya. Setahun ini, dan tahun-tahun yang berlalu terasa kosong dan hampa, karena aku terus menerus merasa gagal dan tidak ada apa pun yang bisa aku ceritakan, apalagi aku banggakan. Walau mainstream-nya tidak seperti itu juga. Tetapi hal lain yang menggugah juga adalah bahwa usia sebagai piweling atau pengingat di kala kita terlalu mencakrawala atau malah diterjemahkan anak-anak sekarang "halu" atau apalah yang lain-lain. 

Bagaimanapun aku setuju itu, sebagai pengingat bahwa aku tidak bisa berada dalam usia yang sama atau muda terus, namun semangat dan jiwa adalah rohani sendiri yang tak dapat diukur seperti umur. Jadi cakrawala tetap menjadi abadi dan tak lekang usia. Sebagai pengingat di kala aku salah-salah dalam bertindak, sebagai piweling ketika diriku dihempaskan oleh keragu-raguan dan ketidaktegasan dalam menjalani kehidupan. Ulang tahun bukannya sehari saja, ialah memori yang dibangun dalam kesadaran batin dan badan. 
Share:

Minggu, 28 November 2021

Takkan Pernah Mati


Berganti-ganti hari dilalui dan yang terjadi tetap repetisi untuk dikatakan lagi dan lagi, apa sudah tidak kreatif lagi dalam pergaulan sehingga pernyataan mengecewakan selalu saja terulang. Dalam kesepian itu bahkan aku sampai tanya kepada teman di Pati mengenai kenapa juga sampai sekarang aku belum mendapat "sarang angin", sebenarnya aku tahu itu bukanlah hal yang harus kutanyakan pula, sebab tahu pula jawabannya, hingga siapa pun teman yang dekat aku pun mengatakan pertanyaan-pertanyaan yang mirip-mirip saja. Sampai aku kepikiran kehidupan jalanan lebih baik dari kehidupanku sekarang, yang melelahkan jiwa dalam pekerjaan, namun masih saja bertahan. Keadaan yang mendesak membuat orang berpikir ‘aneh’ karena juga pertimbangan jadi nomor dua, tetapi jika memang jiwa itu sudah meledak aku pun tiada menyalahkan asal tetap tangguh dan kuat menjalaninya dengan sorot mata tajam dan pikiran jernih dan lagi hati tenang.

Aku selalu kagum kepada orang-orang yang berani menjalani hidupnya dengan tekad menantang dunia; betapa besar panggilan itu hingga membuat penyair Iman Budhi Santosa rela melepas jubah ambtenaar atau pegawai negerinya yang disandang belasan tahun untuk mengasuh anak puisinya, Ahmad Tohari berani ‘nganggur’ meninggalkan posisi redaktur Harian Merdeka yang baru satu setengah tahun dijabat demi menuntaskan “Ronggeng Dukuh Paruk”nya, Pramoedya yang hampir separuh hidupnya dipertaruhkan di dalam penjara hingga keluar tetap memiliki pikiran jernih dan hati yang suci tanpa dendam terhadap orde yang menyiksanya, ada Danarto yang disebut sastrawan seniman sufi bahkan untuk menjalani hidupnya serba pontang-panting dan tiada dapat santunan dari negara hingga tidak dikenali orang-orang semasa hidupnya, Nh Dini selama dua puluh tahun tidak bisa membeli buku karena masalah finansial, bahkan kedua beliau itu beserta mas Iman  hanya ‘kos’ di tempat, pun penyair besar Rendra rumahnya saja di beri oleh Setiawan Djodi dan tiada kesampaian impian membeli mobil Innova sampai wafatnya, sampai Tan Malaka yang dikhianati dan dibunuh bangsanya sendiri tetap mencintai tanah air Indonesia dalam gagasan perjuangan “Merdeka 100%” miliknya.
 
Kehidupan ini diisi oleh manusia-manusia tangguh, manusia-manusia setengah dewa yang tidak begitu memperdulikan sikap penghargaan atau penghormatan orang lain terhadap dirinya,  mereka adalah manusia-manusia pemenang yang rasa-rasanya ‘tidak perlu’ melewati mizan atau hisab besok-besok di hari yang dijanjikan, sebab dunia telah meghina begitu rendahnya dan menginjaknya dengan sangat sadis. Aku kagum kepada sikap mulia dan tekad beliau-beliau itu, gema mereka selalu menggedor-gedor jiwaku, aku tidak bisa meninggalkan manusia-manusia cahaya itu, aku bersama kalian manusia-manusia hebat, berharap Tuhan melimpahi karunia dan rahmatnya kepada kalian semuanya, aminn.

Yogyakarta, 6 November 2021
Share:

Kamis, 25 November 2021

Pendekar dan Bunglon


Kadang-kadang aku berpikir jika menjadi pendekar dalam arti sesungguhnya, semisal pesilat, samurai, atau apa pun namanya lebih baik ketimbang berada di dalam arena globalisasi yang terombang-ambing tak kejelasan seperti ini, perjuangan yang masihlah setengah-setengah. Jika pendekar beneran, maka jelaslah arena pertempuran dan peperangannya, berikut segala macam yang dapat dipelajari selama kehidupannya itu. Tetapi menjadi klub modernisasi ini membuat orang jadi bingung dan tantangannya begitu sulit, arenanya yang tidak terang, terkadang kita sangka baik, tetapi nyatanya lain hati, disangka mencari ilmu yang ada malah cari pekerjaan, sepertinya bertetangga, rukun kampung, dan bernegara tetapi semuanya adalah perihal jual beli dan materialisme.


Entah apa namanya atau nomenklatur yang pas untuk seorang yang berada di tengah-tengah itu, disebut manusia terlalu prima jenius, namun disebut binatang juga kadang-kadang ada akal dan nuraninya. Betapa perjuangan saat ini begitu berat sekali, ikut mainstream global jadinya berhala, tetap menjaga idealisme akan digempur dunia, kompromi atas keduanya disebut tidak punya pendirian. Zaman dahulu jelas mana pendekar, mana petani, mana negarawan, mana begawan, mana resi, mana empu, kaum sudra, kaum kesatria, kaum waisya, dan brahmana. Semua jelas dan memang ada semacam tingkatan atau level seperti itu, biar pun manusia yang buat tetapi di zaman itu pembagiannya sangat kentara dan terang berikut fungsi dan tugasnya masing-masing.


Agaknya zaman sekarang? Seperti bunglon semua, tapi hewan itu masihlah lebih baik karena murni untuk bertahan hidup dari predator pemangsa atau menghindari bahaya. Jadi bagaimana untuk tetap mengepal tangan dan mengangkat tinju ke atas kalau-kalau malah disebut radikalis, diam dan bertahan berarti konservatif, berusaha kreatif dihina dan ditekan jiwanya. Semua arah yang mengepung ini bisa jadi apa saja, kita semua adalah gas yang siap jadi air, kadang beku dan menyublim kapan saja, betapa sulitnya hidup kini. Aku merasa di tengah-tengah keadaan yang tidak menentu, aku katakan kepada kawanku aku tidak bisa dikotomi, biar dikata idealis, namun aku juga realistis, jadi aku tidak bisa hidup di salah satu opsi itu. Maka, pemahaman yang ada sekarang hanyalah tetap menjaga kewarasan dalam perjuangan yang konsisten, memang berat, tapi aku membuat pagar hidup untuk tidak kendat atau mati karena kesalahanku sendiri. Itu dulu.

Share:

Selasa, 16 November 2021

Gagal Manusia


"Pada sebuah pertemuan, 
memancing banyak perkara
Hingga rahasia hilang dipusaran sunyi 
Di situ aku gagal sebagai manusia.."

Memang aku makin bertambah pengetahuan sabar dan mungkin kerelaan, berjalan aku terus tetap saja tiada yang benar-benar tahu, paham, bahkan mengerti suatu keadaan. Sehingga dengan terpaksa pengakuan lahir secara prematur dan terseok-seok pada tubuh yang tak mengenal jiwa, hilang begitu saja. 

Saat tahu waktu seakan lebih dari dunia seisinya, berpacu itu bisa wajib, namun patrap dan empan papan adalah arah yang lebih baik. Tiada kuat menahan beban, tetap berpegang pada lembut doa-doa, yang tak ada banding jika ibu mengumandangkannya. Mempelajari senyum dan ikhlas sampai tanpa cacat, ah begitu berat betul, tapi mindset Tuhan meringankannya "Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan" (Al-'Ankabut 64).

Sebagai yang mengarah ke ranah bahasa, sastra, dan literasi aku sangat gagal menjelaskan kepada semua sehingga teman-temanku sendiri kesulitan menilai bagaimana sebenarnya keadaan itu. Toh bukannya sok-sokan, tetapi  terkadang rahasia memang lebih aman di kesunyian, dan biarlah semua berjalan sealamiah dan semengalir mungkin, kendati seorganik nampaknya. 

Titik tolak untuk mengukur judul ini adalah bahwa peran bahasa sebagai pengantar komunikasi haruslah diperhatikan. Dan satu fenomena tadi merupakan sedikit saja dari segala hal yang berhubungan dengan koneksi dan dialektika dalam pergaulan di berbagai lini dan segi. Gagal manusia bukanlah justifikasi kepada kegagalan dalam mencapai kesimpulan hidup sebagai seorang manusia, namun potensi itu masihlah bergerak dan maju ke depan, tidaklah hasil akhir untuk parameter kelayakan, kemanfaatan sebagai otentisitas manusia. 

Manusia sangatlah dialektis dan senantiasa bergerak, artinya bisa belajar dan mengalami sesuatu, itulah mengapa aku tidak pesimis dalam hidup ini. Dan sebenarnya aku tidak membicarakan siapa pun selain diriku sendiri, aku tidak punya data dan terasa kurang perlu jika hanya untuk membahas, mempersoalkan, dan apalagi mendiskusikan di dalam tulisan ini tentang orang lain, meski masih ada sedikit menyinggung untuk menjelaskan sesuatu hal. Sepenuhnya adalah soal kegagalanku yang sejauh ini belum bisa menguraikan kejadian dalam hidup, sampai-sampai banyak temanku memandangku aneh. Sudahlah, bukan masalah besar itu. 



Share:

Sabtu, 16 Oktober 2021

Membaca (Manusia) Rendra Lewat Al-Quran


Kemarin dan esok adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja. 

Langit di luar 
Langit di badan
Bersatu dalam jiwa. 

Rendra
Jogya, 1975


Apa menurutmu Rendra sadar dan mengetahui jika sajaknya adalah cermin dari apa yang dikatakan Al-Quran?. 

Tidak perlu jawaban untuk itu, sebab bila manusia berlaku dengan jujur dan menjalani kemurniannya, maka segala yang dilakukannya adalah ayat-ayat Tuhan. Bagaimana menjelaskannya sekali lagi jikalau Rendra ternyata diam-diam mempelajari lebih dari yang kita ketahui bersama. Manusia adalah cakrawala beserta rahasia nan sunyi. Boleh saja engkau rajin menceritakan segala sesuatu terkait dirimu, namun rahasia itu sendiri tidak bisa dibeberkan begitu saja, maksudnya adanya ketidakpahaman, dan tiadanya pengakuan menurutku juga berarti rahasia. Terang saja hal itu tidak tersebar secara masif. 

Sebagai yang pernah Allah firmankan:

"yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha waltangzhur nafsum maa qoddamat lighod, wattaqulloh, innalloha khobiirum bimaa ta'maluun"

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Bagaimana cara menjelaskan bahwa Rendra ternyata memahami ayat ini atau tidak bukanlah sesuatu yang krusial, tetapi kecocokan dan keterikatan perihal yang disajikan dalam sajaknya tidak bisa dilewatkan begitu saja. Baris pertama dalam sajaknya adalah representasi dari Al-Hasyr ayat 18. Caranya memahami waktu sangat berkesinambungan dan terkoneksi nyata dalam Al-Quran.

Al-Quran mengabarkan kepada orang-orang beriman untuk memperhatikan dampak atau akibat dari perbuatannya di dunia. Memperhatikan di sini bisa berarti banyak hal, seperti mengukur, mengira-ngira, mensimulasikan, dan lain-lain. Sederhananya berbagai sebab dari perkara di dunia adalah gerbang dan jembatan untuk menuai akibatnya besok di akhirat. Nah, dengan pemahaman yang sama Rendra seperti dituntun Allah melalui cara berpikir yang serupa dengan Kitab-Nya lewat sajaknya itu. Jadi, jika berkaca bahwa yang namanya Al-Quran itu bukan hanya Alam dan mushaf memang benar adanya. Manusia pun ayat-ayat Allah yang berarti juga Al-Quran (Fussilat: 53). 

Baris/Satar kedua bermakna apa pun dalam kehidupan dapat dimaknai dan dihikmahi, jadi entah baik buruk atau untung rugi dan apa lagi dapat dinilai dengan cara berpikir yang nyegoro, komprehensif, dan adil. Maka, tidak ada parsial atau penggalan yang berpotensi rancu dan kurang dewasa dalam pemaknaan. 

Sedang bait kedua sampai akhir adalah pemanunggalan dan penyawijian jagat kecil dan jagat besar menjadi satu keutuhan. Karena memang segalanya bermula dari Tunggal dan kembali lagi manunggal, ilaihi rojiun
Share:

Kamis, 14 Oktober 2021

Penghinaan Fundamental Bagi Manusia


Ada kawan yang bimbang mengenai pertanyaan dari temannya yang menurutku berpotensi intimidatif. Dia bilang "Kuwe meh lapo nek Jogjo?" 

Sebuah pertanyaan yang menurutku menghina manusia dengan segala kualitasnya. Secara moral pun tidak enak jika tiada cuaca yang dibangun sebelumnya. Memang kenapa jika harus berjuang mati-matian katakanlah? selalu saja orang-orang melihat dari yang nampak saja, aku pun sepertinya tahu apa yang dipikirkan temannya itu, mungkin. 

Maka coba telaah dulu, Yogya bagi orang banyak dikata sebagai tempat belajar, membangun jati diri dan mengembangkan bakat yang terutama kesenian dan kesastraan tumbuh subur di sana, namun bila melihat dari sisi pandang teman kawan kita itu mungkin hanya men-shoot satu pandang saja, katakanlah wadak atau materi. Padahal setahuku dulu dia di Yogya juga cukup mengikuti "pergerakan" baik literasi maupun pergerakan lainnya. Dan lagi, kawanku satu beskem dengan temannya itu. 

Dengan bau Yogya dan kualitas yang jarang dimiliki tempat-tempat lain itu merupakan sebuah kesempatan, kans, dan peluang yang besar bagi manusia yang ingin tetap berproses di situ. Tidak mengherankan juga, temannya itu mestinya punya data dan alasan yang mendasar jika dia sampai bicara seperti itu, misalnya dia melihat teman kita itu sebagai karakter yang belum cukup mumpuni untuk melakukan suatu perubahan, entah seberapa skalanya, dalam hal ini di Yogya. 

Kedua, Yogya dipandang sebagai kota dengan Upah Minimum Kota terbilang rendah untuk ukuran kota madya dan salah satu kota terpopuler di Indonesia. Jadi, melihat dari sudut pandang kawannya itu sepertinya hanyalah soal wadak dan materi. Intinya hanya melihat sekilas dari apa yang terkonsep di akal pikirannya. 

Aku tidak rekonfirmasi kepada empunya yang bertanya, dan tidak perlu juga menurutku, aku hanya menangkap rasa dari apa yang diceritakan kawanku, dan rasa-rasanya aku seperti bisa merasakan intimidasi itu. Aku tidak bisa menganggap ini wajar atau tidak wajar, begitu yang aku katakan ke temanku bergantung bagaimana konteksnya, sebab banyak macam karakter manusia. Meski yang lain menganggap wajar dan bahkan mengatakan lebay, tapi bagiku ini cakrawala. 

Selain itu, pertanyaan di atas pun berlaku untuk semua, artinya pertanyaan "Kuwe meh lapo nek Jogjo" Pun untuk "Kuwe meh lapo nek (di mana pun) saja. Aku merespon ini karena berbahaya menurutku jika pertanyaan tadi menjadi wajar saja dan jadi pertanyaan global tanpa pemahaman dan pemaknaan lebih lanjut. Alih-alih untuk pembelajaran, malah mungkin jadi dogma, maka aku tidak bisa saja nyaman dengan kata 'wajar' wajar saja. 
Share:

Minggu, 08 Agustus 2021

Embun #25


Keindahan adalah aras tertinggi dari pondasi awal yang namanya kebaikan, setelahnya wujud keberlangsungan kebaikan itu diungkap sebagai ilmu dan kemudian terus bertransformasi jadi kebijaksanaan jika telah matang sebagai pengalaman, khatam dengan semuanya maka muncullah kemuliaan. 

Share:

Embun #24


Ada banyak hal puitis yang banyak diungkapkan orang, tapi sedikit orang yang bisa benar-benar mengungkapkanya. Senja atau fajar adalah perihal keindahan yang luar biasa, namun sampai sejauh mana manusia dapat memaknainya, selain hanya pemahaman material.

Share:

Minggu, 01 Agustus 2021

Embun #23


Memberi makna adalah memaknai apa pun meski dinilai tidak bermakna, karena sesungguhnya semua dapat dimaknai dengan dalam dan sublim. Kalau ada sesuatu hal di kehidupan ini yang tidak dapat dimaknai, maka itu menegasikan kalam Allah "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka". 

Dan itu berlaku bagi orang yang berakal, di sini idiom yang digunakan Allah adalah Ulil Albab. Tingkat di mana dalam keadaan apa pun manusia memikirkan kejadian alam semesta. 
Share:

Adoh-adoh Rantau Kerjo Ngene


Pernyataan yang terlontar dari seorang teman di tempat kerja membuatku tertawa sekaligus terhina, terhina, tapi tertawa. Itu kesan pertama ketika aku mendengarnya langsung darinya.

Kata-kata yang muncul di tengah guyonan itu menggugahku menulis ini haha.

"Adoh-adoh rantau kerjo ngene (kasar)"

Intinya seperti itu, dalam kurung aku lengkapi, karena memang itu yang sebenarnya ingin disampaikan.

Apa benar-benar terhina dan tertawa?

Sebenarnya lucu juga jika mengingatnya, sungguh. Dia lulusan SMK langsung kerja di tempat yang sama, aku tidak perlu mengorek jauh tentangnya, jelas yang ia katakan kepadaku, pernyataan polos nan jujur itu membawaku menjawabnya melalui tulisan yang lebih lebar.

Secara umum dan kasar pernyataan tadi membuat asumsi jika lulusan S1 atau alumni kampus mahasiswa sebenarnya sama saja kurang dapat diandalkan, tapi aku beri dia jawaban simpel dan spontan, dan itu memahamkannya. Intinya di tengah pandemi seperti ini pilihanku tidak banyak dalam menentukan pekerjaan, dan di tempatku sekarang jawabannya.

Aku juga tidak menyangkal akan asumsi sarjana dapat diandalkan atau tidak, itu ada koridor lain untuk membahasnya. Soal terhina aku malah tertawa dan justru itulah sebuah hiburan menurutku.


18 Mei 2020

Share:

Embun #22


Menyuap Tuhan bukan karena sambat akan penderitaan, shodaqoh banyak-banyak, dan atau menghibahkan segalanya untuk kehidupan atau sebagainya. Meski menurut susoroku wajar jika manusia sampai sambat perihal penderitaan hidup, tetap saja semua bergantung Tuhan, hal-hal tadi bisa saja menjadi katalis, tapi posisi manusia hanya hamba yang diberi rahmat atau laknat, sebab ridlo atau kafir. 
Share:

Kamis, 15 Juli 2021

Embun #21


Ledakan-ledakan dalam hidupku, pengalamanku, penderitaanku, turut menjadi api pembakar yang MasyaAllah sangat memperkaya dan memperluas jiwa, kepribadian, mentalitas, dan kekuatan luar biasa. 

Kalau boleh menyebut, hidup ini sangat ajaib. Banyak keajaiban yang mengitari kita, bukan hanya masalah yang melingkupi, selain sekaligus dikepung solusi, aku tambahi keajaiban, karena itu nyata. Berulang kali peristiwa dan kejadian tidak logis hingga mustahil menurut kita menjadi sangat nyata dan terjadi dalam hidup, berulang kali pun kita menjadi percaya dengan yakin, bahwa tiada kita lepas dari iman, selain malah semakin bertambah amin dan aman. 

Aku pun sering keceplosan dan kurang bisa mengerem ketika ditanya oleh seseorang perihal peristiwa atau kejadian dalam hidup, tentu saja menurut pengalamanku sendiri. Bukan karena untuk memberi tahu atau mendoktrin dan sebagainya. Aku berusaha otomatis dalam menjalani hidup, bukan karena hasrat atau nafsuku, tetapi berharap ada mekanisme cahaya yang membuatnya otomatis berlaku sendiri. Dan aku tidak menganjurkan pendapatku ini kepada orang. 
Share:

Jumat, 09 Juli 2021

Embun #20


Hidup adalah pembakaran bagi diri sendiri, sebab segala kotoran, kerak, karat, kesalahan, yang menempel dan menjamur, hingga pun mendarah jiwa di diri pribadi akan mendapati pengelupasan sedikit demi sedikit setelah mengalami (pembakaran) itu yang akan fresh lagi. 

Hidup perlu dibakar supaya jadi abu, kelak akan bisa menyusup ke dalam bumi, atau menyerap, dan mengalir di dan ke kedalaman air, bahkan pun akan mengudara dan mengembara di angkasa atau cakrawala. 

Itulah pengalaman sejati..! 
Share: